Santri dan Silat di Era Modern, KH. Anwar: Harus Direvitalisasi sebagai Pembangunan Karakter

PURWAKARTA-Hubungan antara santri dan silat di era modern bukanlah sekadar tradisi bela diri, melainkan sebuah manifestasi dari perjuangan, spiritualitas, dan penjagaan adab. Bagi Nahdlatul Ulama (NU), silat adalah denyut nadi sejarah yang tak terpisahkan dari kehidupan pesantren.
Namun, di tengah gempuran budaya global dan olahraga bela diri modern, bagaimana tradisi ini dipandang dan dirawat?.
Bagi para kyai sepuh NU, pencak silat yang diajarkan di lingkungan pesantren memiliki dimensi yang melampaui fisik. Silat dipandang sebagai riyadhoh (latihan spiritual) untuk mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus sarana khidmah (pengabdian) untuk melindungi umat. "Para kyai sepuh kita, seperti yang diajarkan oleh para masyayikh terdahulu, melihat silat bukan untuk pamer kekuatan atau menindas yang lemah. Silat adalah ilmu kanuragan yang dibalut dengan syariat dan tasawuf. Tujuannya adalah membentuk santri yang memiliki fisik kuat, mental baja, namun berhati lembut dan penuh kasih sayang," ujar Ustd Rivan Pendidi Pondok pengasuh pesantren yang tercatat sebagai salah satu tokoh Pagar Nusa di Jawa Barat.
Lebih lanjut, para kyai sepuh menekankan bahwa sebelum seorang santri mempelajari jurus atau kuncian, ia harus belajar adab. Silat adalah tameng (hifz an-nafs) untuk menghadapi penjajah di masa lalu, dan di masa kini, tameng tersebut dimaknai sebagai penjaga martabat umat dari berbagai ancaman moral dan fisik. Institutionalisisasi dari ruh ini kemudian diwadahi oleh NU melalui IPSI dan secara khusus lahirnya Pagar Nusa (Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama).
Memasuki era modern dan digital, tantangan bagi santri dan silat kian kompleks. Munculnya fenomena Mixed Martial Arts (MMA), pergeseran minat generasi Z terhadap budaya lokal, hingga penyalahgunaan ilmu silat untuk tindakan premanisme atau tawuran, menjadi "pekerjaan rumah" besar bagi NU.
Di sinilah peran ulama muda dan pengurus NU tingkat wilayah hingga kecamatan dituntut untuk memberikan narasi dan gerakan yang relevan tanpa harus kehilangan akar tradisinya.
Ketua PCNU Purwakarta, KH. Anwar Nasihin, mewakili generasi ulama muda NU yang visioner, memiliki pandangan yang komprehensif mengenai posisi santri dan silat di masa kini. Menurut Kyai Anwar, silat di era modern tidak boleh hanya berhenti sebagai tontonan budaya atau alat perkelahian, melainkan harus direvitalisasi sebagai fondasi character building (pembangunan karakter). "Para kyai sepuh telah meletakkan dasar bahwa silat adalah jalan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Di masa modern ini, musuh santri bukan lagi penjajah bersenjata, melainkan dekadensi moral, krisis adab, dan hilangnya identitas bangsa akibat arus globalisasi," ujar KH. Anwar Nasihin saat ditemui di kediamannya, Rabu (15/10).
Kyai Anwar menegaskan bahwa PCNU Purwakarta dan jajarannya terus mendorong agar latihan silat, khususnya di lingkungan Pagar Nusa dan madrasah diniyah, mengintegrasikan nilai-nilai ke-NU-an yang rahmatan lil alamin. "Silat harus diajarkan dengan narasi perdamaian. Santri yang belajar silat harus menjadi pribadi yang paling toleran, paling damai, dan paling berguna bagi masyarakat. Jika ada oknum yang menggunakan ilmu silat untuk intimidasi, berarti ia telah kehilangan ruh ke-santri-annya. Ilmu beladirinya hanya sampai di otot, tidak sampai di hati," tegasnya.
Lebih lanjut, Kyai Anwar yang dikenal dekat dengan kalangan pemuda dan santri millennial ini menambahkan bahwa PCNU Purwakarta mendorong agar silat dikemas secara modern. Hal ini meliputi manajemen latihan yang terukur, pemanfaatan media sosial untuk kampanye positif silat bernuansa Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), serta pelibatan silat dalam kegiatan kepemudaan yang produktif. "Silat kita adalah silat yang beradab. Di tangan santri muda, silat harus bertransformasi menjadi diplomasi budaya dan ketahanan mental. Kita ingin anak-anak muda Purwakarta dan Nusantara bangga dengan silatnya, karena di dalamnya terdapat doa-doa para kyai sepuh yang menyertai setiap gerakannya," pungkas KH. Anwar Nasihin.
Sinergi antara kedalaman spiritual yang diwariskan para kyai sepuh dan dinamika gagasan para ulama muda seperti KH. Anwar Nasihin menjadi kunci agar tradisi santri dan silat tidak hanya menjadi artefak sejarah, melainkan terus hidup sebagai penjaga moralitas dan kedamaian di tengah zaman yang terus berubah.(mas/sep)
