PUPR Subang Cek Kualitas Jalan Hotmix dan Beton, Ini Standar CBR hingga Ketebalannya

SUBANG – PUPR Subang melalui UPTD Laboratorium melakukan pengecekan teknis di puluhan titik pekerjaan peningkatan jalan. Pemeriksaan dilakukan terhadap proyek jalan dengan perkerasan hotmix maupun cor rigid beton untuk memastikan pekerjaan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Subang melalui UPTD Laboratorium melakukan pengecekan lapangan terhadap puluhan titik pekerjaan peningkatan jalan di Kabupaten Subang.
Pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah pekerjaan jalan, baik yang menggunakan metode hotmix maupun cor rigid beton.
Kepala UPTD Laboratorium Dinas PUPR Kabupaten Subang, Asep Saepudin, mengatakan pemeriksaan lapangan dilakukan sebagai bagian dari pengujian teknis pekerjaan jalan.
Menurut Asep, pembangunan jalan kabupaten memiliki ketentuan teknis yang mengacu pada aturan nasional Kementerian PUPR serta spesifikasi yang disesuaikan dengan kebijakan Dinas PUPR Kabupaten Subang.
Pengujian tersebut antara lain mencakup nilai California Bearing Ratio (CBR), kepadatan, dan ketebalan lapisan jalan, baik untuk perkerasan lentur maupun perkerasan kaku.
Asep menjelaskan, pada perkerasan lentur atau jalan aspal hotmix, kekuatan jalan bergantung pada struktur lapisan yang tersusun secara berjenjang.
Untuk tanah dasar atau subgrade, nilai CBR minimal sebesar 6 persen. Apabila kondisi tanah asli memiliki CBR di bawah 6 persen, diperlukan stabilisasi atau penggunaan timbunan pilihan.
Sementara itu, lapis fondasi bawah atau Agregat B memiliki nilai CBR minimal 60 persen. Untuk lapis fondasi atas atau Agregat A, nilai CBR minimal berada pada kisaran 90 hingga 100 persen.
Dari sisi kepadatan, lapisan agregat A dan B minimal mencapai 100 persen dari kepadatan kering maksimum berdasarkan pengujian Modified Proctor.
Sedangkan untuk lapisan aspal hotmix, kepadatan hasil pengujian core drill di lapangan minimal 97 persen dari kepadatan laboratorium atau kepadatan mutlak/Marshall.
Untuk ketebalan, lapis Agregat B umumnya berkisar 15 hingga 20 sentimeter, sedangkan Agregat A umumnya 15 sentimeter.
Adapun lapisan aspal AC-BC maupun AC-WC untuk jalan kabupaten kelas menengah memiliki ketebalan total sekitar 4 hingga 8 sentimeter, tergantung beban lalu lintas harian.
Untuk perkerasan kaku atau rigid pavement, struktur jalan menggunakan plat beton yang menyalurkan beban ke area tanah yang lebih luas.
Asep mengatakan nilai CBR tanah dasar minimal 6 persen. Kondisi tanah dasar menjadi bagian penting karena berkaitan dengan potensi penurunan setempat atau settlement.
Pada lapisan fondasi bawah, yang dapat menggunakan LPA Kelas A atau lean concrete, kepadatan harus mencapai 100 persen sebelum beton struktur dihamparkan.
Berbeda dengan lapisan tanah, mutu beton struktur tidak diukur melalui pengujian kepadatan tanah.
Pengujian beton dilakukan terhadap mutu karakteristik kuat lentur (flexural strength), dengan nilai minimal fs 45 yang disebut setara dengan mutu beton K-350 atau fc' 30 MPa.
Pengujian dilakukan dengan mengambil sampel balok beton atau silinder pada saat proses pengecoran.
Untuk ketebalan, lapis dasar atau lean concrete sebagai lantai kerja umumnya memiliki ketebalan 5 hingga 10 sentimeter dengan menggunakan beton mutu rendah B0.
Sementara itu, plat beton utama pada pekerjaan cor rigid untuk jalan kabupaten Subang berkisar 15 hingga 20 sentimeter. Ketebalan tersebut disesuaikan dengan volume kendaraan, termasuk kendaraan berat, yang melintas di wilayah kecamatan setempat.
PUPR Subang mengecek puluhan titik jalan hotmix dan rigid beton. Pemeriksaan meliputi CBR, kepadatan, mutu beton hingga ketebalan jalan.(red)
