Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 327: Akhir Kritisisme

I
Indrawan SetiadiEditor: Indrawan Setiadi
|10:17 WIB
Bagikan:
Pojokan 327: Akhir Kritisisme
Kang Marbawi.

Umpama, seorang bayi yang menyerahkan seluruh hidupnya -menangis, tertawa, makan,minum semua diurus ibunda tercinta. Begitupun saat ini, kita dengan rela menyerahkan akal-mental kita ke mesin pintar. Bedanya, ibunda kita penuh kasih sayang, sementara mesin hanya algoritma dingin yang menghitung klik dan data. 

Sejak artificial intellegence - AI nongol, hidup terasa seperti warung serba ada. Mau apa saja, tinggal ketik, langsung keluar. Tak perlu kening berkerut, tak perlu kopi pahit untuk mikir. Semua bisa disediakan mesin. Maka dengan sadar, kita menyerahkan hidup ini kepadanya. Jadilah AI -sang joki pikiran, penguasa mental tanpa seragam, penjajah pikiran yang tak perlu pasukan.

Algoritma yang mengatur apa yang kita pikirkan, memutarbalikkan rasa-pikiransesuai preferensi kita. AI melahirkan kesadaran buatan yang tak mengenal rasa dan etika.

Renald Gesnot sudah berteriak: hati-hati, AI bisa bikin kita cognitive offloading—akal dilepas, pikiran diserahkan ke mesin, dalam “The Impact of Artificial Intelligence on Human Thought” (2025). Ia mengingatkan, algoritma membangun penjara pikiran bernama filter bubble. Kita dikurung dalam ruang sempit, hanya disuguhi konten sesuai kebiasaan. Akibatnya, pikiran kita homogen, perspektif alternatif ditolak. Penjara pikiran yang menolak dan tak mau melihat perspektif atau alternatif berbeda. Akibatnya kita terjebak pada isolasi intelektual dan tak kritis. Inilah yang diingatkan Gesnot, bahaya manipulatik algoritmik dan disinformasi otomatis.

Kemampuan sang waralaba pikiran - AI yang hampir tanpa batas melahirkan keterpesonaan kita. Kita pun menyerahkan diri dengan bulat-bulat pada mesin.  Itulah yang disebut magical thinking-nya David Morris. Dalam tulisannya “Magical Thinking and the Test of Humanity: We Have Seen the Danger of AI and It Is Us”2024, David Morris sesumbar, kalau manusia menyerahkan semua pada koki instan pikiran dan percaya mesin lebih bijak daripada akal sehat, ia bisa berubah jadi makhluk magical thinking.  Sama seperti orang kampung yang percaya dukun bisa menggandakan uang, akhirnya yang digandakan cuma rasa kecewa.

Padahal data di AI itu bias dan bisa berpotensi manipulatif, tidak akuntable dan mematikan daya kritis mental-akal. Bahaya terbesar bukan pada AI itu sendiri, kata Morris, melainkan pada manusia yang terlalu percaya.  Maka Morris mengingatkan: hadirkan kesadaran reflektif, jangan bersikap magis pada teknologi.

Merenggut pikiran Gesnot, pikiran kita makin homogen, seperti nasi kotak seminar: lauknya standar, sambalnya sama, dan rasanya bisa ditebak. Kita harus belajar berpikir antisipatif, bukan sekadar reaktif. Kalau tidak, kita akan jadi penonton pasif dalam bioskop besar bernama “Era AI”.

AI itu piaraan kita yang tak berjiwa. Jangan sampai kita yang dipiara algoritma yang menentukan kehidupan kita. Wayang yang mendorong kita pada dunia imersif - dunia maya yang menelan kita bulat-bulat (fisik dan rasa kita),  yang seolah nyata. Ibarat kampung buatan di dunia maya. Kita masuk ke sana, merasa jadi warga, ikut ronda, bahkan bisa nongkrong di pos kamling digital. Bedanya, malingnya bukan pencuri ayam, tapi pencuri data. Imersif seolah bikin hidup lebih cepat dan nyaman, tapi ujung-ujungnya bikin kita bayar mahal, tersesat di pintu keluar, dan tetap macet di dunia nyata.

Jadi, miara “mahkluk AI” bukan berarti manusia jadi pintar. Bisa jadi malah manusia berhenti berpikir, menyerahkan otaknya pada algoritma, lalu sibuk selfie dengan hasil kerja mesin.

AI memang bisa jadi guru baru, tapi jangan sampai kita jadi murid yang malas. Kalau pikiran kritis sudah tamat, jangan diganti dengan pikiran instan ala mie seduh. Mari belajar berpikir kritis, reflektif, dan sedikit nakal—sebab tanpa kenakalan intelektual, dunia hanya akan penuh dengan jawaban mesin yang terlalu lurus, terlalu patuh, dan terlalu membosankan. Seperti pikiran nakal; bisa jadi kita akan menjadi budak wayang pintar AI, padahal kita lah dalangnya!

Atau “kenapa oligarkhi dan otoritarianisme terus bercokol? Kenapa korupsi terus berkembang? Kenapa kepekaan kita tumpul? Kenapa kebakaran hutan terus menerus terjadi hampir 20 tahun ini? Coba tanyakan kepada AI - jawabannya mungkin cepat, tapi apakah ia benar-benar peduli? (Kang Marbawi, 191026)

Berita Terbaru

Presiden Prabowo Sambut Sekjen PBB Antonio Guterres di Hambalang, Bahas Isu Ini

Presiden Prabowo Sambut Sekjen PBB Antonio Guterres di Hambalang, Bahas Isu Ini

Nasional9 menit lalu
Ditemukan Lahan Bekas Karhutla di Dharmasraya Ditanami Sawit, Polisi Turun Tangan

Ditemukan Lahan Bekas Karhutla di Dharmasraya Ditanami Sawit, Polisi Turun Tangan

Nasional59 menit lalu
Singapura Bongkar 7 Perusahaan Diduga Terlibat Karhutla, Tiga Pemasok APP

Singapura Bongkar 7 Perusahaan Diduga Terlibat Karhutla, Tiga Pemasok APP

Nasional1 jam lalu
Sumpah Pemuda dengan Konteks Kekinian (Versi Modern)

Sumpah Pemuda dengan Konteks Kekinian (Versi Modern)

Opini1 jam lalu
ADVERTISEMENT
Demonstrasi Ekonomi di Lima Negara Eropa Berujung Kerusuhan, Biaya Hidup Mencekik

Demonstrasi Ekonomi di Lima Negara Eropa Berujung Kerusuhan, Biaya Hidup Mencekik

Nasional1 jam lalu
Pojokan 327: Akhir Kritisisme

Pojokan 327: Akhir Kritisisme

Opini1 jam lalu
Polda Jabar Gruduk Pabrik Tramadol Dan Heximer? Simak Berita Updatenya Disini!

Polda Jabar Gruduk Pabrik Tramadol Dan Heximer? Simak Berita Updatenya Disini!

Jawa Barat1 jam lalu
Viral Video Dugaan Penganiayaan Petugas SPPG di Bogor, BGN Turun Tangan

Viral Video Dugaan Penganiayaan Petugas SPPG di Bogor, BGN Turun Tangan

Jawa Barat1 jam lalu
Emak Ruhimah dan Abah Casmita Terima Bantuan Rutilahu TMMD

Emak Ruhimah dan Abah Casmita Terima Bantuan Rutilahu TMMD

Headline1 jam lalu
Survei Terbaru PPI Ungkap Daftar Menteri dengan Kinerja Terburuk di Kabinet Prabowo

Survei Terbaru PPI Ungkap Daftar Menteri dengan Kinerja Terburuk di Kabinet Prabowo

Nasional1 jam lalu