Kualitas Udara di 9 Wilayah Indonesia Memburuk akibat Karhutla, Kalteng Masuk Kategori Berbahaya

PASUNDANEKSPRES.ID - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melaporkan bahwa kualitas udara di sejumlah daerah di Indonesia mengalami penurunan seiring terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bahkan, beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan mencatat tingkat kualitas udara yang masuk dalam kategori berbahaya.
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH/BPLH, Edward Nixon Pakpahan, menjelaskan bahwa memburuknya kualitas udara di sejumlah provinsi diketahui berdasarkan hasil pemantauan konsentrasi partikulat halus PM2,5.
Situasi ini menjadi perhatian pemerintah lantaran paparan polutan tersebut berisiko menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat.
Edward membeberkan perkembangan kualitas udara di sejumlah daerah di Indonesia. Di Pulau Sumatera, kualitas udara di Sumatera Barat tercatat berada pada tingkat tidak sehat. Sementara itu, kondisi di Riau telah masuk kategori sangat tidak sehat.
Adapun Jambi mengalami kondisi yang lebih mengkhawatirkan, dengan kualitas udara berada pada tingkat sangat tidak sehat hingga berbahaya.
"Provinsi Jambi itu sudah pada posisi status kualitas udara yang sangat tidak sehat, bahkan berbahaya untuk parameter PM2,5," ujar Edward dalam konferensi pers Perkembangan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di YouTube Kemenko Polkam, dikutip Jumat (16/10/2026).
Di Sumatera Selatan, sebagian besar wilayah juga mengalami penurunan kualitas udara. Tingkat pencemaran di daerah tersebut bervariasi, mulai dari kategori tidak sehat dan sangat tidak sehat hingga berbahaya. Penurunan kualitas udara dengan kondisi serupa turut ditemukan di Pulau Kalimantan.
Edward mengungkapkan bahwa sebagian besar wilayah Kalimantan Barat mengalami kualitas udara tidak sehat, bahkan sejumlah daerah telah mencapai kategori berbahaya.
Sementara itu, Kalimantan Tengah menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian serius akibat tingginya tingkat pencemaran udara.
"Kalimantan Tengah seluruhnya pada kualitas udara berbahaya untuk parameter PM2,5," ungkapnya.
Kondisi kualitas udara di Kalimantan Selatan juga menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Sebagian besar wilayah di provinsi tersebut tercatat mengalami pencemaran udara pada tingkat tidak sehat hingga berbahaya.
Mengacu pada pemaparan KLH/BPLH, berikut sembilan wilayah yang mengalami penurunan kualitas udara di Indonesia:
- Sumatera Barat: Kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.
- Riau: Kualitas udara tercatat masuk kategori sangat tidak sehat.
- Jambi: Kualitas udara berada pada tingkat sangat tidak sehat hingga berbahaya.
- Sumatera Selatan: Sebagian besar wilayah mengalami kualitas udara tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya.
- Kalimantan Barat: Mayoritas wilayah mencatat kualitas udara tidak sehat, dengan beberapa daerah masuk kategori berbahaya.
- Kalimantan Tengah: Kualitas udara di seluruh wilayah dilaporkan berada dalam kategori berbahaya.
- Kalimantan Selatan: Sebagian besar wilayah mengalami kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya.
- Sulawesi: Sejumlah wilayah menunjukkan penurunan kualitas udara, dari kategori baik atau sedang menuju tingkat tidak sehat.
- Papua: Beberapa wilayah mengalami tren penurunan kualitas udara, dari kategori baik atau sedang menjadi tidak sehat.
Terkait kondisi di Sulawesi dan Papua, Edward tidak menyebutkan secara terperinci provinsi mana saja yang mengalami penurunan kualitas udara. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perkembangan kondisi udara di kedua kawasan tersebut tetap perlu diwaspadai.
"Demikian juga untuk Sulawesi dan Papua, kami sampaikan ke Bapak-Ibu, dari kualitas udara kemarin yang sudah baik, bahkan sedang, sekarang sudah menuju kualitas udara tidak sehat. Ini yang menjadi perhatian kita semua," katanya.
Edward menambahkan bahwa hasil pemantauan selama periode September hingga 14 Oktober 2026 memperlihatkan tren penurunan kualitas udara di sejumlah daerah. Perkembangan tersebut dinilai semakin mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian serius.
Ia mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah dengan kualitas udara tidak sehat, sangat tidak sehat, maupun berbahaya untuk membatasi kegiatan di luar ruangan guna mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Selain itu, pemerintah telah memberikan arahan kepada pemerintah daerah agar memperkuat upaya pengendalian pencemaran udara serta meningkatkan perlindungan terhadap masyarakat, terutama selama berlangsungnya musim karhutla.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam konferensi pers yang sama, ia menerangkan bahwa upaya pemadaman dilaksanakan melalui operasi darat dan udara dengan dukungan personel gabungan dari sejumlah instansi.
BNPB menilai jumlah personel dan peralatan yang telah dikerahkan ke sejumlah provinsi cukup memadai untuk mendukung proses penanganan kebakaran.
Berdasarkan laporan dari lapangan, tingkat keberhasilan pemadaman pada lahan yang baru terbakar rata-rata telah mencapai lebih dari 80 persen setiap hari.
Untuk memperkuat upaya penanganan, pemerintah turut mengoperasikan 49 pesawat dan helikopter. Armada tersebut digunakan untuk mendukung berbagai langkah pemadaman, termasuk melalui teknik pengeboman air (water bombing) dan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Penggunaan armada udara dapat disesuaikan dengan perkembangan kebakaran, situasi cuaca, serta jarak pandang di setiap wilayah terdampak.
Kendati demikian, BNPB mengakui bahwa pemadaman karhutla, terutama di kawasan lahan gambut, masih menemui sejumlah kendala.
Salah satu tantangannya adalah api yang tampak sudah padam di permukaan tanah belum tentu sepenuhnya mati di bagian bawah lapisan gambut. Akibatnya, titik kebakaran berpeluang muncul kembali dalam beberapa hari setelah proses pemadaman dilakukan.
"Pemantauan dan upaya pemadaman lanjutan tetap dilakukan untuk mencegah munculnya titik api baru," tuturnya.
BNPB turut menegaskan bahwa hujan yang turun secara konsisten berperan penting dalam membantu proses penanganan karhutla hingga tuntas.
Curah hujan yang berkelanjutan diharapkan dapat membantu memadamkan titik api dan mengurangi risiko kebakaran kembali terjadi.
