Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Kasus ISPA Akibat Karhutla Capai 333 Ribu, 75 Ribu di Antaranya Balita

P
Paramitha AuliaEditor: Paramitha Aulia
|13:35 WIB
Bagikan:
Kasus ISPA Akibat Karhutla Capai 333 Ribu, 75 Ribu di Antaranya Balita
Kasus ISPA Akibat Karhutla Capai 333 Ribu, 75 Ribu di Antaranya Balita (Image From: Canva)

PASUNDANEKSPRES.ID - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 21 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75.172 kasus dialami anak berusia di bawah lima tahun atau balita.

Kemenkes Catat 333 Ribu Kasus ISPA akibat Karhutla, 75 Ribu di Antaranya Balita

Kasus tersebut tersebar di 68 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Paparan kabut asap akibat karhutla menjadi perhatian pemerintah karena dapat memperburuk kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tetap tenang dalam menghadapi kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa tidak semua pasien ISPA membutuhkan perawatan inap di rumah sakit karena sebagian besar kasus dengan gejala ringan dapat ditangani melalui rawat jalan.

“Teman-teman juga mesti tahu, ya, bahwa ISPA itu bukan penyakit yang masuk rumah sakit. Itu penyakit infeksi saluran pernapasan, bisa dikasih obat, kemudian pulang. Jadi, rawat jalan, ya,” kata Budi, dikutip iNews.ID, Rabu (28/10/2026).

Menurut Budi, pasien dengan gejala ringan dapat menjalani pengobatan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas. Setelah mendapatkan pemeriksaan dan obat yang sesuai, pasien dapat melanjutkan pemulihan di rumah. Meski demikian, kebutuhan rawat jalan atau rawat inap tetap bergantung pada kondisi klinis dan tingkat keparahan masing-masing pasien.

Budi menjelaskan, pemantauan Kemenkes menunjukkan adanya penurunan jumlah kasus harian dibandingkan periode awal lonjakan. Pada awal peningkatan kasus, jumlah pasien yang tercatat mencapai sekitar 12.000 hingga 13.000 kasus per hari. Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 3.500 kasus per hari berdasarkan pemantauan yang disampaikan pada 26 Oktober 2026.

Penurunan kasus harian tersebut menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan pemerintah. Meski demikian, jumlah kumulatif kasus yang telah mencapai ratusan ribu menunjukkan bahwa dampak kesehatan akibat karhutla masih memerlukan penanganan berkelanjutan.

Kabut Asap Berisiko bagi Balita dan Kelompok Rentan

Kabut asap akibat karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan berbagai polutan yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan tersebut berpotensi memicu iritasi, memperburuk penyakit asma, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Balita menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena sistem pernapasannya masih berkembang. Selain anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta penderita penyakit pernapasan juga berisiko mengalami dampak lebih berat ketika terpapar polusi udara dalam waktu lama.

Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai, menjaga kebersihan lingkungan dalam ruangan, serta mengurangi paparan asap dapat menjadi langkah untuk menekan risiko gangguan kesehatan.

Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, atau gangguan pernapasan yang tidak kunjung membaik. Pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan penyebab keluhan dan memastikan pasien mendapatkan penanganan yang sesuai.

Satu Juta Paket Obat Disiapkan

Untuk memperkuat penanganan ISPA di daerah terdampak, Kemenkes telah mendistribusikan sekitar 500.000 paket obat-obatan ke berbagai fasilitas kesehatan. Pemerintah berencana menambah distribusi sebanyak 500.000 paket sehingga total pasokan yang disiapkan mencapai sekitar satu juta paket.

Selain obat-obatan, pemerintah memastikan ketersediaan oksigen di puskesmas yang berada di wilayah dengan dampak kabut asap tinggi atau zona hitam. Langkah ini ditujukan untuk mendukung pelayanan bagi pasien yang membutuhkan bantuan pernapasan.

Kemenkes juga menyiapkan dukungan terhadap layanan kesehatan di wilayah terdampak melalui 1.691 puskesmas, rumah sakit rujukan, serta 491 rumah oksigen. Kesiapan fasilitas tersebut diharapkan memudahkan masyarakat memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan dan tingkat keparahan penyakit.

Keberadaan puskesmas menjadi penting karena fasilitas ini dapat memberikan pemeriksaan awal, pengobatan, dan penilaian apakah pasien memerlukan rujukan ke rumah sakit. Dengan demikian, pasien yang mengalami gejala ringan dapat ditangani tanpa harus menjalani rawat inap, sementara pasien dengan kondisi serius dapat segera memperoleh perawatan lanjutan.

Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Pemerintah terus memantau perkembangan kasus ISPA sekaligus memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan di daerah terdampak karhutla. Penurunan jumlah kasus harian menjadi perkembangan positif, tetapi tidak berarti risiko kesehatan akibat kabut asap telah sepenuhnya berakhir.

Masyarakat diharapkan tetap memperhatikan kualitas udara, mengurangi kegiatan luar ruangan saat asap menebal, dan memastikan kelompok rentan mendapatkan perlindungan yang memadai.

Jika mengalami sesak napas, kesulitan bernapas, atau kondisi kesehatan yang memburuk, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis. Khusus pada bayi dan balita, perubahan kondisi seperti kesulitan menyusu, napas cepat, atau tampak sangat lemas perlu segera diperiksakan.

Melalui distribusi obat-obatan, penguatan layanan puskesmas, penyediaan oksigen, dan pemantauan kasus secara berkala, pemerintah berupaya menekan dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat. Di sisi lain, perbaikan kualitas udara dan pengendalian kebakaran tetap menjadi faktor penting untuk mengurangi paparan asap serta mencegah bertambahnya kasus gangguan pernapasan.

(ipa)

Berita Terbaru

Wamen Ossy Ajak Kolaborasi para Arsitek untuk Wujudkan Visi Kota 2045

Wamen Ossy Ajak Kolaborasi para Arsitek untuk Wujudkan Visi Kota 2045

Headline49 menit lalu
Dalam Dua Tahun Terakhir, Kementerian ATR/BPN Jangkau 16 Masyarakat Hukum Adat dan Daftarkan 68 Bidang Tanah Ulayat

Dalam Dua Tahun Terakhir, Kementerian ATR/BPN Jangkau 16 Masyarakat Hukum Adat dan Daftarkan 68 Bidang Tanah Ulayat

Nasional59 menit lalu
Deklarasi Damai Pilkades Subang, Kapolres: Beda Pilihan, Persaudaraan Harus Tetap Terjaga

Deklarasi Damai Pilkades Subang, Kapolres: Beda Pilihan, Persaudaraan Harus Tetap Terjaga

Headline1 jam lalu
Wabup Subang Agus Masykur Dorong Pemuda Jadi Pelopor Perubahan dan Manfaatkan Peluang Pembangunan

Wabup Subang Agus Masykur Dorong Pemuda Jadi Pelopor Perubahan dan Manfaatkan Peluang Pembangunan

Headline1 jam lalu
ADVERTISEMENT
Sinopsis dan Jadwal Tayang Film Laut Bercerita, Angkat Perjuangan Aktivis Mahasiswa

Sinopsis dan Jadwal Tayang Film Laut Bercerita, Angkat Perjuangan Aktivis Mahasiswa

Lifestyle1 jam lalu
600 Truk Disiapkan, Peluncuran Program Gentengisasi di Majalengka Libatkan 34 UMKM

600 Truk Disiapkan, Peluncuran Program Gentengisasi di Majalengka Libatkan 34 UMKM

Nasional2 jam lalu
Kasus ISPA Akibat Karhutla Capai 333 Ribu, 75 Ribu di Antaranya Balita

Kasus ISPA Akibat Karhutla Capai 333 Ribu, 75 Ribu di Antaranya Balita

Nasional2 jam lalu
Mahasiswa Gelar Demo 28 Oktober 2026, Ini Daftar 5 Tuntutan Demo Hari Ini!

Mahasiswa Gelar Demo 28 Oktober 2026, Ini Daftar 5 Tuntutan Demo Hari Ini!

Nasional2 jam lalu
Diskon Tiket Libur Nataru 2026/2027 Segera Berlaku, Cek Jadwal dan Ketentuannya

Diskon Tiket Libur Nataru 2026/2027 Segera Berlaku, Cek Jadwal dan Ketentuannya

Nasional3 jam lalu
5 Kebiasaan Kecil untuk Hidup Lebih Baik yang Wajib Kamu Coba

5 Kebiasaan Kecil untuk Hidup Lebih Baik yang Wajib Kamu Coba

Lifestyle3 jam lalu