SMPN 2 Sukasari Perkuat Pembelajaran Mendalam Berbasis Pendidikan Karakter Pancawaluya

PURWAKARTA-SMPN 2 Sukasari yang berlokasi di Kp. Depok, Desa/Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, terus meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan karakter dan transformasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan In House Training (IHT) atau pelatihan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Berbasis Pendidikan Karakter Pancawaluya yang digelar belum lama ini.
Kegiatan tersebut mengusung tema "Membentuk Manusia yang Literat" dengan materi utama berupa Optimalisasi Papan Interaktif Digital (PID) pada Pembelajaran Mendalam dalam Mengembangkan Karakter Pancawaluya.
Workshop tersebut dibuka oleh Kepala Seksi Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Purwakarta, Asep Rahmatudin dan dihadiri komite sekolah.
Hadir sebagai narasumber, Dekan FKIP Universitas Buana Perjuangan Karawang, Assoc. Prof. Dr. Anggy Prawiyogi, serta Kepala SMPN Satu Atap Bungurjaya sekaligus Fasilitator Pembelajaran Mendalam Jenjang SMP, Sopian.
Kegiatan diikuti para guru, tenaga kependidikan, serta siswa-siswi SMPN 2 Sukasari. Berbagai materi yang disampaikan diarahkan untuk memperkuat pemahaman mengenai konsep pembelajaran mendalam sekaligus pentingnya membangun kemampuan literasi dan karakter peserta didik.
Kepala SMPN 2 Sukasari Purwakarta, Heri Kusnandar, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah menghadirkan proses pembelajaran yang mampu mengikuti perkembangan zaman, namun tetap menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari pendidikan.
Menurut Heri, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik. Lebih dari itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan literasi, berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta karakter yang kuat. "Pembelajaran saat ini harus mampu menjawab kebutuhan peserta didik. Mereka tidak cukup hanya memahami materi, tetapi juga harus mampu berpikir, menganalisis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari," kata Heri.
Ia menjelaskan, pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) menjadi salah satu strategi sekolah dalam menciptakan pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan mendorong keterlibatan aktif siswa.
Meski demikian, Heri menegaskan bahwa teknologi bukanlah tujuan utama dalam proses pembelajaran. Teknologi harus ditempatkan sebagai alat bantu yang dapat mendukung guru dalam menciptakan pembelajaran yang kontekstual, interaktif, dan bermakna. "PID kami dorong untuk dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran. Harapannya, guru semakin kreatif dan siswa lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran," ujarnya.
Menurut Heri, penerapan Pembelajaran Mendalam juga memberikan ruang bagi guru untuk mengembangkan metode pembelajaran yang mendorong siswa memahami materi secara lebih utuh.
Dengan pendekatan tersebut, proses belajar tidak hanya berorientasi pada kemampuan menghafal, tetapi juga pada pemahaman, penerapan, analisis, dan refleksi.
Penerapan Pembelajaran Mendalam tersebut diharapkan dapat berjalan beriringan dengan penguatan karakter Pancawaluya, sehingga pendidikan di SMPN 2 Sukasari tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kepribadian dan karakter yang kuat. "Karakter dan literasi harus berjalan bersama. Kami ingin peserta didik memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga memiliki sikap, karakter, dan kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan," ucapnya.
Heri berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan IHT tidak berhenti sebatas kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara konsisten dalam proses pembelajaran sehari-hari. "Harapan kami, workshop ini tidak berhenti pada kegiatan saja. Apa yang diperoleh guru dan siswa dapat benar-benar diterapkan sehingga memberikan perubahan positif terhadap kualitas pembelajaran dan karakter peserta didik," kata Heri.(add/sep)
