Kekeringan, Warga Cipeuteuy Purwakarta Andalkan Sumber Mata Air

Tempuh 500 Meter dengan Kondisi Jalan Terjal
PURWAKARTA-Warga Kampung Cipeuteuy Purwakarta , Desa Cilegong, Kecamatan Jatiluhur, harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang yang tak kunjung usai.
Sumur-sumur warga mulai mengering. Sementara itu, aliran air dari jaringan PAM PJT II sudah lama tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut membuat warga terpaksa mengandalkan sumber mata air yang berada cukup jauh dari permukiman.
Setiap pagi dan sore, warga harus membawa wadah bekas air mineral menuju sumber Mata Air Cipeuteuy. Jaraknya hampir 500 meter dari perkampungan.
Warga bukan hanya berjalan kaki melainkan juga harus melewati jalan yang curam dan terjal. Dengan membawa wadah kosong, mereka menuruni jalan sambil berhati-hati agar tidak terpeleset.
Sesampainya di lokasi, perjuangan belum selesai. Debit air yang semakin kecil membuat warga harus menunggu cukup lama hingga wadah penampungan terisi. Setelah penuh, wadah-wadah tersebut kembali dibawa melewati jalan terjal menuju rumah.
Bagi warga, aktivitas tersebut kini menjadi rutinitas yang harus dijalani demi memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Salah seorang warga Kampung Cipeuteuy, Kanda, mengatakan kondisi kemarau sudah berlangsung sekitar tiga bulan. Selama periode tersebut, sebagian besar sumur warga mulai mengering. "Musim kemarau itu sudah lama, tiga bulan. Sumur-sumur sudah kering semua, kebanyakan," kata Kanda kepada wartawan di lokasi, Selasa (6/10/2026).
Ia mengatakan, dirinya hampir setiap hari mengambil air dari mata air tersebut. Dalam sehari, setidaknya sekitar 10 galon air dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Menurut Kanda, kondisi jalan menuju sumber mata air menjadi persoalan tersendiri bagi warga. Terlebih, sebagian warga harus mengambil air sejak pagi buta ketika kondisi masih gelap. "Memberatkan, kalau habis subuh di sini gelap, harus pakai senter," ujar Kanda menambahkan.
Kondisi tersebut, kata dia, bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga waktu. Mereka harus bolak-balik dari permukiman menuju mata air hanya untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Sebagian warga bahkan terpaksa membeli air, namun, pilihan tersebut tidak selalu mudah karena ketersediaan air curah juga terbatas. Di tengah kondisi tersebut, warga berharap pemerintah daerah turun tangan memberikan bantuan air bersih.
Kanda mengatakan, warga untuk sementara lebih membutuhkan distribusi air bersih ke permukiman dibandingkan harus terus mengambil air dari sumber yang debitnya semakin menyusut. "Kalau masyarakat mah minta dikirim air bersih saja, biar enggak kesusahan," ucap Kanda.
Bagi warga Cipeuteuy, air dari mata air tersebut saat ini menjadi salah satu tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Akan tetapi, kondisi debit air yang terus berkurang membuat warga khawatir sumber tersebut tidak mampu bertahan jika kemarau berkepanjangan.
Warga berharap ada langkah nyata untuk mengatasi persoalan tersebut, baik melalui distribusi bantuan air bersih maupun solusi jangka panjang berupa penyediaan sumber air yang lebih mudah dijangkau masyarakat. Sebab, bagi warga Kampung Cipeuteuy, mendapatkan air bersih bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap hari.
Di tengah teriknya kemarau, perjalanan hampir 500 meter melalui jalan terjal itu menjadi rutinitas. Wadah yang awalnya kosong harus dibawa pulang dalam keadaan penuh, meski untuk mendapatkannya warga harus mengeluarkan tenaga dan waktu lebih banyak.(add/sep)
