Pojokan 310: KO-nya

Tahu Gejrot Mang Sawun, tukang tahu gejrot dari Cirebon, mungkin tak pernah tahu bahwa dagangannya bukan sekadar “tahu diguyur kuah pedas-manis.” Ia sejatinya sedang menggendong identitas dan narasi bangsa di atas sepeda ontel reyotnya. Sayang, roda ontelnya kalah cepat dari roda globalisasi yang digas oleh pasukan kuliner asing.
Bayangkan medan perang kuliner Nusantara: Di satu sisi, pasukan tradisional — tahu gejrot, klepon, getuk lindri, kue putu, serabi, cucur — berbaris dengan senjata sederhana: cabe rawit, gula merah, santan, dan daun pisang. Di sisi lain, pasukan asing datang dengan strategi gastrodiplomasi yang rapi.
Korea mengirim Kimchi, Ramyeon, Teokbokki, Bulgogi, lengkap dengan dukungan pasukan K-Pop. Jepang menurunkan Sushi, Ramen, Takoyaki, Mochi, dengan bendera Cool Japan berkibar di atas restoran franchise. Sebelumnya telah merajai gerai pertiwi, Sang Koboy, Mc Donald, KFC, Starbuck dari negeri Paman Sam.
Bahkan Tak hanya jagoan tembak Koboy, mereka juga menurunkan pasukan pahlawan Marvel.
Hasilnya? Pasukan lokal hanya bertahan di garis demarkasi terakhir: kaki lima. Sementara anak-anak kita lebih hafal corndog daripada klepon.
Indonesia sebenarnya sudah punya Grand Strategy Diplomasi Soft Power (2024). Isinya indah: budaya, pariwisata, pendidikan, nilai kebangsaan jadi aset utama.
Tapi, kuliner tradisional seperti tahu gejrot belum masuk daftar “pasukan elit.” Padahal, kuliner adalah bagian dari rudal F6: food, fashion, film, festival, finance, fiction. Korea dan Jepang sudah membuktikan, lewat gastro diplomasi, kuliner bisa jadi senjata branding nasional sekaligus penggerak ekonomi kreatif.
Thailand punya Global Thai — restoran Thai menjamur di dunia. Korea punya Hansik Globalization — kimchi jadi ikon. Jepang punya Cool Japan — sushi jadi paspor budaya. Indonesia? Tahu gejrot, kerak telor masih megap-megap di emperan, tanpa strategi, tanpa dukungan.
Filosofi yang Terkubur
Tahu gejrot dan angota partai kuliner tradisional lainnya bukan sekadar kudapan. Ia adalah arsip budaya: Ada transmisi nilai dari generasi ke generasi.Ada filosofi hidup sederhana, pedas-manis getir seperti perjalanan bangsa. Ada kearifan lokal: dari cara mengulek cabe hingga ritual makan di pinggir jalan. Tapi semua itu terkubur oleh paper cup ramen instan dan kotak sushi takeaway.
Ironinya, kuliner tradisional kita seperti veteran perang yang tak pernah diberi pensiun. Mereka berjuang mempertahankan identitas bangsa, tapi negara sibuk bikin festival “branding” tanpa memberi amunisi pada pasukan inti. Akhirnya, tahu gejrot jadi korban kolonialisasi rasa.
Mang Sawun kini bukan lagi pedagang tahu, tapi pemulung budaya: keranjangnya penuh bekas cup ramen dan box sushi. Tahu gejrot wafat, lemper tinggal kenangan, serabi jadi nostalgia.
Sementara Gen Z dan Alfanya penyandu K-Pop Hallyu 4.0. Mereka berhasil menanamkan sistem budaya di negara lain. Model lain dari kolonialisme budaya.
Kalau kuliner tradisional terus dibiarkan kalah, jangan salahkan anak cucu kita kalau nanti lebih hafal “K-Pop Corn Dog” daripada “Kue Cucur.” Padahal, tahu gejrot, klepon dan sebangsanya adalah konservasi ideologis: menjaga kontinuitas, keabadian, dan akar tradisi.
Bangsa yang kehilangan ongol-ongol, onde-onde dan sejenisnya, bukan sekadar kehilangan jajanan pasar. Ia kehilangan identitas. Jadi mari jajan tahu gejrot, klepon atau serabi. Terserah anda. (Kang Marbawi, 200626)
