Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

POJOKAN 313: Emas, Perut, dan Matematika Ajaib

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|17:49 WIB
Bagikan:
POJOKAN 313: Emas, Perut, dan Matematika Ajaib
Kang Marbawi.

POJOKAN 313: Emas, Perut, dan Matematika Ajaib

“Manusia adalah binatang,” kata Sasha salah satu tokoh dalam novel “Pecundang” karangan Maxim Gorky alias Aleksey Maximovich. Dan setiap binatang, konon, butuh padang rumput yang hijau royo-royo. Tapi rupanya, bagi para serakah di negeri ini, padang rumput saja tidak cukup. Ia butuh lapangan emas. Bukan sembarang emas, tapi emas batangan yang beratnya mencapai 74 kilogram. Kalau dijadikan kalung, mungkin lehernya sudah berubah jadi tumpuan beban konstruksi jembatan layang.

Soal rakus bin serakah, ini  adalah bakat seni tingkat dewa dalam urusan menghabiskan, membabat, menimbun, menyembunyiakan serta mengeruk hingga tak sisa.

Kalau Gorky menulis Pecundang tahun 1907 dengan latar Rusia yang dingin, mungkin ia perlu menengok negeri Konoha kita hari ini. Di sana, alih-alih menemukan naskah sastra yang menggugah jiwa, kita justru disuguhi "naskah" yang lebih tebal: tumpukan uang miliaran rupiah dan emas 74 kilogram. Itu bukan lagi sekadar hidangan lezat; itu sudah seperti gudang logistik untuk bertahan hidup sampai kiamat tiba.

Perut mereka, saudara-saudara, bukanlah organ tubuh biasa. Ia adalah lubang hitam (black hole) yang sanggup menelan gunung, hutan, laut, hingga anggaran proyek infrastruktur yang harusnya jadi jalan bagi rakyat jelata. Semuanya disimpan rapi. Ada yang berbentuk emas, saham, deposito, sampai yang gaib-gaib pun mungkin ada di sana— barangkali juga terselip surat tanah di bulan kalau bisa.

Mereka punya matematika sendiri. Matematika yang tidak diajarkan di sekolah dasar, bahkan mungkin membuat Pythagoras pening tujuh keliling. Kalau kita diajarkan 1 + 1 = 2, matematika pejabat rakus adalah: 1 jabatan + 1 kesempatan = lebih dari 1 miliar. Teorinya sederhana: jilat atasan, peras bawahan, akali aturan, dan kalau ketahuan, cukup selesaikan secara "adat". Adat yang dimaksud tentu bukan adat istiadat leluhur yang agung, melainkan adat "salam tempel" dan "bagi hasil".

Manusia yang sudah menerapkan teori keserakahan ini, membangun eksistensinya sendiri. Tak mau terlihat dan harus luput dari perhatian orang banyak.  Berbohong-manipulasi kepada semua orang dan semua orang pun berbohong-memanipulasi!  Diantara mereka berlaku hukum; siapa yang mendapatkan apa yang lebih baik serta antara siapa. Apa yang dilakukan cukup diketahui oleh segelintir. Tak boleh semua orang tahu tentang diri yang sebenarnya. Cukup dengan melemparkan narasi pencitraan.

Lalu, bagaimana dengan penegakan hukum? Ah, jangan naif. Hukum kita itu seperti narasi. Dan seperti kata Alfred Korzybski,  bagi mereka, narasi - termasuk narasi hukum, itu hanya soal bagaimana merangkai kata. Kata "keadilan", bagi mereka, mungkin bermakna "kebagian". Kata "dititipkan", bagi mereka, adalah "tempat istirahat sementara sebelum diolah".

Ketika mereka tertangkap, mereka akan merangkai kata-kata yang seolah-olah paling suci, paling taat hukum, dan paling tidak tahu apa-apa. "Saya khilaf," atau "Itu titipan orang," adalah narasi-narasi klasik yang tujuannya cuma satu: membiaskan kenyataan. Mereka sadar betul bahwa di dunia ini, siapa yang memegang kendali narasi, dialah yang menentukan siapa yang jadi terdakwa dan siapa yang jadi raja.

Sebab narasi memang bisa dimaknai sesuka hati. Maka bagi mereka, merangkai kata-narasi adalah keterampilan yang paling utama yang harus dimiliki. Sebab kata-narasi punya makna yang berbeda untuk setiap orang.

Pada akhirnya, kita hanya bisa mengelus dada. Di saat rakyat sibuk menghitung sisa receh untuk beli beras, di balik meja-meja mewah, ada orang yang sibuk menghitung berat emas dengan timbangan emas murni, bukan timbangan moral.

Manusia memang binatang.  Tapi rupanya, ada binatang yang sudah lupa cara menjadi manusia, karena terlalu sibuk menjadi brankas berjalan. Ah, sudahlah. Mengurus emas 74 kilo itu berat, kawan. Biarlah mereka yang pusing, kita yang cukup menonton saja. Siapa tahu, besok-besok ada yang menemukan tambang emas di bawah meja dispenser kantor sebelah.(Kang Marbawi, 110726)

Berita Terbaru

BUMDes CIPATI Desa Cimeuhmal Panen Perdana Jagung Tebon

BUMDes CIPATI Desa Cimeuhmal Panen Perdana Jagung Tebon

Subang4 jam lalu
Neng Virda Cakades Purwadadi Usung Perubahan dan Pemberdayaan Perempuan

Neng Virda Cakades Purwadadi Usung Perubahan dan Pemberdayaan Perempuan

Subang4 jam lalu
Kang Rey Bidik Subang Jadi Kota Kreatif, Pastikan SubangFest Digelar Tiap Bulan

Kang Rey Bidik Subang Jadi Kota Kreatif, Pastikan SubangFest Digelar Tiap Bulan

Subang5 jam lalu
Pojokan 328: Mitelor

Pojokan 328: Mitelor

Opini7 jam lalu
ADVERTISEMENT
Cara Sematkan Postingan Foto dan Video di Instagram, Pake Fitur Ini

Cara Sematkan Postingan Foto dan Video di Instagram, Pake Fitur Ini

Lifestyle7 jam lalu
Tips Sehat di Musim Pancaroba agar Tidak Mudah Tumbang Saat Cuaca Berubah

Tips Sehat di Musim Pancaroba agar Tidak Mudah Tumbang Saat Cuaca Berubah

Lifestyle8 jam lalu
Operasi Patuh 2026 Resmi Digelar, Cek 11 Sasaran ETLE dan Dendanya

Operasi Patuh 2026 Resmi Digelar, Cek 11 Sasaran ETLE dan Dendanya

Nasional9 jam lalu
Klasemen Super League 2026/2027 Persib Naik ke Posisi 5

Klasemen Super League 2026/2027 Persib Naik ke Posisi 5

Olahraga9 jam lalu
DTIIF 2026 Digelar di Jakarta, Danantara Bidik Investasi Teknologi Global

DTIIF 2026 Digelar di Jakarta, Danantara Bidik Investasi Teknologi Global

Nasional9 jam lalu
Kementerian ESDM Buka Lowongan Pengawal Energi 2026, Tersedia 108 Formasi

Kementerian ESDM Buka Lowongan Pengawal Energi 2026, Tersedia 108 Formasi

Nasional9 jam lalu
POJOKAN 313: Emas, Perut, dan Matematika Ajaib | Pasundan Ekspres