Daftar Kasus Keracunan MBG Subang Per Oktober 2026? Simak Berita Updatenya Disini!

PASUNDAN EKPRES.ID — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Subang kembali menjadi sorotan publik setelah munculnya deretan insiden kesehatan yang menimpa puluhan anak sekolah dasar atas kasus keracunan mbg subang.
Catatan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat menunjukkan kasus keracunan mbg subang terjadi di beberapa wilayah, dengan gejala mulai dari mual, pusing, lemas, hingga sesak napas.
Insiden paling gres tercatat pada Rabu, 30 September 2026 di Kecamatan Cipunagara. Sebanyak 12 anak sekolah dasar yang terdiri dari 10 murid SDN Cimahi II dan 2 murid SDN Mulyasari terpaksa dilarikan ke Puskesmas Cipunagara usai mengonsumsi susu paket MBG.
Sebagian di antara mereka mengalami lemas parah hingga harus mendapat penanganan cairan infus dari petugas medis.
Gejala awal mual dan pusing yang dirasakan anak-anak berkembang menjadi keluhan kesehatan yang lebih serius.
Orang tua dari salah satu siswa SDN Cimahi II, Gisel Aulia, menceritakan penderitaan anaknya usai meminum susu bantuan tersebut.
"Setelah minum susu dari MBG anak saya merasakan mual, pusing, dan muntah. Sekarang ditambah dadanya agak sakit, seperti sesak napas," ujar orang tua Gisel saat mendampingi anaknya di ruang perawatan Puskesmas Cipunagara 30/09.
Hingga saat ini, dua siswa masih harus menjalani perawatan intensif di Puskesmas Cipunagara karena mengalami demam tinggi serta rasa nyeri di bagian dada usai kejadian tersebut.
Kasus Keracunan MBG Subang
Berikut adalah rekam jejak dan catatan kasus keracunan mbg subang yang berhasil dihimpun per 1 Oktober 2026:
- Peristiwa Cipunagara (30 September 2026): Belasan murid di SDN Cimahi II dan SDN Mulyasari mendadak muntah, pusing, dan lemas setelah meminum susu dalam paket MBG. Dua siswa hingga kini masih mendapatkan perawatan intensif akibat mengalami gejala lanjutan berupa demam dan sesak napas.
- Peristiwa Rawalele, Dawuan (25 September 2025): Sebanyak 11 hingga 15 murid di SDN Rawalele, Desa Rawalele, Kecamatan Dawuan mendadak mual dan muntah satu jam setelah menyantap menu MBG yang terdiri dari nasi, ikan dori goreng renyah, tempe, dan tumis pakcoy.
Pada peristiwa di Rawalele, pihak sekolah bergerak cepat membawa para anak didik ke puskesmas terdekat begitu gejala awal muncul.
Kepala SDN Rawalele, Yanti Mala, memberikan penjelasan terkait penanganan paket makanan yang tiba di sekolah pagi hari itu.
"MBG datang jam setengah delapan pagi, kami tidak pernah berlama-lama takut makanan basi jadi setengah sembilan udah beres," kata Yanti.
Ia menambahkan bahwa dari 420 murid yang menerima jatah makanan pada hari itu, gejala pusing dan muntah terkonsentrasi pada anak-anak kelas 1 dan kelas 6.
"Sekitar jam 10-an, anak bergejala muntah, ada juga orang melihat temennya jadi muntah juga. Kami cepat bawa ke sini hubungi kades untuk tindak lanjut," tutur Yanti.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Maxi, saat turun langsung ke lokasi kejadian menyatakan langkah penanganan awal dilakukan melalui pengambilan sampel makanan guna pemeriksaan laboratorium.
"Puskesmas Rawalele menerima beberapa anak dari SD Rawalele yang mengeluh mual muntah di sekolahnya. Tentunya kita akan melihat ambil sampel apa betul dari MBG atau hal lain," ucap Maxi.
Berdasarkan hasil uji laboratorium dari Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Barat terhadap sampel makanan di Rawalele.
Bahan utama seperti nasi, ikan dori, dan tempe terbukti negatif dari bakteri patogen seperti Salmonella, Staphylococcus, maupun Bacillus.
Namun, tim medis menemukan pemicu lain pada menu sayuran.
Maxi mengungkapkan terdapat kandungan senyawa Nitrit sebesar 10,11 mg pada tumis pakcoy yang dikonsumsi anak-anak.
Kandungan senyawa kimia tersebut dapat memicu gangguan kesehatan pada anak yang memiliki daya tahan tubuh kurang prima.
"Ada kandungan Nitrit 10,11 mg di sayuran tumis pakcoy. Harusnya kandungan nitrit 0 ada di makanan," kata Maxi.
Ia menegaskan bahwa daya tahan tubuh yang lemah membuat kerentanan terhadap dampak senyawa kimia Nitrit makin meningkat.
