DP2KBP3A Terus Dorong KB Pria di Subang, Suami Diajak Ambil Peran Lindungi Kesehatan Istri

SUBANG- Pemerintah Kabupaten Subang melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) terus mendorong KB Pria di Subang atau keterlibatan pria dalam program Keluarga Berencana (KB). Salah satunya melalui metode operasi pria (MOP) atau vasektomi yang digelar di Klinik Pratama Kodim 0605/Subang pada Kamis (22/10/2026).
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memenuhi target pelayanan KB pria tahun 2026 sekaligus meningkatkan kesadaran bahwa tanggung jawab perencanaan keluarga bukan hanya berada di tangan perempuan.
Kepala Bidang Keluarga Berencana DP2KBP3A Kabupaten Subang, dr. Nadiyah Tariq Basharahil, MARS, mengatakan, target pelayanan MOP di Kabupaten Subang pada 2026 ditetapkan sebanyak 30 orang. Pelaksanaan kegiatan kali ini merupakan putaran kedua setelah kegiatan serupa pada putaran pertama hanya diikuti sembilan peserta.
“Target Subang untuk tahun ini 30 orang. Pada putaran pertama sekitar April atau Mei, yang hadir sembilan orang. Untuk kegiatan sekarang, berdasarkan data yang masuk, ada 16 orang,” kata Nadiyah.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari penyelesaian target pelayanan MOP tahun ini. Namun, jumlah peserta yang telah terdaftar belum tentu seluruhnya dapat menjalani tindakan karena harus melewati proses skrining kesehatan terlebih dahulu.
Menurutnya, calon peserta tidak bisa langsung datang dan mengikuti tindakan tanpa pemeriksaan. Pendaftaran dapat dilakukan melalui petugas lapangan KB, unit pelaksana teknis (UPT), maupun fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia.
Nadiyah menyebutkan, sasaran program ini antara lain pria yang telah memiliki cukup anak dan berusia di atas 35 tahun, dengan usia di atas 40 tahun dinilai lebih sesuai. Anak terkecil juga disarankan sudah berusia lebih dari dua tahun. Selain persyaratan tersebut, persetujuan pasangan menjadi hal penting sebelum tindakan dilakukan.
“Kalau orangnya memenuhi syarat, tetapi istrinya tidak setuju, ada yang kami tolak. Harus ada kesepakatan berdua,” ujarnya.
Ia menegaskan, tugas pemerintah adalah memberikan edukasi mengenai berbagai pilihan kontrasepsi agar masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang memadai.
Menurut Nadiyah, keterlibatan pria dalam program KB juga dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap pasangan. Selama ini, penggunaan kontrasepsi kerap lebih banyak dibebankan kepada perempuan, padahal perencanaan keluarga merupakan tanggung jawab bersama.
“Kalau suaminya sayang istri, ini sebenarnya menjadi bukti bahwa dia tidak hanya mengucapkan kata-kata, tetapi juga memikirkan kesehatan dan masa depan istrinya,” katanya.
Nadiyah juga menyampaikan bahwa pada 2025, Subang memperoleh tambahan alokasi pelayanan MOP melalui program hibah dari tingkat provinsi. Awalnya, Subang mendapatkan alokasi 42 peserta, kemudian memperoleh tambahan 38 peserta sehingga totalnya mencapai 80 orang.
Sementara itu, pada 2026 tidak terdapat tambahan hibah seperti tahun sebelumnya. Karena itu, pelayanan MOP saat ini dilaksanakan berdasarkan target program tahunan yang telah ditetapkan.
Kegiatan pelayanan KB tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Tahun 2026. Sebelumnya, pelayanan KB di Desa Cupunagara mencakup empat peserta MOP dan 20 peserta implan.
Salah seorang peserta MOP, Erik, Sekretaris Desa Cisaga, mengaku mengikuti program tersebut atas kesadaran sendiri setelah memiliki tiga anak. Pria berusia 41 tahun itu berharap keterlibatan laki-laki dalam program KB semakin meningkat.
“Karena saya sudah punya anak tiga, dirasa cukup. Mudah-mudahan masyarakat, terutama kaum laki-laki, tidak takut. KB bukan hanya perempuan, laki-laki juga bisa ikut berperan,” kata Erik.
Ia mengaku tidak merasakan sakit berarti setelah menjalani tindakan. Menurutnya, keputusan mengikuti program tersebut juga merupakan bentuk perhatian kepada istri dan keluarga.
Pengalaman serupa disampaikan peserta lainnya, Yusuf Supiadi, warga Cijambe. Ia mengatakan keikutsertaannya dalam program MOP merupakan keputusan pribadi yang mendapat dukungan dari istri.
“Ini niat saya sendiri dan didukung istri. Untuk laki-laki lain yang sayang istri dan keluarga, cobalah ikut program KB MOP,” ujarnya.
Penyuluh KB Kecamatan Cijambe, Yunengi, mengatakan, edukasi kepada masyarakat menjadi tantangan tersendiri karena sebagian pria masih ragu mengikuti kontrasepsi permanen.
Ia mengaku kerap memberikan pemahaman kepada keluarga yang menghadapi kendala penggunaan kontrasepsi oleh istri, termasuk karena kondisi kesehatan tertentu atau pengalaman persalinan berulang melalui operasi sesar.
“KB bukan tanggung jawab istri saja. Suami juga memegang peranan penting terhadap kesejahteraan keluarga,” katanya.
Penyuluh KB Kecamatan Cijambe, Yunengsih mengatakan, mengedukasi masyarakat mengenai metode operasi pria (MOP) atau vasektomi bukan perkara mudah. Menurutnya, masih ada keraguan di kalangan laki-laki untuk mengikuti program kontrasepsi tersebut.
“Memang cukup sulit meyakinkan masyarakat, terutama kaum pria, untuk ikut KB. Kalau perempuan ikut KB mungkin sudah dianggap biasa, tetapi ketika laki-laki bersedia ikut KB, itu menjadi langkah yang luar biasa,” ujar Yunengsih.
Ia menjelaskan, edukasi mengenai MOP kerap diberikan kepada keluarga yang mengalami kendala dalam penggunaan kontrasepsi oleh istri, baik karena tekanan darah tinggi, masalah kesehatan lainnya, maupun kondisi keluarga yang sudah memiliki banyak anak.
Dalam kondisi tertentu, kata dia, ada istri yang mengalami persalinan melalui operasi sesar berulang kali. Kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan pasangan untuk mencari alternatif kontrasepsi, termasuk melalui partisipasi suami dalam program KB.
“Ketika ada keluhan dari istri yang tidak bisa menggunakan KB karena darah tinggi atau masalah lainnya, sementara anaknya sudah banyak dan setiap melahirkan harus melalui operasi sesar, salah satu alternatif yang bisa dipertimbangkan adalah suaminya yang mengikuti KB,” jelasnya.
Yunengsih menyebutkan, Kecamatan Cijambe secara rutin mengikutsertakan warga dalam pelayanan KB pria. Pada kegiatan kali ini, ia membawa dua peserta yang berasal dari Desa Cijambe dan Desa Gunung Tua.
Menurutnya, keputusan mengikuti MOP harus didasarkan pada pemahaman dan kesepakatan bersama pasangan. Karena itu, penyuluh KB terus berupaya memberikan informasi agar masyarakat memahami pilihan kontrasepsi yang tersedia.
“Ini merupakan bentuk kepedulian suami kepada istri. KB bukan hanya tanggung jawab istri, tetapi suami juga memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan keluarga,” pungkasnya.
Melalui program tersebut, DP2KBP3A Subang berharap partisipasi pria dalam perencanaan keluarga semakin meningkat. Dengan demikian, keputusan mengenai jumlah anak dan penggunaan kontrasepsi dapat dibicarakan bersama, dengan mempertimbangkan kesehatan, kesiapan, serta kesejahteraan seluruh anggota keluarga.(hdi)
