Soal Data Center BDx, Om Zein: Kami Sambut Teknologi dan Investasi, Tapi Kedepankan Keberlanjutan Lingkungan

PASUNDANEKSPRES.ID - Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, akrab disapa Om Zein, menjadi narasumber dalam podcast bersama presenter sekaligus tokoh media nasional, Helmy Yahya, bertempat di Sudirman 7.8 Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026). Podcast tersebut membahas berbagai hal strategis terkait perkembangan investasi dan pembangunan di Kabupaten Purwakarta.
Adapun yang menjadi salah satu topik utama pembahasannya adalah terkait Data Center (pusat data) berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) CGK4 milik BDx di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Dijelaskan dalam podcast tersebut bahwa perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan membuka peluang baru bagi daerah untuk ikut mengambil peran dalam ekosistem ekonomi digital nasional.
Akan tetapi, peluang tersebut juga menuntut kesiapan daerah dalam membangun infrastruktur digital, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memastikan ketersediaan energi dan tata kelola yang mampu mendukung pertumbuhan teknologi secara berkelanjutan.
"Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta menyambut perkembangan teknologi dan investasi, namun tetap mengedepankan tata kelola, keberlanjutan lingkungan, serta manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat," kata Om Zein menjelaskan.
Sebelumnya, Tim Ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan bahwa pembangunan pusat data AI tersebut belum bisa dilanjutkan sebelum empat variabel penting dalam kajian lingkungan dipastikan aman.
Keempatnya meliputi neraca air saat kemarau atau tahun kering, dampak terhadap keandalan listrik di Jawa Barat khususnya Purwakarta, pengelolaan limbah elektronik dan baterai sepanjang siklus hidup fasilitas, serta manfaat konkret proyek bagi masyarakat Purwakarta.
Keempat hal tersebut menjadi sorotan Peneliti Ahli Madya Kecerdasan Artifisial BRIN, Dr. Dini Fronitasari, dalam pembahasan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) proyek Data Center AI Jatiluhur di Aula Janaka, Lingkungan Pemkab Purwakarta pada Senin (5/10/2026) lalu.
Dini mengatakan, empat aspek tersebut masih perlu diverifikasi secara ilmiah sebelum proyek dinyatakan aman untuk dilanjutkan.
"Pembangunan infrastruktur komputasi AI memang menjadi kebutuhan penting bagi Indonesia. Terlebih, kebutuhan kapasitas data center nasional diproyeksikan meningkat tajam dalam beberapa tahun mendatang," ujarnya.
Kapasitas pusat data nasional saat ini disebut sekitar 580 MW, sedangkan kebutuhannya diproyeksikan mencapai 3,5 GW pada 2030. Dalam konteks ini, Jatiluhur memiliki peluang besar karena daya listrik yang telah terkontrak mencapai sekitar 845 MVA.
"Jatiluhur dengan 845 MVA daya yang telah terkontrak menawarkan sesuatu yang langka dan peluang itu memang nyata," ucap Dini.
Akan tetapi, lanjut Dini, peluang investasi tersebut harus diimbangi dengan kepastian bahwa keberadaan data center tidak menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar.
Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah ketersediaan air, mengingat lokasi proyek berada di kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan sumber daya air.
Dini mendorong agar neraca air dihitung secara khusus dalam kondisi kemarau atau tahun kering. Menurutnya, penggunaan air untuk operasional data center tidak boleh mengurangi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat maupun sektor pertanian. "Air bersih yang mengalir ke rumah warga sekitar harus lebih dulu daripada kepentingan server. Kemudian jaminan irigasi di musim kemarau," kata Dini.
Ia menyebut persoalan kebutuhan air sebenarnya dapat dimitigasi melalui teknologi. Salah satunya dengan menggunakan sistem pendingin tertutup yang berpotensi mengurangi kebutuhan air hingga 80-90 persen.
Selain air, penggunaan listrik juga harus menjadi perhatian. Besarnya kebutuhan energi data center harus dihitung terhadap keandalan sistem kelistrikan, khususnya di wilayah Purwakarta dan Jawa Barat.
"Hal-hal itu yang akan kita jadikan syarat untuk keberlanjutan proyek ini," ujarnya.
Variabel berikutnya adalah persoalan limbah elektronik dan baterai. Dini menilai pengelolaan limbah harus dipastikan sejak awal karena fasilitas data center akan menghasilkan limbah sepanjang siklus hidup operasionalnya.
Sistem pengelolaan dan daur ulang limbah elektronik, menurutnya, harus jelas, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Tidak kalah penting, pembangunan Data Center AI juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Purwakarta.
Dini mendorong agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi tenaga kerja pada tahap konstruksi, tetapi memiliki kesempatan masuk ke dalam ekosistem teknologi yang dibangun di sekitar fasilitas tersebut.
"Kami penginnya tidak hanya lokasi data center, tapi ekosistem AI itu ada di Purwakarta," katanya.
Ia juga mendorong adanya akses terhadap kapasitas komputasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung riset dan pengembangan teknologi di daerah. Oleh karena itu, Dini menilai berbagai komitmen tersebut idealnya dituangkan secara tertulis dan mengikat sebelum izin pembangunan diterbitkan.
"Saya akan mendukung ini, tapi dengan catatan setelah empat variabel itu terverifikasi, terikat secara tertulis dan dalam proses yang berbatas waktu," ujarnya.
Dini menegaskan dirinya tidak berada pada posisi menolak maupun menerima pembangunan Data Center AI Jatiluhur. Saat ini, menurutnya, proyek tersebut masih berada dalam tahap pengujian berdasarkan sejumlah aspek yang harus dipastikan terlebih dahulu. "Kita bukan menolak, bukan juga menerima, tapi masih menguji," ujarnya. (add/sep)
