Bukan Sekadar Tabuhan Bedug, Genjring Bonyok WBTb dari Subang Punya Cerita Panjang

PASUNDANEKSPRES.ID - Suara bedug yang bertemu tabuhan genjring menjadi salah satu ciri khas kesenian tradisional Sunda dari Kabupaten Subang. Perpaduan bunyi tersebut bukan sekadar pengiring keramaian, melainkan bagian dari perjalanan budaya masyarakat yang tumbuh sejak masa sebelum Indonesia merdeka. Kesenian itu dikenal dengan nama Genjring Bonyok.
Genjring Bonyok WBTb dari Subang memiliki akar sejarah yang kuat di Kampung Bonyok, Desa Pangsor. Kesenian ini berkembang dari kreativitas masyarakat setempat yang membutuhkan hiburan, sekaligus terinspirasi dari Genjring Rudat.
Seiring waktu, bentuk pertunjukannya mengalami perubahan, baik dari susunan alat musik maupun cara penyajiannya.
Penetapan Genjring Bonyok sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) menjadi pengingat bahwa kesenian daerah memiliki perjalanan panjang yang layak dijaga.
Di balik pertunjukannya, tersimpan cerita tentang kreativitas para seniman dalam merawat tradisi dan menyesuaikannya dengan perkembangan selera masyarakat.
Asal-usul Genjring Bonyok WBTb dari Subang
Menurut catatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang, Genjring Bonyok mulai lahir dan berkembang sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada masa perkebunan P & L Lands.
Kala itu, Kampung Bonyok atau wilayah Desa Pangsor dikenal sebagai daerah kontrak. Selain Genjring Bonyok, masyarakat setempat juga mengenal berbagai kesenian lain, seperti Kendang Penca, Ketuk Tilu, dan Wayang Golek.
Beragam pertunjukan tersebut tumbuh karena masyarakat membutuhkan hiburan dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika mengadakan kegiatan tertentu.
Pada masa awal kemunculannya, Genjring Bonyok memiliki susunan waditra yang masih sederhana. Perangkat musiknya terdiri dari satu bedug dan tiga genjring. Meski jumlah alat musiknya terbatas, perpaduan tabuhan tersebut menjadi dasar terbentuknya karakter kesenian ini.
Perjalanan Genjring Bonyok WBTb dari Subang tidak lepas dari peran dua seniman, yakni Talan dan Sutarja. Keduanya ikut merintis serta mengembangkan kesenian tersebut melalui berbagai kreasi dalam pertunjukan.
Upaya itu membuat Genjring Bonyok semakin dikenal dan memiliki bentuk penyajian yang lebih beragam.
Perkembangan Kesenian Genjring Bonyok
Perubahan Genjring Bonyok berlangsung secara bertahap. Sejumlah alat musik baru mulai dimasukkan untuk memperkaya irama dan memberikan warna berbeda dalam setiap pementasan.
Berikut beberapa tahap perkembangan Genjring Bonyok berdasarkan catatan sejarahnya:
- 1967: Kelompok Genjring Bonyok memiliki lima personel atau nayaga, terdiri dari satu penabuh bedug dan empat penabuh genjring.
- 1969: Alat musik terompet mulai digunakan sehingga jumlah nayaga bertambah menjadi enam orang.
- 1982: Perangkat musik semakin lengkap melalui penambahan gendang, kulanter, gong besar, gong kecil, dua kenong, dan kecrek.
- 1987: Pertunjukan mulai melibatkan sinden atau juru kawih. Lagu yang dilantunkan di antaranya berasal dari repertoar Ketuk Tilu.
Perkembangan tersebut membuat Genjring Bonyok tidak lagi hanya mengandalkan bunyi bedug dan genjring.
Perpaduan berbagai waditra menghadirkan susunan irama yang lebih kaya, sekaligus membuka ruang bagi variasi pertunjukan.
Eksistensinya juga terlihat dari sejumlah pementasan di luar lingkungan asalnya.
Pada 1971, Genjring Bonyok tampil di Gedung Rumentang Siang, Bandung. Enam tahun kemudian, kesenian ini mengikuti Festival Genjring Bonyok se-Jawa Barat yang diikuti 24 grup.
Pementasan berlanjut pada 1978 di GOR Saparua Bandung. Pada 1979, Genjring Bonyok tampil di Gedung Gubernur bersama dua grup lain dari dua kabupaten. Setahun setelahnya, kesenian tersebut turut memeriahkan peringatan Hari Jadi Kabupaten Subang.
Dalam praktiknya, Genjring Bonyok memiliki fungsi yang beragam. Kesenian ini dapat ditampilkan dalam acara hajatan melalui helaran, termasuk bersama kesenian Sisingaan. Selain itu, pertunjukannya juga hadir dalam kegiatan kedinasan maupun acara yang dianggap penting oleh masyarakat.
Perjalanan dari hiburan lingkungan perkebunan hingga tampil di panggung pertunjukan memperlihatkan kemampuan Genjring Bonyok untuk terus berkembang.
Kesenian Genjring Bonyok bukan hanya menyimpan sejarah tentang alat musik tradisional, tetapi juga merekam kreativitas seniman dan kehidupan masyarakat Sunda yang ikut membesarkannya.
(pm)
