Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 329: Kongres Pesugihan

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|21:49 WIB
Bagikan:
Pojokan 329: Kongres Pesugihan
Kang Marbawi.

Pojokan 329: Kongres Pesugihan

Di ruang rapat di dasar laut selatan yang terkoneksi dengan kabut Gunung Kemukus, sedang berlangsung Kongres Lima Tahunan CEO (Chief Consorcium Officer) Pesugihan Nusantara (KPN). Acara bergengsi para (mitos) lelembut ini, berjalan tanpa drama, politik uang, intervensi kepentingan penguasa atau oligarkh, juga tanpa baligho calon ketua umum KPN, macam pemilu atau muktamar di negeri Konoha. 

Kongres dipimpin langsung oleh Nyi Roro Kidul, didampingi Nyi Blorong sebagai wakil ketua. Dewi Wilanjar dari Petarukan-Jawa Tengah, didapuk sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen), serta barisan tuyul yang kini lebih mirip staf ahli kementerian daripada makhluk gaib. 

Hadir pula para delegasi daerah: Karaeng Loe dari Sulawesi, Naga Padoha dari Sumatera Utara, Inyiak Balang dari Sumatera Barat, Ratu Gede Mecaling dari Bali, hingga Raja Juata dari Kalimantan. Tentu masih banyak kafilah para lelembut lainnya yang turut meramaikan KPN. Pokok acaranya hanya satu: membahas kebangkrutan industri pesugihan nusantara.

“Sudah waktunya kita pensiun,” keluh Nyi Blorong sambil membolak-balik laporan tahunan.

“Kenapa, Dinda?” tanya Nyi Roro Kidul.

“Kita kalah bersaing.”

“Kalah dengan siapa?”

“Dengan koruptor.”

Ruang sidang mendadak sunyi. Bahkan para tuyul yang biasanya gesit mengambil uang dari bawah bantal ikut terdiam seperti pegawai honorer menunggu SK.

“Dulu orang datang kepada kita membawa ayam cemani, bunga tujuh rupa, kepala kerbau, tirakat empat puluh hari empat puluh malam. Sekarang?” kata Nyi Blorong. “Mereka cukup membawa proposal dan tawaran potongan fee proyek.”

“Benar,” sahut Dewi Wilanjar. “Kita susah payah memberikan kekayaan ratusan juta. Mereka bisa menghasilkan triliunan tanpa semedi, tanpa puasa mutih, tanpa tidur di kuburan”.

Para peserta kongres mengangguk muram.

Gerai-gerai pesugihan yang dahulu ramai di Gunung Kawi, Gunung Kemukus, atau sudut-sudut mistis lainnya kini sepi. Sesajen di pojok jalan atau di bawah pohon tua, ditertawakan orang. Paket ritual puasa 40 hari 40 malam, kalah pamor oleh paket tambang atau kebun sawit. Sesajen bunga tujuh rupa tergeser oleh sesajen sepuluh persen per proyek. Kepala kerbau dikalahkan penyertaan saham. Bahkan tumbal pun berubah kelas.

Dulu yang dikorbankan ayam. Kini yang dikorbankan nurani.

Para CEO pesugihan makin minder ketika membaca laporan industri pesugihan modern. Tahun 2024, menurut data ICW, terdapat ratusan kasus korupsi yang ditangani aparat dengan potensi kerugian negara mencapai hampir Rp279,9 triliun. Angka yang membuat para lelembut veteran geleng-geleng kepala.

“Rp271 triliun dari tata niaga timah saja,” kata Dewi Wilanjar.

Nyi Blorong hampir menjatuhkan cangkir kopi.

“Dua ratus tujuh puluh satu triliun?”

“Iya. Dan Rp279,9 triliun hasil pesugihan korupsi itu bukan uang receh yang tercecer di bawah bantal tuyul. Padahal dengan uang sebanyak itu, negeri ini bisa menumbuhkan puluhan ribu sekolah baru, mendirikan ratusan rumah sakit, menghamparkan ribuan kilometer jalan nasional, mensejahterakan para guru honorer , serta menyapa jutaan keluarga miskin dengan bantuan sosial yang layak. Singkatnya, uang itu cukup untuk mengurangi penderitaan banyak orang. Tapi sayang, nasibnya lebih dulu disantap oleh para pemuja pesugihan modern,” berbusa Dewi Wilanjar menerangkan. 

“Kalau segitu maharnya berapa?”

“Tidak ada.”

“Sesajennya?”

“Tidak ada.”

“Tirakatnya?”

“Tidak ada.”

“Lalu ritualnya?”

“Cukup punya jaringan oligarkhi.”

Sidang kembali sunyi. Kali ini lebih sunyi daripada kuburan pada malam Jumat Kliwon.

Padahal di masa lalu, mendapatkan jabatan memerlukan mantra panjang, puasa berbulan-bulan, dan berbagai syarat yang bikin lambung masuk angin. Sekarang kursi jabatan cukup ditebus dengan janji manis, lobi-lobi, pelicin, dan sedikit bumbu batangan emas. Punya ijazah akan lebih bagus.

Munculnya kolusi antara kekuasaan politik, birokrasi, dan kepentingan bisnis dalam pengelolaan sumber daya strategis negara, menyebabkan pesugihan ala korupsi oligarkhi mengalahkan pesugihan lama.

“Ini tidak adil,” gerutu salah seorang tuyul. “Kami saja mencuri recehan harus sembunyi-sembunyi. Mereka mengambil triliunan malah sering tampil gagah dengan dasi sutra.”

Inyiak Balang dari Sumatera Barat lalu menyampaikan analisis. Menurutnya, dunia pesugihan telah memasuki fase baru.

“Pesugihan ala Gunung Kawi sudah tamat. Sekarang zamannya pesugihan oligarkis. Yang bergerak bukan lagi satu orang, melainkan jejaring kekuasaan, bisnis, dan birokrasi,” tuturnya

“Pesugihan modern ala korupsi telah naik pangkat menjadi kebudayaan. Ia bekerja secara terstruktur, sistematis, masif dan kadang begitu rapi sehingga tampak seperti pekerjaan mulia. Bedanya dengan pesugihan tempo dulu hanya satu: kalau pesugihan lama dilakukan diam-diam pada malam Jumat Kliwon, pesugihan baru sering dilakukan pada jam kerja, lengkap dengan pendingin ruangan, kop surat, dan stempel resmi.”

Pojokan 329: Kongres Pesugihan

Dulu orang melakukan pesugihan karena ketimpangan ekonomi, kecemburuan sosial, di masyarakat. Kiwari, korupsi, kolusi dan oligarkhi jadi budaya pesugihan baru. Ruang liminal - batas antara dunia manusia dan dunia gaib, yang biasa digunakan gerai para peserta KPN, tergantikan pesan whastapp, biaya ketok palu dan temu kangen di cafe. 

Ratu Gede Mecaling mengangguk.

“Dulu kerajaan gaib yang mengatur aliran kekayaan. Sekarang ada kerajaan yang lebih sakti: jaringan kepentingan oligarkhi dan penguasa.”

Raja Juata dari Kalimantan menambahkan dengan nada filosofis.

“Saudara-saudara, kita keliru memahami musuh. Lawan kita bukan manusia. Lawan kita adalah keserakahan dan uang,”

“Uang?” tanya seorang tuyul.

“Ya. Uang dan keserakahan kini sudah menjelma menjadi dewa sekuler. Ia menentukan status, kekuasaan, persahabatan, bahkan arah moral.”

Mendengar itu, para peserta kongres mengangguk-angguk seperti mahasiswa semester akhir pura-pura paham teori filsafat.

Raja Juata melanjutkan.

“Karl Marx pernah terbata-bata mengatakan bahwa ketika uang menjadi ukuran segala sesuatu, hubungan manusia berubah menjadi hubungan transaksi. Orang tidak lagi bertanya siapa yang benar, melainkan siapa yang bayar. Marx menyebut fenomena ini sebagai fetisisme komoditas.”

“Betul!” teriak seorang tuyul.

“Persahabatan bisa dijual.”

“Betul!”

“Kesetiaan bisa dibeli.”

“Betul!”

“Bahkan akal sehat bisa dicicil.”

“Betul sekali!” sahut para tuyul protes.

Naga Padoha dari Sumatera Utara ikut menyela.

“George Simmel sudah lama bilang, uang membuat hubungan manusia menjadi dingin. Hari ini kita lihat sendiri. Orang bisa tersenyum ramah sambil menghitung keuntungan. Tengok saja di bukunya The Philosophy of Money”.

Sementara itu Semar, yang duduk di pojok ruangan sambil mengisap klobot daun kawung, mencoba menawarkan pandangan lain macam Pierre Bourdieu.

“Jangan lupa, manusia masih punya modal sosial. Persahabatan, solidaritas, gotong royong.”

Namun para tuyul serentak menolak.

“Maaf, Mbah. Zaman sekarang yang menentukan bukan gotong royong, tetapi saldo rekening. Perebutan kekuasaan sejatinya adalah perebutan kendali atas aliran uang. Uang membeli pengaruh, dan pengaruh menghasilkan uang,” kata para Tuyul fasih menirukan Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca.

Semar hanya tersenyum pahit. Rupanya bahkan para makhluk gaib sudah menjadi realis politik.

Akhirnya Karaeng Loe berdiri menyampaikan penutup. Ia mengutip petuah Bugis:

"Reso Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata."

Hanya kerja keras yang membawa rahmat Tuhan. Dan uang harus diperoleh melalui usaha, bukan jalan pintas.

“Tuan-tuan,” katanya, “semua jalan pintas pada akhirnya hanya menghasilkan jalan buntu. Kekayaan yang lahir dari kecerdikan tanpa kejujuran mungkin cepat datang, tetapi cepat pula menggerogoti masyarakat.”

Ruang sidang hening.

Para CEO pesugihan akhirnya menyimpulkan bahwa industri mereka kian kalah saing. Bukan karena kehilangan kesaktian, melainkan karena manusia berhasil menciptakan sistem pesugihan yang jauh lebih efisien daripada dunia gaib. Jika dahulu orang harus mencari gua, makam keramat, atau pantai angker, kini cukup mencari akses, relasi, dan kesempatan.

Maka kongres itu ditutup dengan keputusan yang ironis sekaligus menyedihkan: pesugihan model sesajen kemungkinan akan punah, sedangkan pesugihan modern cap korupsi akan terus berkembang biak dengan cepat macam anak kelinci.

Nyi Roro Kidul menutup sidang dengan wajah murung.

“Kita kalah.”

“Kalah karena apa, Gusti?” tanya Nyi Blorong.

“Kalah karena manusia ternyata lebih kreatif daripada setan.”

“Mata uang integritas, nurani, etika dan moral telah rapuh. Kalah jauh dengan saham keserakahan, dan hedonis yang lebih menggiurkan,” pungkasnya.   

Lalu seluruh peserta kongres berdiri dan menyanyikan lagu perpisahan. Para tuyul menangis terisak. Bukan karena sedih kehilangan pekerjaan, melainkan karena baru sadar bahwa di negeri ini, profesi makhluk gaib pun mulai tergeser oleh inovasi korupsi manusia yang telah membudaya. (Kang Marbawi, 291026)

Berita Terbaru

Pojokan 329: Kongres Pesugihan

Pojokan 329: Kongres Pesugihan

Opini1 jam lalu
Lantik 3 Pejabat Baru, Jeje: Tempatkan Aparatur Sesuai Kebutuhan Organisasi

Lantik 3 Pejabat Baru, Jeje: Tempatkan Aparatur Sesuai Kebutuhan Organisasi

Bandung Barat2 jam lalu
Antisipasi Banjir, Dinas Perkim Cek Saluran Air dan Irigasi Perumahan

Antisipasi Banjir, Dinas Perkim Cek Saluran Air dan Irigasi Perumahan

Purwakarta2 jam lalu
Dinas PUPR Subang Targetkan Proyek Jalan Rampung November

Dinas PUPR Subang Targetkan Proyek Jalan Rampung November

Subang2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Boyke Keturunan Pendiri Purwakarta Rencanakan Gelar Haul Dalem Santri

Boyke Keturunan Pendiri Purwakarta Rencanakan Gelar Haul Dalem Santri

Purwakarta2 jam lalu
Polisi Selidiki Pembegalan Pelajar di Rawamerta Karawang, Ini Perkembangan Terbarunya!

Polisi Selidiki Pembegalan Pelajar di Rawamerta Karawang, Ini Perkembangan Terbarunya!

Karawang4 jam lalu
Lagi, KPPBC Purwakarta dan Satpol PP Temukan 13.560 Batang Rokok Ilegal di Jalur Subang-Cibogo

Lagi, KPPBC Purwakarta dan Satpol PP Temukan 13.560 Batang Rokok Ilegal di Jalur Subang-Cibogo

Headline4 jam lalu
Pabrik Mobil Listrik BYD di Subang Didemo Warga, Soroti Penyerapan Tenaga Kerja Lokal

Pabrik Mobil Listrik BYD di Subang Didemo Warga, Soroti Penyerapan Tenaga Kerja Lokal

Headline4 jam lalu
Deklarasi Damai Pilkades Subang, Bupati Reynaldy Minta Semua Pihak Jaga Kondusivitas

Deklarasi Damai Pilkades Subang, Bupati Reynaldy Minta Semua Pihak Jaga Kondusivitas

Headline5 jam lalu
Cara Matikan Fitur Unduh Otomatis File di WhatsApp, Bisa Hemat Memori HP

Cara Matikan Fitur Unduh Otomatis File di WhatsApp, Bisa Hemat Memori HP

Lifestyle6 jam lalu