Kemenkes Sediakan 477 Rumah Oksigen untuk Tangani Dampak Asap Karhutla

PASUNDANEKSPRES.ID - Pemerintah menyiapkan berbagai fasilitas kesehatan untuk melindungi masyarakat dari dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyediakan 477 rumah oksigen di sejumlah lokasi, termasuk puskesmas dan rumah sakit, serta mengaktifkan posko kesehatan darurat di wilayah terdampak.
Kemenkes Sediakan 477 Rumah Oksigen untuk Tangani Dampak Asap Karhutla, Ratusan Ribu Kasus ISPA Tercatat
Langkah tersebut dilakukan menyusul tingginya jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di daerah yang mengalami dampak karhutla. Paparan asap kebakaran berpotensi mengganggu sistem pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti balita dan anak-anak.
Dilansir dari KompasTV, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 314.124 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota terdampak karhutla. Dari jumlah tersebut, sebanyak 70.890 kasus dialami anak berusia 0–5 tahun.
Sementara itu, pada 20 Oktober 2026, tercatat 3.269 kasus ISPA. Data tersebut dikutip dari Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan menggambarkan besarnya kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terpapar asap kebakaran.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono mengatakan, pemerintah telah bekerja sama dengan sejumlah lembaga filantropi untuk menyediakan fasilitas perlindungan kesehatan bagi warga. Bantuan yang disalurkan meliputi masker, oksigen portabel, serta rumah oksigen yang dirancang untuk mengurangi paparan asap.
Menurut Sugiono, rumah oksigen memanfaatkan bangunan yang dimodifikasi sedemikian rupa agar kedap asap sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan di tengah kondisi udara yang tercemar.
Upaya tersebut disampaikan Sugiono di Jakarta, Kamis (22/10/2026), sebagaimana dikutip dari Antara.
Rumah Oksigen Disiapkan untuk Lindungi Warga dari Paparan Asap
Penyediaan 477 rumah oksigen menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memperluas akses layanan kesehatan di tengah kondisi karhutla. Fasilitas tersebut ditempatkan di sejumlah lokasi, termasuk puskesmas dan rumah sakit, serta tempat lain yang disiapkan untuk membantu masyarakat terdampak.
Rumah oksigen dirancang dengan karakteristik utama berupa bangunan kedap asap. Dengan desain tersebut, fasilitas ini diharapkan dapat menjadi tempat bagi warga untuk memperoleh pertolongan kesehatan ketika kualitas udara di lingkungan mereka memburuk akibat kebakaran.
Keberadaan rumah oksigen juga menjadi bagian dari penanganan gangguan pernapasan, termasuk ISPA, yang dapat meningkat ketika masyarakat terpapar asap dalam jangka waktu tertentu. Selain membantu menyediakan ruang yang lebih terlindungi, fasilitas ini mendukung upaya pemerintah dalam menjangkau warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Namun, rumah oksigen bukan satu-satunya bentuk perlindungan yang disiapkan. Pemerintah juga membagikan masker dan menyediakan oksigen portabel untuk membantu masyarakat menghadapi dampak asap karhutla.
Penyediaan berbagai fasilitas tersebut dilakukan untuk memperkuat penanganan kesehatan di wilayah terdampak, terutama ketika masyarakat masih menghadapi risiko paparan asap dari kebakaran yang belum sepenuhnya tertangani.
Posko Kesehatan Darurat Kembali Diaktifkan
Selain menyediakan rumah oksigen, pemerintah mengaktifkan kembali posko kesehatan darurat untuk memperluas pelayanan kepada masyarakat di daerah terdampak karhutla.
Sugiono menjelaskan, pengaktifan posko dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dinas kesehatan, di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan. Melalui posko tersebut, pelayanan kesehatan diharapkan dapat menjangkau warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Pemerintah juga menindaklanjuti laporan dan masukan dari puskesmas maupun fasilitas kesehatan di wilayah terdampak. Kebutuhan berupa peralatan medis, obat-obatan, dan vitamin dikirimkan untuk membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dukungan tersebut diperlukan agar fasilitas kesehatan di daerah tetap mampu menangani warga yang mengalami keluhan pernapasan selama kondisi karhutla berlangsung. Selain itu, keberadaan posko darurat dapat membantu memperluas jangkauan pelayanan, terutama di wilayah yang membutuhkan penanganan tambahan.
Sugiono menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperluas layanan kesehatan ke berbagai daerah terdampak. Perhatian khusus diberikan kepada kelompok masyarakat yang rentan mengalami ISPA, termasuk balita dan anak-anak.
Ia menyebut koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam memastikan kebutuhan masyarakat dapat ditangani secara berkelanjutan.
“Jadi, saya kira koordinasi yang dilakukan cukup baik, dan kita juga akan terus memperluas layanan ini di seluruh wilayah yang terdampak, dengan tentu saja fokus pada masyarakat rentan ISPA,” paparnya.
Pemerintah Siapkan Rp1,235 Triliun untuk Penanganan Karhutla
Di luar penanganan dampak kesehatan, pemerintah pusat menyiapkan bantuan sebesar Rp1,235 triliun untuk mendukung penanganan karhutla. Anggaran tersebut digunakan untuk menunjang berbagai kebutuhan, mulai dari perlindungan masyarakat hingga operasional pemadaman kebakaran.
Sugiono mengatakan bantuan tahap kedua telah ditransfer dan penggunaannya diprioritaskan untuk membantu masyarakat terdampak. Dukungan anggaran ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat penanganan karhutla melalui berbagai langkah yang dilakukan secara bersamaan.
Untuk perlindungan kesehatan, kebutuhan yang ditangani mencakup penyediaan rumah oksigen, masker, dan oksigen portabel. Sementara itu, untuk mendukung pemadaman, pemerintah menyiapkan berbagai perlengkapan bagi petugas yang bekerja di lapangan.
Peralatan tersebut antara lain alat pelindung diri (APD), pompa dan tangki air, selang pemadaman, alat suntik air untuk lahan gambut, serta pembangunan sumur bor. Seluruh perlengkapan itu disiapkan untuk menunjang operasi pemadaman dan membantu petugas menghadapi kondisi kebakaran di wilayah terdampak.
Selain perlengkapan, dukungan logistik dan mobilisasi personel juga menjadi bagian dari penanganan. Pemerintah mengerahkan sekitar 71.000 personel untuk menangani karhutla melalui operasi darat maupun udara.
Operasi udara mencakup water bombing atau pengeboman air untuk memadamkan api dari udara, serta penaburan dry ice sebagai bagian dari langkah penanganan yang disampaikan pemerintah.
Pengerahan personel dan dukungan peralatan tersebut dilakukan untuk memperkuat upaya pemadaman, sekaligus mengurangi dampak kebakaran terhadap masyarakat dan lingkungan.
(ipa)
