Pasien Gawat Darurat Langsung Ditangani, RS Mitra Plumbon Subang Utamakan Triase

PASUNDANEKSPRES.ID - Rumah Sakit (RS) Mitra Plumbon Subang menegaskan komitmennya dalam memberikan pelayanan cepat bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis darurat. Salah satu langkah yang diterapkan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah triase, yakni proses memilah pasien berdasarkan tingkat kegawatan dan kondisi medisnya.
Dokter RS Mitra Plumbon Subang, dr. Iis Dwiyatiningsih, mengungkapkan bahwa triase menjadi tahap awal yang sangat penting ketika pasien tiba di IGD. Melalui proses tersebut, tenaga medis dapat menentukan prioritas penanganan sesuai dengan kondisi pasien, terutama bagi mereka yang mengalami penurunan kesadaran atau berada dalam kondisi kritis.
Menurutnya, pasien dengan penurunan kesadaran akan segera mendapatkan perhatian khusus dan diarahkan ke area resusitasi apabila kondisinya menunjukkan kegawatan. Area tersebut disiapkan untuk memberikan tindakan medis segera kepada pasien yang membutuhkan pertolongan cepat guna mencegah kondisi semakin memburuk.
Ia menjelaskan, penentuan tingkat kegawatan tidak hanya didasarkan pada satu gejala, tetapi juga mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan kondisi klinis pasien secara menyeluruh. Sebagai contoh, pasien yang mengalami patah tulang terbuka dengan risiko perdarahan dapat membutuhkan penanganan lebih intensif dibandingkan pasien dengan kondisi yang relatif stabil.
"Setelah pasien datang, perawat dan dokter akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Dari hasil penilaian tersebut, kami menentukan apakah pasien masuk kategori hijau, kuning, atau merah sesuai tingkat kegawatannya," ungkapnya.
Dalam sistem triase, kategori merah menunjukkan pasien yang membutuhkan penanganan segera karena kondisinya mengancam nyawa. Sementara itu, kategori kuning diberikan kepada pasien yang memerlukan penanganan medis dengan tingkat urgensi tertentu, dan kategori hijau umumnya diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi yang lebih stabil. Penetapan kategori tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas pelayanan di IGD.
Selain penanganan medis, komunikasi dengan keluarga pasien juga menjadi bagian penting dalam proses pelayanan. Pada kasus kecelakaan, misalnya, petugas perlu menggali informasi mengenai lokasi kejadian, waktu kecelakaan, serta apakah peristiwa tersebut terjadi ketika pasien sedang berangkat atau pulang bekerja. Informasi ini diperlukan untuk membantu proses administrasi dan pengurusan jaminan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dr. Iis menegaskan, penanganan pasien di IGD mengutamakan kebutuhan medis dan tingkat kegawatan, bukan semata-mata status kepesertaan jaminan atau kemampuan pembayaran.
"Karena itu, pasien yang membutuhkan pertolongan darurat harus mendapatkan penilaian dan tindakan medis sesuai kondisi klinisnya, dengan tetap mengikuti prosedur pelayanan rumah sakit," ujarnya.
RS Mitra Plumbon Subang
Ia juga menyampaikan, RS Mitra Plumbon Subang memiliki fasilitas untuk mendukung tindakan medis darurat, termasuk ruang resusitasi di IGD. Apabila kondisi pasien membutuhkan tindakan segera, tenaga medis akan melakukan penanganan sesuai indikasi medis dan prosedur yang berlaku, termasuk proses persetujuan tindakan apabila diperlukan dan memungkinkan secara klinis.
Melalui penerapan triase, kesiapan fasilitas, serta koordinasi antara dokter dan perawat, RS Mitra Plumbon Subang berharap pelayanan bagi pasien gawat darurat dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
"Komitmen ini menjadi bagian dari upaya rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang mengutamakan keselamatan pasien, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis setelah mengalami kecelakaan maupun kondisi darurat lainnya," pungkasnya. (znl/sep)
