Fakta Unik Tanjungsiang Subang, Kecamatan Pegunungan yang Punya Sejarah dan Budaya Menarik

PASUNDANEKSPRES.ID - Ada banyak fakta unik Tanjungsiang Subang yang membuat wilayah ini berbeda dari kawasan lain di Kabupaten Subang.
Berada di bagian selatan Kabupaten Subang, Kecamatan Tanjungsiang memiliki karakter geografis berupa perbukitan, hutan tropis, lembah, dan area pertanian yang berada pada ketinggian rata-rata sekitar 700 meter di atas permukaan laut.
Kondisi tersebut tidak hanya menghasilkan udara yang relatif sejuk, tetapi juga membentuk kehidupan masyarakat yang erat dengan pertanian, sungai, kerajinan tradisional, sejarah perjuangan kemerdekaan, hingga pengembangan ekowisata berbasis komunitas.
Tanjungsiang juga memiliki sejumlah desa dengan karakter budaya dan potensi wisata yang menarik untuk diketahui.
Fakta Unik Tanjungsiang Subang yang Menarik Untuk Diketahui
Berikut sejumlah fakta unik Tanjungsiang Subang yang dirangkum berdasarkan data geografis, sejarah, kebudayaan, dan potensi wisata wilayah tersebut.
1. Tanjungsiang Berada di Kawasan Pegunungan dengan Ketinggian Sekitar 700 Mdpl
Salah satu fakta unik Tanjungsiang Subang yang paling mudah dikenali adalah karakter geografisnya. Kecamatan ini berada di bagian selatan Kabupaten Subang dengan lanskap yang didominasi perbukitan dan hutan tropis.
Wilayah Tanjungsiang memiliki luas sekitar 5.953,765 hektare atau 59,53 kilometer persegi. Berdasarkan data yang tercantum dalam kajian, kepadatan penduduknya mencapai sekitar 588 jiwa per kilometer persegi.
Secara administratif, Tanjungsiang berbatasan dengan Kecamatan Cijambe di sebelah utara, Kabupaten Bandung Barat di sebelah selatan, Kecamatan Cisalak di sebelah barat, serta Kabupaten Sumedang di sebelah timur. Kondisi geografis tersebut membuat Tanjungsiang berada pada posisi strategis di kawasan Subang Selatan.
Saat ini terdapat 10 desa di Kecamatan Tanjungsiang, yaitu Buniara, Cibuluh, Cikawung, Cimeuhmal, Gandasoli, Kawungluwuk, Rancamanggung, Sindanglaya, Sirap, dan Tanjungsiang.
Jumlah tersebut merupakan hasil restrukturisasi wilayah setelah Desa Pakuhaji dimekarkan dan masuk ke wilayah Kecamatan Cisalak berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2007.
2. Nama Tanjungsiang Berkaitan dengan Topografi Wilayah
Nama Tanjungsiang juga mempunyai cerita tersendiri. Berdasarkan kajian toponimi dalam dokumen, nama tersebut diyakini berasal dari dua unsur bahasa Sunda, yakni “Tanjung” dan “Siang”.
“Tanjung” dikaitkan dengan daratan yang menjorok atau perbukitan yang menonjol, sedangkan “Siang” menggambarkan kondisi terang atau benderang.
Penafsiran tersebut dianggap memiliki keterkaitan dengan karakter wilayah yang berada di perbukitan terbuka dan mendapatkan paparan sinar matahari.
Sebelum perkembangan modern seperti sekarang, masyarakat di kawasan ini telah hidup dalam komunitas Sunda dan memanfaatkan sumber daya hutan serta pertanian sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
3. Tanjungsiang Punya Jejak Perjuangan KH Muhyiddin
Fakta unik Tanjungsiang Subang lainnya berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan. Wilayah ini memiliki hubungan erat dengan KH Muhyiddin atau Mama Pagelaran, seorang ulama yang memiliki peran dalam perjuangan melawan kolonialisme.
KH Muhyiddin diperkirakan lahir di Kampung Koromoy, Banyuresmi, Garut, sekitar tahun 1878–1880. Setelah menempuh pendidikan agama di sejumlah pesantren, ia kemudian berdakwah dan mendirikan lembaga pendidikan Islam.
Pada tahun 1920, KH Muhyiddin berpindah ke wilayah Cimeuhmal, Kecamatan Tanjungsiang. Di sana ia mendirikan Pondok Pesantren Pagelaran I. Pesantren tersebut tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi kemudian berkaitan dengan pengaderan laskar rakyat.
Dalam catatan sejarah yang digunakan kajian tersebut, KH Muhyiddin juga disebut sebagai Panglima Hizbullah dan terlibat dalam perjuangan melawan Belanda.
Ia memimpin laskar rakyat dalam sejumlah pertempuran, termasuk perjuangan di kawasan Bandung Utara dan perlawanan terhadap NICA di Ciater pada 1946.
Perannya tidak berhenti pada masa kolonial. Ia juga menentang gerakan DI/TII dan pengaruh PKI pada masa berikutnya. Sosok KH Muhyiddin semakin dikenal secara nasional karena merupakan kakek dari Ridwan Kamil.
4. Tanjungsiang Memiliki Tradisi Pandai Besi dan Golok Barlen
Sejarah perjuangan masyarakat Tanjungsiang juga berkaitan dengan perkembangan kerajinan logam. Di Kampung Cibeureum dan Cikadu, Desa Tanjungsiang, terdapat tradisi pandai besi yang menghasilkan berbagai produk berbahan logam.
Salah satu yang paling dikenal adalah Golok Barlen. Dalam catatan sejarah lokal, golok ini memiliki hubungan dengan masyarakat Subang dan laskar ulama pada masa perjuangan melawan kolonial Belanda.
Keahlian membuat golok tersebut masih dilestarikan oleh generasi penerus. Produk modern Golok Barlen memiliki berbagai bentuk dan fungsi, termasuk sebagai alat pertanian maupun perlengkapan luar ruangan.
Yang membuatnya semakin menarik adalah adanya proyek pembuatan golok raksasa oleh komunitas pembuat Golok Barlen Tanjungsiang. Lebih dari 100 pandai besi lokal terlibat dalam pembuatannya.
Golok tersebut memiliki panjang sekitar 13 meter dan menggunakan material baja tua yang dikaitkan dengan peninggalan era kolonial. Pada November 2021, golok raksasa tersebut dibawa ke pusat Kabupaten Subang dan kemudian ditempatkan sebagai koleksi di Museum Wisma Karya.
5. Tanjungsiang Juga Dikenal sebagai Sentra Kerajinan Seeng
Selain Golok Barlen, masyarakat Tanjungsiang mempunyai kerajinan tradisional lain yang tidak kalah menarik, yaitu Seeng atau dandang.
Seeng merupakan peralatan tradisional untuk mengukus nasi. Bentuknya khas, dengan bagian bawah yang lebih besar, bagian tengah menyempit, dan bagian atas kembali melebar. Secara tradisional, Seeng dibuat menggunakan lembaran tembaga yang ditempa.
Sentra kerajinan Seeng berkembang di sejumlah kawasan Tanjungsiang, terutama Kampung Tanjung dan Kampung Cikembang. Keberadaan kerajinan ini memiliki hubungan historis dengan peristiwa Bandung Lautan Api pada 23 Maret 1946.
Sebagian pengungsi dari kawasan Cileunyi yang sebelumnya memiliki keahlian membuat kerajinan tembaga berpindah ke Tanjungsiang. Setelah menetap, keterampilan tersebut diwariskan kepada generasi berikutnya dan berkembang menjadi salah satu identitas kerajinan lokal.
Menariknya, Seeng kini tidak hanya berfungsi sebagai alat memasak. Ketika penggunaan rice cooker semakin luas, fungsi Seeng dalam kehidupan sehari-hari memang berkurang.
Namun, benda tersebut tetap mempunyai nilai budaya, antara lain digunakan dalam acara pernikahan sebagai bagian dari seserahan dan dalam kegiatan hajatan masyarakat.
Pada Agustus 2018, masyarakat Tanjungsiang bahkan membuat Seeng terbesar sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kerajinan tradisional tersebut kepada masyarakat luas.
6. Ada Pertemuan Tujuh Aliran Sungai di Tanjungsiang
Tanjungsiang juga mempunyai keunikan hidrologis. Kawasan ini menjadi tempat bertemunya sejumlah aliran sungai yang kemudian membentuk sistem Sungai Cipunagara.
Tujuh aliran yang disebut dalam kajian tersebut adalah Sungai Cikaramas, Cinyaro, Cikembang, Citeureup, Cikaruncang, Cileat, dan Cipunagara.
Di kawasan Ciseupan terdapat formasi cadas yang secara lokal dikenal sebagai Sangiang Tikoro atau Sanghyang Tikoro. Lokasinya berada di kawasan yang relatif terpencil sehingga masih memiliki tingkat isolasi alam yang tinggi.
Nama Sanghyang Tikoro sendiri dalam bahasa Sunda dapat dimaknai sebagai “tenggorokan” yang berkaitan dengan bentuk lorong atau celah tempat air mengalir.
Kajian tersebut juga mencatat adanya mitologi lokal mengenai kawasan ini yang berkembang sebagai bagian dari sistem kepercayaan masyarakat.
7. Desa Cibuluh Mengembangkan Ekowisata Berbasis Masyarakat
Salah satu fakta unik Tanjungsiang Subang yang berkaitan dengan pariwisata adalah keberadaan Desa Wisata Cibuluh.
Desa Cibuluh memiliki luas sekitar 563 hektare dan berada pada elevasi sekitar 650 mdpl. Kawasan ini mengembangkan konsep wisata yang menggabungkan alam dengan budaya Sunda.
Sejak April 2016, Cibuluh dikembangkan sebagai desa wisata dengan tema “The Sundanese Culture Experience”. Pengelolaannya melibatkan pemerintah desa, masyarakat, akademisi, serta BUMDes.
Wisatawan juga dapat menginap di homestay yang dikelola masyarakat. Konsep tersebut membuat kegiatan pariwisata tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam pengelolaan ekonomi wisata.
8. Ada Festival 7 Sungai dengan Tradisi Menangkap Ikan
Desa Cibuluh juga memiliki Festival 7 Sungai, sebuah kegiatan yang mengangkat hubungan masyarakat dengan sungai.
Salah satu atraksi utamanya adalah kegiatan menangkap ikan secara bersama-sama atau Ngagogo. Dalam festival tersebut terdapat teknik tradisional seperti Ngecrek dan Ngeprok.
Ngecrek menggunakan jaring yang dilemparkan ke sungai, sedangkan Ngeprok dilakukan secara berkelompok dengan cara memukul permukaan air menggunakan galah bambu. Teknik tersebut bertujuan menggiring ikan menuju perangkap bambu atau bubu.
Festival ini sekaligus membawa pesan konservasi karena masyarakat diajak menjaga kebersihan sungai dan menghindari metode penangkapan ikan yang menggunakan bahan kimia. Pada 2022, Festival 7 Sungai masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) dan 30 West Java Event.
9. Tanjungsiang Punya Curug Wangun Setinggi Sekitar 220 Meter
Bagi pencinta wisata alam, salah satu fakta unik Tanjungsiang Subang yang menarik adalah keberadaan Curug Wangun di Kampung Wangun, Desa Buniara.
Air terjun ini memiliki formasi bertingkat dengan total ketinggian sekitar 220 meter. Alirannya terbagi menjadi tiga undakan, masing-masing sekitar 120 meter, 60 meter, dan 40 meter.
Lokasinya berada di kawasan hutan sehingga pengunjung perlu melakukan trekking dari area parkir desa menuju curug. Kondisi tersebut membuat Curug Wangun memiliki karakter wisata alam yang masih cukup natural.
10. Ada Curug Ciung Wanara untuk Wisata Petualangan
Selain Curug Wangun, Tanjungsiang memiliki Curug Ciung Wanara yang berada di kawasan Kampung Cibeureum, Desa Tanjungsiang.
Karakter wisatanya lebih cocok untuk pencinta petualangan karena aksesnya membutuhkan trekking yang lebih menantang. Perjalanan menuju lokasi dapat memakan waktu sekitar satu jam dari pusat desa dan melewati kawasan hutan.
Nama Curug Ciung Wanara juga dikaitkan dengan keberadaan burung ciung serta cerita budaya yang berkembang di Jawa Barat. Kawasan sekitarnya disebut masih menjadi habitat sejumlah fauna liar.
11. Ada Jamkris Hills dengan Perkebunan Jambu Kristal
Tanjungsiang juga mengembangkan potensi pertanian menjadi destinasi wisata melalui Bukit Pasir Jambu atau Jamkris Hills.
Lokasi ini berada di kawasan Cikadu, Desa Tanjungsiang, dengan elevasi sekitar 600 mdpl. Kawasan perbukitan tersebut dikembangkan sebagai perkebunan jambu kristal.
Pengunjung tidak hanya dapat menikmati pemandangan, tetapi juga memperoleh pengalaman wisata edukasi dengan memetik buah secara langsung. Pengelola juga menyediakan fasilitas camping dan glamping.
Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati panorama perbukitan dan lautan kabut pada pagi hari, dengan latar Gunung Tampomas dan Gunung Cangga.
12. Pertanian Tanjungsiang Tidak Hanya Mengandalkan Padi
Sebagai kawasan pegunungan, sektor pertanian menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Tanjungsiang. Selain padi dan palawija, wilayah ini juga mengembangkan komoditas bernilai ekonomi seperti tembakau.
Program pengembangan tembakau mulai diperkuat pada 2011 melalui lahan percontohan seluas 2 hektare dengan sekitar 12.000 bibit di Blok Cipeuteuy, Desa Rancamanggung.
Pengembangan komoditas tersebut kemudian diperluas ke wilayah perbukitan lainnya. Dalam kajian tersebut, tembakau juga disebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut melalui pemanfaatan turunannya sebagai bahan bio-insektisida, bio-fungisida, dan herbisida organik.
Berbagai fakta unik Tanjungsiang Subang menunjukkan bahwa kecamatan di wilayah selatan Kabupaten Subang ini memiliki karakter yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kawasan pegunungan.
Tanjungsiang mempunyai lanskap dengan ketinggian rata-rata sekitar 700 mdpl, sejarah perjuangan yang berkaitan dengan KH Muhyiddin, tradisi pandai besi Golok Barlen, kerajinan Seeng yang berkembang dari sejarah migrasi pengungsi Bandung Lautan Api, hingga ekowisata Desa Cibuluh dan Festival 7 Sungai.
Di bidang wisata alam, wilayah ini juga memiliki Curug Wangun, Curug Ciung Wanara, serta Jamkris Hills yang menggabungkan pertanian dengan aktivitas wisata.
Berbagai potensi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Tanjungsiang mempertahankan warisan budaya sekaligus mengembangkan sektor ekonomi baru.
Perpaduan antara sejarah, budaya Sunda, pertanian, kerajinan logam, sungai, dan wisata alam inilah yang membuat Tanjungsiang menjadi salah satu kawasan menarik untuk dikenal lebih jauh di Kabupaten Subang.
