Momen Dedi Mulyadi Bertemu Botok dan AMPB di Lembur Pakuan Subang

PASUNDANEKSPRES.ID - Pertemuan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan Botok dan sejumlah tokoh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menjadi perhatian publik.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, mempertanyakan urgensi pertemuan tersebut dan meminta masyarakat mencermati kemungkinan adanya kepentingan politik di balik agenda itu.
Seperti dikutip dari Wartaekonomi.co.id, Iwan menilai pertemuan antara pejabat dengan kelompok masyarakat pada dasarnya bukan sesuatu yang keliru.
Namun, posisi Botok dan AMPB yang saat ini tengah mendapat sorotan membuat pertemuan tersebut dinilai wajar apabila tidak hanya dipandang sebagai silaturahmi biasa.
“Pertanyaannya sederhana: apa urgensinya Dedi Mulyadi datang dan bertemu Botok dan kawan-kawan di Pati? Kalau memang murni silaturahmi, tentu sah. Tetapi publik juga berhak membaca bahwa pertemuan dengan figur dan kelompok yang sedang naik daun secara popularitas bisa memberikan keuntungan citra dan manfaat elektoral bagi seorang politisi,” kata Iwan dalam keterangan tertulis, Rabu, 2 September 2026.
Perhatian terhadap AMPB meningkat setelah kelompok tersebut menjalankan sejumlah kegiatan dan menyampaikan aspirasi masyarakat Pati. Situasi itu membuat pertemuan dengan figur politik populer seperti Dedi Mulyadi dinilai Iwan mempunyai nilai komunikasi politik tersendiri.
Iwan berpandangan bahwa kondisi tersebut menjadi alasan bagi masyarakat untuk mempertanyakan tujuan pertemuan. Ia menyebut ada tiga kemungkinan yang dapat dilihat, yakni apakah agenda tersebut berkaitan dengan kepentingan sosial, kepentingan pemerintahan, atau justru menjadi bagian dari investasi politik.
“Botok dan AMPB saat ini sedang naik daun. Mereka menjadi perhatian publik karena kiprahnya di Pati. Maka ketika figur politik dengan popularitas seperti Dedi Mulyadi hadir dan membangun keakraban dengan mereka, sangat wajar kalau publik kemudian bertanya: ini kepentingan sosial, kepentingan pemerintahan, atau sedang membangun investasi politik?” ujar Iwan.
Iwan juga menilai popularitas sebuah gerakan masyarakat dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan politisi. Karena itu, ia mengingatkan agar persoalan yang tengah dihadapi masyarakat tidak berubah menjadi momentum untuk membangun personal branding.
“Jangan sampai kegelisahan dan popularitas masyarakat Pati dijadikan panggung pencitraan. Masyarakat membutuhkan solusi konkret, bukan sekadar kedekatan simbolik dengan tokoh politik,” tegasnya.
Bagi Iwan, persoalan utamanya bukan mengenai keputusan Dedi Mulyadi untuk bertemu masyarakat. Yang menjadi sorotan adalah apakah pertemuan tersebut memiliki agenda substantif yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat Pati atau hanya menghasilkan kedekatan yang kemudian menarik perhatian publik.
Dalam keterangannya yang dikutip [nama media].com, Iwan meminta Dedi Mulyadi menjelaskan secara terbuka mengenai substansi pertemuannya dengan Botok dan para tokoh AMPB.
Menurutnya, transparansi diperlukan agar publik dapat mengetahui alasan pertemuan tersebut, pembahasan yang dilakukan, serta manfaat yang dihasilkan.
“Kalau ada agenda konkret, sampaikan kepada publik. Apa yang dibahas? Apa yang akan dilakukan? Apa kontribusinya untuk masyarakat Pati? Kalau tidak ada agenda substantif, publik tentu akan menilai pertemuan itu sebagai bagian dari pencitraan politik,” ujar Iwan.
Iwan menilai keterbukaan tersebut penting karena seorang pejabat publik tidak cukup hanya dinilai dari kehadirannya di tengah masyarakat.
Lebih dari itu, pertemuan dengan kelompok masyarakat semestinya dapat diwujudkan dalam bentuk kebijakan, penyelesaian masalah, maupun bantuan yang hasilnya dapat diukur.
Pandangan Iwan bahwa popularitas AMPB tidak seharusnya menjadi alasan utama bagi seorang politisi untuk membangun kedekatan.
Politisi justru dinilai perlu hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan dan membutuhkan solusi, bukan hanya saat suatu kelompok sedang menjadi perhatian publik.
“Politisi jangan hanya datang ketika masyarakat sedang viral. Datanglah ketika masyarakat membutuhkan solusi. Karena kalau hadirnya hanya mengikuti momentum popularitas, publik bisa melihatnya sebagai politik oportunistik,” pungkas Iwan.
Pertemuan Dedi Mulyadi dengan Botok dan AMPB pada akhirnya tidak hanya dilihat dari sisi silaturahmi. Kritik Iwan membuat tujuan serta hasil dari pertemuan tersebut dinilai perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut kepada masyarakat.
Perdebatan mengenai apakah pertemuan tersebut murni merupakan bentuk komunikasi dengan masyarakat atau memiliki dimensi politik masih terus menjadi perhatian.
Meski demikian, Iwan menegaskan bahwa ukuran utama seharusnya tetap berada pada substansi pertemuan dan manfaat konkret yang dapat diterima masyarakat Pati.
