Kasus ISPA di Subang Tembus 105.569 Kasus, Naik dari Tahun Lalu

SUBANG-Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Subang mengalami peningkatan hingga Agustus 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan , tercatat sebanyak 105.569 kasus ISPA di Subang dari berbagai kelompok usia.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 21.820 kasus terjadi pada balita usia 0 hingga kurang dari 5 tahun. Kemudian, 14.839 kasus pada anak usia 5-9 tahun, 13.369 kasus pada remaja usia 10-18 tahun, 36.690 kasus pada kelompok dewasa usia 19-59 tahun, serta 15.060 kasus pada lansia berusia di atas 60 tahun.
Jumlah kasus tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebanyak 98.990 kasus. Dengan demikian, terdapat penambahan sebanyak 6.579 kasus atau sekitar 6 persen.
Kepala Dinkes Subang melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr. Indriati, membenarkan adanya peningkatan kasus ISPA tersebut. Menurutnya, kenaikan kasus masih berada di kisaran enam persen.
“Peningkatannya 6.579 kasus ISPA, hanya sekitar 6 persen,” ujar dr. Indriati.
Ia menjelaskan, peningkatan kasus ISPA dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya kondisi lingkungan, terutama kualitas udara yang kurang baik akibat musim kemarau. Kondisi udara yang banyak mengandung debu dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.
“Banyak hal yang memengaruhi. Sekarang ini musim kering, udara memang debunya banyak, sehingga potensinya cukup besar untuk terjadinya ISPA,” jelasnya.
Menurutnya, paparan debu dan kualitas udara yang buruk dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Iritasi tersebut kemudian dapat membuat saluran pernapasan lebih mudah terinfeksi oleh kuman, bakteri maupun virus.
“Udara ini menyebabkan iritasi yang menimbulkan luka sehingga memudahkan terinfeksi kuman, bakteri dan virus,” katanya.
Selain faktor lingkungan, perubahan cuaca serta kondisi daya tahan tubuh juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena ISPA. Karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan, terutama saat kondisi cuaca dan kualitas udara kurang mendukung.
Terkait angka kematian akibat ISPA, Dinkes Subang menyebut tidak memiliki catatan khusus karena kematian akibat penyakit tersebut tidak masuk dalam pencatatan program ISPA.
“Tidak ada laporan ke kami, karena memang kami tidak mencatat laporan kematian karena ISPA kalau di program,” tuturnya.
Untuk menekan risiko penularan dan peningkatan kasus, Dinkes Subang mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Masyarakat juga diminta memperhatikan etika batuk dan bersin serta menggunakan masker, khususnya ketika beraktivitas di luar rumah selama musim kemarau.
“Kalau sedang sakit, gunakan masker. Kemudian bagi masyarakat yang keluar rumah sebaiknya juga menggunakan masker, mengingat sekarang sedang musim kemarau,” imbaunya.
Selain menggunakan masker, masyarakat juga dianjurkan menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan memperbanyak minum air putih. “Makan makanan bergizi biar daya tahan tubuh bagus, banyak minum air putih,” pungkasnya.(znl)
