Pemilu Israel 2026: Netanyahu & Oposisi Gagal Raih Mayoritas Parlemen

PASUNDANEKSPRES.ID - Persaingan dalam Pemilu Israel 2026 berlangsung ketat. Perdana Menteri petahana Benjamin Netanyahu dan kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot sama-sama belum berhasil mengamankan mayoritas kursi parlemen berdasarkan proyeksi hasil pemungutan suara.
Pemilu Israel 2026 Memanas, Netanyahu dan Oposisi Gagal Raih Mayoritas Parlemen
Dilansir dari CNN Indonesia, hasil exit poll yang dilaporkan media Israel, Channel 12 dan Ynet, memproyeksikan blok politik pendukung Netanyahu memperoleh 53 kursi di Knesset. Sementara itu, kelompok partai yang menentang pemerintahannya diperkirakan mengumpulkan 67 kursi.
Dengan total 120 kursi di Knesset, sebuah blok politik membutuhkan sedikitnya 61 kursi untuk mencapai mayoritas parlemen. Artinya, meskipun kubu oposisi diproyeksikan memiliki jumlah kursi lebih besar, pembentukan pemerintahan baru masih bergantung pada kemampuan mereka menyatukan berbagai partai.
Hasil tersebut masih berupa proyeksi dan belum menjadi keputusan resmi. Penghitungan serta penetapan suara oleh Komite Pemilu Pusat Israel masih berlangsung, sehingga komposisi kursi dapat berubah.
Pemungutan suara digelar pada Selasa (27/10/2026), dengan hasil awal mulai diumumkan pada Rabu (28/10/2026). Hasil resmi dijadwalkan diumumkan paling lambat 4 November.
Likud Tetap Diproyeksikan Menjadi Partai Terbesar
Meski blok pendukungnya diperkirakan kehilangan kekuatan dibandingkan periode sebelumnya, Partai Likud pimpinan Netanyahu tetap diproyeksikan menjadi partai tunggal terbesar di Knesset.
Pada periode sebelumnya, koalisi Netanyahu menguasai 68 kursi parlemen. Namun, proyeksi terbaru menunjukkan dukungan terhadap blok tersebut menyusut menjadi 53 kursi.
Di kubu oposisi, Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot diproyeksikan memperoleh 21 kursi, menjadikannya partai terbesar di antara kelompok penentang Netanyahu.
Namun, oposisi Israel tidak terdiri atas satu kelompok yang sepenuhnya solid. Di dalamnya terdapat partai-partai dari spektrum kanan, tengah, dan kiri, serta partai-partai Arab dengan kepentingan politik yang berbeda.
Partai-partai Arab diproyeksikan meraih total 19 kursi menurut estimasi Channel 12 dan Ynet. Dukungan mereka berpotensi menjadi faktor penting dalam upaya oposisi mencapai mayoritas 61 kursi.
Mansour Abbas, pemimpin United Arab List atau Ra'am, berharap partainya dapat bekerja sama dengan kelompok oposisi untuk membentuk pemerintahan baru.
"Saya berharap kita dapat mengubah pemerintahan ini dan jumlah kursi yang terkumpul mencapai 61 kursi, yakni dari blok oposisi bersama dengan Ra'am," ujar Abbas, seperti dikutip Channel 12.
Meski demikian, kesepakatan tersebut belum terwujud. Perbedaan ideologi dan kepentingan di antara partai-partai oposisi dapat mempersulit proses negosiasi.
Netanyahu Klaim Blok Sayap Kanan Masih Kuat
Berbicara di markas Partai Likud di Yerusalem, Netanyahu berterima kasih kepada para pemilih yang kembali memberikan dukungan kepada partainya. Namun, ia belum menyatakan kemenangan secara mutlak.
Netanyahu menekankan bahwa Likud tetap menjadi partai terbesar dan menyatakan blok sayap kanan memiliki dukungan kuat di kalangan masyarakat Yahudi dan Zionis.
Ia juga menyerukan pembentukan pemerintahan nasional sayap kanan dan menolak kemungkinan pemerintahan yang bergantung pada dukungan partai-partai Arab.
"Kita harus membentuk pemerintahan nasional sayap kanan yang kuat. Israel tidak boleh dibiarkan terancam oleh pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab anti-Zionis," ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Netanyahu masih berupaya mempertahankan kepemimpinan melalui dukungan partai-partai sayap kanan, meskipun proyeksi kursi bloknya berada di bawah ambang batas mayoritas.
Eisenkot Sebut Pemilih Menginginkan Perubahan
Sementara itu, Eisenkot menyambut hasil sementara pemilu sebagai sinyal penolakan terhadap kelanjutan pemerintahan Netanyahu.
Di markas pemenangannya di Tel Aviv, mantan kepala staf militer Israel tersebut mengatakan masyarakat telah memberikan dukungan kepada kelompok yang menginginkan perubahan kepemimpinan.
Ia juga menilai hasil pemilu mencerminkan hilangnya kepercayaan terhadap Netanyahu dan pemerintahannya, terutama setelah serangan 7 Oktober yang menjadi salah satu titik balik dalam politik dan keamanan Israel.
Meski menyampaikan optimisme, Eisenkot mengakui bahwa penghitungan suara belum selesai. Ia menegaskan bahwa langkah selanjutnya adalah menunggu hasil resmi sebelum menentukan strategi pembentukan pemerintahan.
Eisenkot berjanji akan membangun pemerintahan yang melayani seluruh masyarakat Israel, menghormati keberagaman kelompok sosial, dan memperkuat lembaga-lembaga negara.
Namun, untuk mewujudkan rencana tersebut, ia harus memperoleh dukungan dari sejumlah partai lain, termasuk kemungkinan dukungan partai-partai Arab.
Donald Trump Ikut Menyoroti Hasil Pemilu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dikenal sebagai sekutu Netanyahu, turut memberikan tanggapan terhadap hasil sementara pemilu Israel.
Trump menilai dukungannya terhadap Netanyahu telah membantu memperbaiki posisi politik perdana menteri tersebut dalam persaingan elektoral.
Trump juga mengakui bahwa hasil akhir belum dapat dipastikan. Ia menyebut persaingan masih terbuka dan meminta publik menunggu perkembangan penghitungan suara.
Pernyataan Trump menambah perhatian internasional terhadap pemilu Israel, mengingat hubungan dekat Washington dan pemerintahan Netanyahu selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam hubungan luar negeri Israel.
Partisipasi Pemilih Capai 77,7 Persen
Pemilu Israel 2026 juga mencatat tingkat partisipasi pemilih yang tinggi. Angka partisipasi dilaporkan mencapai 77,7 persen, tertinggi sejak 1999 dan meningkat 7,1 poin persentase dibandingkan pemilu 2022.
Tingginya partisipasi menunjukkan besarnya keterlibatan masyarakat dalam menentukan arah politik negara tersebut. Namun, tingkat partisipasi yang tinggi belum secara otomatis menghasilkan mayoritas yang jelas bagi salah satu kubu.
Persaingan ketat antara Netanyahu dan Eisenkot kini berlanjut ke tahap negosiasi politik. Di satu sisi, Netanyahu berupaya mempertahankan kekuasaan melalui partai-partai sayap kanan. Di sisi lain, Eisenkot berusaha menyatukan oposisi yang terdiri atas kelompok-kelompok dengan latar belakang politik berbeda.
Dengan hasil akhir yang masih menunggu pengesahan, masa depan pemerintahan Israel akan sangat ditentukan oleh kemampuan masing-masing kubu membangun koalisi yang memenuhi ambang batas mayoritas parlemen.
(ipa)
