Beban Sejarah Masa Emas, Om Zein: Kami Akan Kembalikan Ruh Budaya di Purwakarta

PURWAKARTA-Memasuki pertengahan periode kepemimpinannya pada tahun 2026 ini, Bupati Purwakarta Saeful Bahri Binzen atau akrab disapa Om Zein menghadapi tantangan sejarah yang tidak ringan. Publik, masyarakat, hingga pengamat politik menyoroti adanya ekspektasi besar agar Saeful Bahri mampu mengembalikan "masa keemasan" Purwakarta, sebagaimana yang pernah dirasakan masyarakat di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi.
Bagi masyarakat Jawa Barat dan Indonesia, nama Purwakarta memang lekat dengan gebrakan inovatif Dedi Mulyadi saat menjabat bupati pada era 2008-2018. Kala itu, Purwakarta bertransformasi dari kabupaten biasa menjadi etalase pembangunan nasional yang kerap menjadi rujukan studi banding daerah lain.
Dimulai dari masifnya pembangunan infrastruktur jalan yang mulus dan terhubung hingga ke pelosok, fokus pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui program pendidikan dan keagamaan, hingga keberpihakan pada budaya dan kesenian Sunda.
Puncak dari kejayaan tersebut adalah revitalisasi Taman Sri Baduga di kawasan Situ Buled. Berkat sentuhan kebijakan pro-budaya, Situ Buled yang sempat "tidur panjang" kembali mendunia, menjadi destinasi wisata kelas internasional, dan ikon kebanggaan masyarakat Jawa Barat.
Kini, memori kolektif tentang era tersebut menjadi standar ganda bagi Om Zein. Sebagai figur yang pernah berkiprah bersama di era tersebut, publik menaruh harapan agar Saeful tidak hanya sekadar melanjutkan, tetapi mampu menghidupkan kembali denyut nadi inovasi yang dinilai sempat meredup di periode-periode transisi sebelumnya.
Pengamat Kebijakan Publik, Rizal Alim, menilai bahwa tantangan terbesar Saeful Bahri adalah merawat warisan inovasi yang masif sambil menjawab problem kontemporer Purwakarta di era 2026. "Masyarakat Purwakarta memiliki memori yang kuat tentang era Dedi Mulyadi. Saeful Bahri dituntut untuk membuktikan bahwa ia mampu berinovasi dengan tetap mempertahankan fondasi budaya, kenyamanan infrastruktur, dan kualitas SDM yang sudah dibangun sebelumnya. Mengembalikan ruh Situ Buled sebagai ikon dunia dan menjaga tata ruang kota adalah PR terbesar," ujarnya.
Menanggapi tuntutan tersebut, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Purwakarta di bawah komando Saeful Bahri Binzen tampaknya mulai menunjukkan taringnya. Dalam berbagai forum publik baru-baru ini, Saeful menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan warisan baik masa lalu terkikis zaman.
Pihaknya saat ini sedang menggencarkan program pemeliharaan infrastruktur jalan berbasis teknologi, digitalisasi layanan SDM, serta merancang festival budaya tahunan berskala lokal ke nasional hingga jika mungkin ke taraf internasional yang diklaim akan membawa nama Purwakarta kembali ke panggung dunia. "Kami menghormati dan belajar dari masa kejayaan sebelumnya. Purwakarta hari ini butuh solusi baru yang adaptif. Kami akan kembalikan ruh budaya, kenyamanan infrastruktur, dan Situ Buled sebagai etalase kita, namun dengan pendekatan yang lebih segar dan relevan dengan tuntutan zaman," tutur Saeful dalam berbagai forum kemasyarakatan.
Pertanyaan besar pun mengemuka di tengah masyarakat: Mampukah Saeful Bahri Binzen mewujudkan kembali Purwakarta yang mendunia dan sejahtera seperti era Dedi Mulyadi?
Waktu dan konsistensi eksekusi di lapanganlah yang akan menjawabnya. Jika Saeful mampu meramu warisan masa lalu dengan inovasi masa kini, bukan tidak mungkin Purwakarta akan mencatatkan sejarahnya sendiri sebagai kabupaten yang mampu bangkit dan bersinar dua kali.
Namun, jika program-program unggulan tersebut hanya berhenti di atas kertas, bayang-bayang kejayaan masa lalu akan terus menjadi kritik tajam bagi kepemimpinannya hingga akhir periode. Masyarakat Purwakarta kini menanti, apakah "Situ Buled" dan jalanan Purwakarta akan kembali menjadi cerita yang dibanggakan di seluruh Nusantara.(mas/sep)
