Dampak Abu Vulkanik, Sekolah Berlakukan Pembelajaran Jarak Jauh

Guru Tetap Masuk Beri Pelajaran Sesuai Jadwal
PURWAKARTA-Proses pembelajaran di sejumlah sekolah di Kabupaten Purwakarta dialihkan ke sistem daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menyusul dampak abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Kebijakan tersebut mulai diterapkan Senin (7/9/2026), menyusul surat edaran Bupati Purwakarta terkait kewaspadaan terhadap dampak abu vulkanik. Meski siswa belajar dari rumah, aktivitas pelayanan pendidikan di sekolah tetap berjalan.
Berdasarkan pantauan di SMPN 5 Purwakarta, para guru dan tenaga kependidikan tetap datang ke sekolah dengan mengenakan masker. Mereka melaksanakan pembelajaran secara daring dari ruang kerja masing-masing sesuai jadwal mata pelajaran.
Wakil Kepala SMPN 5 Purwakarta Bidang Humas, Budi Nurhayati, mengatakan, pihaknya menerima surat edaran tersebut sekitar pukul 10.22 WIB. Surat edaran kemudian diteruskan kepada wali kelas untuk disampaikan kepada para orang tua siswa melalui grup kelas. "Pembelajaran tetap seperti biasa, sesuai dengan jadwal mata pelajaran masing-masing. Setiap guru masuk ke grup orang tua, kemudian memberikan pelajaran secara daring," kata Budi Nurhayati kepada wartawan, Senin (7/9/2026).
Guna memastikan siswa tetap mengikuti pembelajaran, sambungnya, guru juga meminta siswa mengirimkan foto saat belajar dari rumah dengan didampingi orang tua. Dokumentasi tersebut dikirimkan ke grup kelas atau grup mata pelajaran masing-masing.
Menurutnya, mekanisme tersebut menjadi salah satu bentuk pengawasan sekolah agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung meski siswa tidak berada di lingkungan sekolah. PJJ akan berlangsung hingga Jumat (11/9/2026), sesuai dengan ketentuan dalam surat edaran.
Selain memastikan proses pembelajaran tetap berjalan, lanjutnya, sekolah juga mengingatkan siswa untuk menjaga kesehatan selama aktivitas vulkanik masih berlangsung. Siswa diminta menggunakan masker apabila harus keluar rumah. "Kami mengimbau kepada wali kelas untuk kemudian disampaikan ke grup orang tua. Selama aktivitas vulkanik ini, jika anak keluar dari rumah harus menggunakan alat pelindung diri, di antaranya berupa masker," ujarnya.
Kebijakan serupa diterapkan di SDN 1 Munjuljaya. Kepala SDN 1 Munjuljaya, Sakimin, menegaskan bahwa perubahan sistem pembelajaran bukan berarti sekolah meliburkan kegiatan belajar mengajar. "Kami tidak ada libur. Kami daring sesuai dengan surat edaran sampai dengan Jumat mendatang," ucap Sakimin.
Ia menjelaskan, seluruh mata pelajaran tetap diberikan sesuai jadwal yang telah dibagikan guru kelas. Sekolah berupaya memastikan pembelajaran jarak jauh berlangsung efektif sehingga pelayanan pendidikan kepada siswa tidak terhenti. "Kami upayakan pelayanan tetap berjalan secara maksimal dan kita akan kontrol bagaimana pembelajaran daring ini harus berjalan dengan efektif dan efisien," katanya.
Selain pembelajaran, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga tetap disalurkan. Makanan dibagikan sesuai jadwal dan shift, kemudian diambil oleh orang tua siswa untuk dibawa pulang.
Sakimin mengatakan sekolah juga akan melakukan pemantauan terhadap aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung dari rumah. Guru dan pihak sekolah akan berkoordinasi melakukan patroli untuk memastikan siswa tidak justru beraktivitas di luar rumah. "Kami akan mengadakan patroli keliling untuk memastikan bahwa anak-anak kita tidak berkeliaran di luar rumah, melakukan aktivitas yang tidak perlu atau tidak penting," ujarnya.
Jika siswa terpaksa harus keluar rumah, sekolah mengimbau mereka menggunakan masker dan perlindungan tambahan. Penggunaan kacamata juga disarankan untuk membantu melindungi mata dari paparan abu vulkanik.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Sadiyah mengatakan, kebijakan pembelajaran daring diberlakukan untuk memastikan layanan pendidikan tetap berjalan di tengah kondisi aktivitas vulkanik.
Pada Senin (7/9/2026), pihaknya telah menyampaikan arahan kepada seluruh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan agar melaksanakan pembelajaran secara daring atau pembelajaran jarak jauh. "Anak-anak belajar dari rumah didampingi oleh orang tuanya menggunakan akun belajar.id atau gadget yang dimiliki oleh orang tua. Boleh juga menggunakan laptop bila orang tuanya punya," ucap Sadiyah.
Menurutnya, meski pembelajaran dipindahkan ke rumah, tidak boleh ada proses pendidikan yang terhenti. Sekolah dan guru tetap diminta memberikan pelayanan pembelajaran kepada seluruh siswa.
Dinas Pendidikan juga mengingatkan orang tua agar mendampingi anak apabila harus keluar rumah selama kondisi abu vulkanik masih berpotensi terjadi. "Apabila anak kita selesai belajar ingin keluar rumah, mohon untuk didampingi dan menggunakan masker agar kesehatannya tetap terjaga," kata Sadiyah.
Dengan kebijakan tersebut, aktivitas sekolah di Purwakarta untuk sementara berubah. Ruang-ruang kelas yang biasanya dipenuhi siswa kini lebih lengang, sementara para guru tetap hadir di sekolah dengan mengenakan masker dan menjalankan tugas mengajar melalui perangkat digital dari ruang kerja masing-masing.
Pembelajaran pun, kata Sadiyah, tetap berlangsung sesuai jadwal, hanya saja kali ini guru dan siswa terhubung dari tempat yang berbeda, yakni guru dari sekolah, sementara siswa mengikuti pelajaran dari rumah dengan pendampingan orang tua. "Kami berharap skema PJJ ini dapat menjaga keberlangsungan pendidikan sekaligus meminimalkan risiko kesehatan bagi siswa selama aktivitas vulkanik dan paparan abu masih menjadi perhatian," ujarnya.(add/sep)
