POJOKAN 313: Emas, Perut, dan Matematika Ajaib

POJOKAN 313: Emas, Perut, dan Matematika Ajaib
“Manusia adalah binatang,” kata Sasha salah satu tokoh dalam novel “Pecundang” karangan Maxim Gorky alias Aleksey Maximovich. Dan setiap binatang, konon, butuh padang rumput yang hijau royo-royo. Tapi rupanya, bagi para serakah di negeri ini, padang rumput saja tidak cukup. Ia butuh lapangan emas. Bukan sembarang emas, tapi emas batangan yang beratnya mencapai 74 kilogram. Kalau dijadikan kalung, mungkin lehernya sudah berubah jadi tumpuan beban konstruksi jembatan layang.
Soal rakus bin serakah, ini adalah bakat seni tingkat dewa dalam urusan menghabiskan, membabat, menimbun, menyembunyiakan serta mengeruk hingga tak sisa.
Kalau Gorky menulis Pecundang tahun 1907 dengan latar Rusia yang dingin, mungkin ia perlu menengok negeri Konoha kita hari ini. Di sana, alih-alih menemukan naskah sastra yang menggugah jiwa, kita justru disuguhi "naskah" yang lebih tebal: tumpukan uang miliaran rupiah dan emas 74 kilogram. Itu bukan lagi sekadar hidangan lezat; itu sudah seperti gudang logistik untuk bertahan hidup sampai kiamat tiba.
Perut mereka, saudara-saudara, bukanlah organ tubuh biasa. Ia adalah lubang hitam (black hole) yang sanggup menelan gunung, hutan, laut, hingga anggaran proyek infrastruktur yang harusnya jadi jalan bagi rakyat jelata. Semuanya disimpan rapi. Ada yang berbentuk emas, saham, deposito, sampai yang gaib-gaib pun mungkin ada di sana— barangkali juga terselip surat tanah di bulan kalau bisa.
Mereka punya matematika sendiri. Matematika yang tidak diajarkan di sekolah dasar, bahkan mungkin membuat Pythagoras pening tujuh keliling. Kalau kita diajarkan 1 + 1 = 2, matematika pejabat rakus adalah: 1 jabatan + 1 kesempatan = lebih dari 1 miliar. Teorinya sederhana: jilat atasan, peras bawahan, akali aturan, dan kalau ketahuan, cukup selesaikan secara "adat". Adat yang dimaksud tentu bukan adat istiadat leluhur yang agung, melainkan adat "salam tempel" dan "bagi hasil".
Manusia yang sudah menerapkan teori keserakahan ini, membangun eksistensinya sendiri. Tak mau terlihat dan harus luput dari perhatian orang banyak. Berbohong-manipulasi kepada semua orang dan semua orang pun berbohong-memanipulasi! Diantara mereka berlaku hukum; siapa yang mendapatkan apa yang lebih baik serta antara siapa. Apa yang dilakukan cukup diketahui oleh segelintir. Tak boleh semua orang tahu tentang diri yang sebenarnya. Cukup dengan melemparkan narasi pencitraan.
Lalu, bagaimana dengan penegakan hukum? Ah, jangan naif. Hukum kita itu seperti narasi. Dan seperti kata Alfred Korzybski, bagi mereka, narasi - termasuk narasi hukum, itu hanya soal bagaimana merangkai kata. Kata "keadilan", bagi mereka, mungkin bermakna "kebagian". Kata "dititipkan", bagi mereka, adalah "tempat istirahat sementara sebelum diolah".
Ketika mereka tertangkap, mereka akan merangkai kata-kata yang seolah-olah paling suci, paling taat hukum, dan paling tidak tahu apa-apa. "Saya khilaf," atau "Itu titipan orang," adalah narasi-narasi klasik yang tujuannya cuma satu: membiaskan kenyataan. Mereka sadar betul bahwa di dunia ini, siapa yang memegang kendali narasi, dialah yang menentukan siapa yang jadi terdakwa dan siapa yang jadi raja.
Sebab narasi memang bisa dimaknai sesuka hati. Maka bagi mereka, merangkai kata-narasi adalah keterampilan yang paling utama yang harus dimiliki. Sebab kata-narasi punya makna yang berbeda untuk setiap orang.
Pada akhirnya, kita hanya bisa mengelus dada. Di saat rakyat sibuk menghitung sisa receh untuk beli beras, di balik meja-meja mewah, ada orang yang sibuk menghitung berat emas dengan timbangan emas murni, bukan timbangan moral.
Manusia memang binatang. Tapi rupanya, ada binatang yang sudah lupa cara menjadi manusia, karena terlalu sibuk menjadi brankas berjalan. Ah, sudahlah. Mengurus emas 74 kilo itu berat, kawan. Biarlah mereka yang pusing, kita yang cukup menonton saja. Siapa tahu, besok-besok ada yang menemukan tambang emas di bawah meja dispenser kantor sebelah.(Kang Marbawi, 110726)
