Koperasi Merah Putih di Lereng Gunung Prau: Bakal Jadi Destinasi Wisata?

PASUNDANEKSPRES.ID - Bangunan koperasi biasanya ditemukan di tengah aktivitas masyarakat. Namun, ada yang berbeda, Koperasi Merah Putih di Lereng Gunung Prau justru berdiri di kawasan pegunungan Desa Kediten, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tersebut berada di Dusun Bukitsari pada ketinggian sekitar 1.385 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Lokasi seperti ini tentu memunculkan pertanyaan sedehana: mengapa koperasi ini dibangun di kawasan yang secara kasat mata tampak jauh dari pemukiman?
Pertanyaan tersebut muncul setelah lokasi koperasi diketahui berada di area yang tidak langsung terlihat sebagai pusat aktivitas warga.
Mengutip Kompas, posisi bangunan yang tampak jauh dari permukiman turut dibahas dalam informasi mengenai KMP Desa Kediten. Ketua KMP Desa Kediten, Nur Rohman, memberikan penjelasan bahwa jarak bangunan dari rumah warga sebenarnya hanya sekitar 150 meter.
Artinya, lokasi tersebut masih berada relatif dekat dari lingkungan masyarakat meski secara visual tampak berada di kawasan yang sepi.
Persoalan lokasi juga berkaitan dengan status lahan. Nur Rohman menyebut pembangunan tidak menggunakan kawasan hijau maupun Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
LP2B sendiri merupakan lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dipertahankan keberadaannya. Pengalihfungsian lahan tersebut tidak dapat dilakukan sembarangan karena terdapat ketentuan mengenai penggantian lahan dengan tingkat produktivitas yang setara.
Menariknya, kawasan tempat koperasi berdiri memang sejak awal diarahkan untuk pengembangan Desa Kediten. Bahkan, terdapat rencana pemindahan kantor desa dan BUMDes ke area sekitar koperasi.
Koperasi Merah Putih di Lereng Gunung Prau
Koperasi Desa Merah Putih di Lereng Gunung Prau dibangun di atas lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi. Sekitar 1.000 meter persegi digunakan untuk kawasan koperasi, sedangkan bangunan utamanya memiliki luas sekitar 600 meter persegi.
Ukuran tersebut bukan angka kecil untuk sebuah bangunan yang nantinya akan digunakan sebagai pusat aktivitas ekonomi desa. Apalagi, total belanja pembangunannya mencapai Rp1.050.300.500.
Di sinilah pertanyaan mengenai fungsi kawasan ikut muncul. Apakah bangunan tersebut akan benar-benar menjadi pusat kegiatan ekonomi warga atau justru berkembang menjadi kawasan yang lebih banyak bergantung pada aktivitas wisata?
Jawabannya terlihat dari rencana yang disiapkan pengelola.
Nur Rohman menjelaskan bahwa kawasan tersebut direncanakan memiliki camping ground, minimarket, kafe, serta tempat penampungan hasil bumi petani. Artinya, konsep yang disiapkan sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar bangunan koperasi.
Konsep tersebut tentu menarik jika benar-benar berjalan. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada jumlah aktivitas masyarakat, potensi wisata, akses menuju lokasi, serta kemampuan pengelola membuat kawasan tetap hidup setelah resmi beroperasi.
Jika rencana tersebut terealisasi, kawasan KMP Kediten dapat berkembang sebagai titik ekonomi sekaligus tempat singgah wisatawan. Suasana pegunungan menjadi modal tersendiri, terutama karena lokasinya berada di ketinggian 1.385 mdpl.
Akses menuju jalan kabupaten berjarak sekitar satu kilometer. Sementara perjalanan menuju tingkat kecamatan membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Namun, ada satu hal yang masih menjadi tanda tanya: bangunannya memang telah selesai, tetapi operasional koperasi belum berjalan. Pengelola masih menunggu arahan resmi sebelum aktivitas dimulai.
Rp130 Juta Lebih Belum Tuntas, Ada Persoalan Pembayaran
Rencana pengembangan kawasan tersebut masih membutuhkan sejumlah tahapan sebelum seluruh fasilitas dapat digunakan.
Di balik bangunan yang telah selesai, terdapat pula urusan pembangunan yang masih perlu diselesaikan, salah satunya berkaitan dengan pembayaran material.
Total belanja pembangunan KMP Desa Kediten tercatat mencapai Rp1.050.300.500. Dari jumlah tersebut, pembayaran yang telah diterima dari pihak Koramil mencapai Rp920.000.000.
Masih ada selisih Rp130.300.500 yang belum terselesaikan. Nilai tersebut berkaitan dengan pembayaran material pembangunan KMP Desa Kediten.
Sejak awal pengerjaan, pembangunan koperasi melibatkan pihak Koramil. Setelah dilakukan pertemuan bersama pihak Kodim, penyelesaian kekurangan pembayaran kemudian ditempuh melalui pengecekan nota dan koordinasi lebih lanjut.
Pengecekan tersebut dilakukan untuk mencocokkan catatan material serta pembayaran yang sudah berjalan.
Penyelesaian pembangunan KMP Desa Kediten tidak berhenti pada rampungnya bangunan secara fisik, tetapi masih mencakup penuntasan administrasi dan kewajiban pembayaran.
(pm)
