IKHLAS

Oleh: Jejen Mujiburohman, Katim Bina Syariah Kanwil Kemenag Jabar
Ketika seseorang melakukan Komunikasi dan interaksi, maka setiap kata yang keluar dari lisannya, merupakan gambaran dari isi hatinya. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya. Dan tidak akan lurus hatinya hingga lurus lisannya". Karenanya penting mengolah hati agar lisannya juga dapat terjaga.
Diantara sekian banyak produk hati yang harus di jaga adalah keikhlasan. Ikhlas, harus menjadi dasar dan tujuan dalam semua aktifitas kehidupan, sebab keikhlasan akan memancarkan ketulusan, dan ketulusan akan menjadi roda penggerak semua aktifitas secara dinamis, yang pada titik tertentu akan mendatangkan hati yang bersih, dan dari hati yang bersih akan mengalir ungkapan-ungkapan yang bersih pula.
Etimologi fiqih sering memaknai ikhlas sebagai bersih tanpa campuran. Pada term amal ibadah, ada esensi ada aksidensi. Esensi tidak bisa ditawar dan sangat substansial, sedangkan aksidensi dapat berubah. Amal ibadah dapat dikatakan bersih tanpa campuran, ketika disandarkan hanya pada Allah SWT. Esensinya disitu. Jika amal ibadah sudah tercampur ingin mendapat pujian, mencari popularitas, atau imbalan duniawi, maka sudah tidak ikhlas lagi, sudah tercampur dengan beberapa aksidensial.
Ikhlas memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Tidak ada motivator dan motor penggerak dalam hidup ini yang lebih kuat dari ikhlas. Ikhlas memiliki daya ubah dan daya gugah yang begitu besar. Keikhlasan dapat menumbuhkan semangat hidup dalam beraktivitas "Ikhlas kunci keberhasilan", tegas hasan Albanna seorang ilmuan mesir.
"Demi kekuasaan engkau (wahai Rab) aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambamu yang ikhlas" ancam iblis ketika memproklamirkan permusuhan dengan nabi Adam as (Qs. Shad 82-83).
"Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas, bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir, bekal tersebut hanya akan memberatkan dan tidak membawa manfaat apapun" begitu Ibnul Qoyim dalam Al-Fawaid menegaskan.
"Orang yang Ikhlas, ibarat orang yang berjalan diatas pasir, tidak terdengar derap langkahnya, namun terlihat jejaknya," ucap ibnu Mas’ud sahabat utama rosulullah saw.
"Ketika kamu ikhlas menerima semua kekecewaan hidup, maka Allah akan membayar tuntas kekecewaan dengan beribu-ribu kebaikan," Nasehat Ali bin Abi Thalib.
Rosulullah SAW bersabda; beruntunglah orang-orang yang ikhlas. Mereka adalah pelita-pelita dalam kegelapan malam, dan segala fitnah dan kedzoliman akan hilang dari mereka".
Keikhlasan akan membuat seorang memiliki kekuatan, tidak mudah terpengaruh oleh celaan, hinaan, dan ejekan, dan yang paling penting ia mau menerima keputusan apapun yang diberikan oleh Allah SWT dalam hidupnya. "Siapa yang niatnya telah ikhlas, Allah akan menjadi pelindungnya dari yang lain" tulis Umar bin al-Khaththab ketika menulis surat kepada Abu Musa Al-Asyari.
"Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya aku diperintah agar menyembah Allah dengan penuh ketaatan dan keikhlasan kepada-Nya." (QS. Az-Zumar ayat 11).
