Bapperida Subang Kembangkan Angracana Super Apps, Perkuat Monitoring Infrastruktur Berbasis AI dan GIS

SUBANG-Pemerintah Kabupaten Subang terus mendorong transformasi digital dalam tata kelola pembangunan daerah, khususnya dalam pengelolaan dan monitoring infrastruktur. Salah satu langkah inovatif tersebut diwujudkan melalui pengembangan Angracana Super Apps (ASA) atau GIS ASA, sebuah platform digital yang mengintegrasikan teknologi Drone, Artificial Intelligence (AI), Geographic Information System (GIS), Cloud Computing, serta Decision Support System.
Inovasi tersebut diinisiasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Subang sebagai upaya menghadirkan sistem monitoring infrastruktur yang lebih cepat, akurat, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Selama ini, proses inventarisasi kondisi jalan, jembatan, drainase, bangunan pemerintah, serta berbagai aset infrastruktur lainnya masih banyak dilakukan melalui survei lapangan secara manual. Metode tersebut dinilai membutuhkan waktu cukup panjang, biaya operasional yang tidak sedikit, serta berpotensi menghasilkan data yang tersebar di berbagai perangkat daerah.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan proses identifikasi kerusakan infrastruktur tidak selalu dilakukan secara cepat. Akibatnya, penanganan terhadap kerusakan belum sepenuhnya dapat ditentukan berdasarkan kondisi aktual dan tingkat prioritas yang objektif.
Melalui GIS ASA, proses monitoring infrastruktur dikembangkan menjadi sistem digital yang tidak hanya berfungsi sebagai media dokumentasi, tetapi juga mampu melakukan analisis secara cerdas. Teknologi drone dimanfaatkan untuk memperoleh citra udara beresolusi tinggi secara berkala sehingga wilayah yang luas dapat dipetakan dalam waktu relatif singkat.
Data hasil pemotretan tersebut selanjutnya diproses menggunakan teknologi Artificial Intelligence berbasis Computer Vision. Teknologi ini dirancang untuk membantu mengidentifikasi berbagai jenis kerusakan infrastruktur secara otomatis, mulai dari retakan dan lubang pada jalan, kerusakan jembatan, sedimentasi drainase, kerusakan atap bangunan, potensi longsor, hingga gangguan pada fasilitas umum lainnya.
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat mempercepat proses identifikasi sekaligus mengurangi subjektivitas dalam penilaian kondisi aset. Hasil analisis kemudian diintegrasikan ke dalam sistem GIS sehingga kondisi infrastruktur dapat divisualisasikan melalui peta digital yang interaktif dan mudah dipahami.
Dashboard GIS ASA nantinya tidak hanya menampilkan lokasi kerusakan. Sistem tersebut juga dapat menyajikan tingkat keparahan kerusakan, histori perubahan kondisi aset, dokumentasi visual, rekomendasi prioritas penanganan, hingga laporan statistik yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dalam proses perencanaan, penganggaran, monitoring, dan evaluasi pembangunan.
Kepala Bapperida Kabupaten Subang, Iwan Syahrul Anwar, S.STP, mengatakan pengembangan ASA menjadi bagian dari upaya mendorong tata kelola pembangunan yang semakin efektif dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, keberadaan satu basis data spasial yang terintegrasi akan membantu meningkatkan koordinasi antarperangkat daerah. Dengan demikian, setiap perangkat daerah yang berkepentingan dapat mengakses dan memanfaatkan sumber data yang sama dalam mendukung proses perencanaan maupun pengambilan kebijakan.
“GIS ASA tidak hanya menghasilkan informasi mengenai kondisi infrastruktur, tetapi juga mendukung proses analisis, penentuan prioritas, serta pengambilan keputusan berbasis data secara lebih cepat dan objektif,” ujar Iwan Syahrul Anwar.
Pengembangan ASA juga memperluas cakupan monitoring yang sebelumnya lebih berfokus pada infrastruktur jalan dan jembatan menjadi sebuah platform yang mampu mengintegrasikan berbagai jenis infrastruktur daerah dalam satu sistem digital.
Kombinasi teknologi drone sebagai media akuisisi data spasial, AI sebagai mesin analisis otomatis, GIS sebagai media visualisasi, serta Decision Support System sebagai pendukung pengambilan keputusan menjadikan GIS ASA memiliki kemampuan yang lebih komprehensif dibandingkan sistem monitoring konvensional.
Selain meningkatkan efisiensi waktu dan biaya, sistem tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan objektivitas penilaian kondisi infrastruktur. Seluruh informasi yang dihasilkan akan tersimpan dalam basis data spasial yang dapat diperbarui secara berkala, sehingga setiap aset infrastruktur memiliki rekam jejak digital yang dapat digunakan untuk melihat perubahan kondisinya dari waktu ke waktu.
Dengan penerapan sistem tersebut, Pemerintah Kabupaten Subang diharapkan dapat menyusun prioritas pembangunan secara lebih tepat sasaran, transparan, dan berbasis bukti. Data aktual mengenai kondisi infrastruktur dapat menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan kebutuhan penanganan dan alokasi pembangunan.
Pada akhirnya, Angracana Super Apps (ASA) diharapkan menjadi salah satu model transformasi digital dalam pengelolaan infrastruktur di Kabupaten Subang. Inovasi tersebut sekaligus mendukung terwujudnya konsep Smart City serta tata kelola pemerintahan yang efektif, adaptif, transparan, dan berkelanjutan.(znl/ysp)
