Ada Cerita di Balik Namanya, Ini Fakta Unik Kecamatan Compreng Subang

PASUNDANEKSPRES.ID - Terdapat fakta unik Kecamatan Compreng Subang yang ternyata belum banyak diketahui wargi Subang.
Salah satunya, cerita di balik nama Compreng tidak lepas dari perjalanan kawasan tersebut pada masa lalu, mulai dari aktivitas perkebunan, jalur pengangkutan kebutuhan pekerja, hingga kebiasaan masyarakat yang kemudian melekat dan terus dikenang hingga sekarang.
Kecamatan Compreng berada di wilayah Kabupaten Subang dan memiliki hubungan erat dengan kawasan pertanian. Letaknya juga membuat daerah tersebut cukup penting sebagai penghubung antara wilayah Pantura dan Subang bagian selatan.
Namun, ada sejumlah fakta unik Kecamatan Compreng yang mungkin belum banyak diketahui, terutama soal asal-usul namanya.
Fakta Unik Kecamatan Compreng Subang
Nah, berikut ini fakta unik Kecamatan Compreng di Kabupaten Subang yang dikutip dari Wikipedia dan Blogger Kecamatan Compreng:
1. Asal-usul Nama Compreng
Salah satu fakta unik yang menarik ada pada asal-usul namanya. Berdasarkan kisah yang dikutip dari sumber yang merujuk pada Wikipedia, istilah Compreng dipercaya berasal dari kata “ompreng”.
Ompreng merupakan wadah berbahan aluminium yang digunakan untuk membawa atau menyimpan makanan.
Cerita tersebut berkaitan erat dengan aktivitas Perusahaan Perkebunan P&T atau Pamanoekan en Tjiasem Lands yang pada masa lalu berkantor pusat di Subang.
Setiap hari, makanan untuk pekerja dan mandor perkebunan dikirim dari Subang menuju kawasan Compreng. Pengangkutannya dilakukan menggunakan lori, yakni kereta kecil yang pada masa itu menggunakan bahan bakar kayu.
Makanan kemudian diturunkan di sebuah wesel yang lokasinya disebut berada di sekitar Pintu PNK4 saat ini. Dari tempat tersebut, makanan kembali didistribusikan menuju sejumlah blok perkebunan, termasuk Blok Kompa yang kini masuk wilayah Mekarjaya, Blok Jamada di Jatireja, hingga Blok Kebondanas yang sekarang berada di Kecamatan Pusakajaya.
Distribusi antarblok juga menggunakan dogong, kereta kecil tanpa mesin yang digerakkan menggunakan tenaga manusia. Rutinitas pengiriman makanan tersebut akhirnya begitu melekat dalam kehidupan para pekerja dan masyarakat sekitar.
Saat makanan tiba, orang-orang menyebutnya “Compreng”. Sebutan yang awalnya berkaitan dengan aktivitas pengiriman makanan itu kemudian terus digunakan hingga akhirnya melekat sebagai nama desa dan kecamatan.
Cerita tersebut membuat asal nama Compreng terasa cukup berbeda dibandingkan sekadar nama wilayah administratif. Ada kebiasaan sehari-hari para pekerja perkebunan yang dipercaya ikut membentuk identitas kawasan tersebut.
2. Compreng Punya Jejak Sejarah Perkebunan
Berikutnya berkaitan erat dengan perjalanan sejarah Kabupaten Subang. Setelah runtuhnya Kerajaan Pajajaran, wilayah Subang pernah berada dalam perebutan pengaruh sejumlah kekuatan, mulai dari Banten, Mataram, Sumedang Larang, VOC, Inggris hingga pemerintahan Belanda.
Perkembangan perkebunan kemudian membawa perubahan besar terhadap wilayah Subang. Perusahaan Perkebunan P&T atau Pamanoekan en Tjiasem Lands mengelola lahan yang luas melalui sistem hak Eigendom.
Pembentukan distrik-distrik turut dilakukan untuk mendukung pengelolaan wilayah perkebunan, termasuk kawasan yang kemudian berkaitan dengan Compreng.
Berbagai komoditas pernah dikembangkan di kawasan perkebunan Subang, seperti tembakau, nanas yang seratnya dimanfaatkan sebagai bahan tekstil, rosela, karet dan tebu.
Jejak perkebunan tersebut ikut membentuk kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Subang. Cerita mengenai Compreng pun tidak bisa dilepaskan dari aktivitas perkebunan dan sistem distribusi yang berlangsung pada masa tersebut.
3. Compreng Jadi Salah Satu Jalur Penghubung Wilayah
Kecamatan Compreng berada di kawasan Subang bagian tengah dan terletak di sebelah utara pusat Kabupaten Subang. Wilayah Desa Compreng memiliki akses jalan yang menghubungkan jalur Pantura menuju kawasan Subang bagian selatan.
Posisi tersebut membuat Compreng punya peran penting dalam mobilitas masyarakat dari sejumlah wilayah di sekitarnya.
Kehidupan masyarakatnya juga masih kuat berkaitan dengan sektor pertanian. Mayoritas masyarakat Desa Compreng disebut memiliki mata pencaharian sebagai buruh tani, sehingga aktivitas pertanian menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
(pm)
