Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Sejarah Subang pada Masa Kemerdekaan: Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI

D
Dobi MaulanaEditor: Dobi Maulana
|19:00 WIB
Bagikan:
Sejarah Subang pada Masa Kemerdekaan: Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI
Potret Hoofdkantoor Soebang/ex Hotel Subang Plaza pada tahun 1940.

PASUNDANEKSPRES.ID - Sejarah Subang pada masa kemerdekaan menjadi bagian penting dari perjalanan perjuangan bangsa Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Wilayah Subang tidak hanya menjadi saksi berbagai peristiwa penting pada masa pendudukan Jepang, tetapi juga menjadi salah satu wilayah strategis dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Letak Subang yang strategis, terutama karena berada di antara wilayah Jakarta, Karawang, Bandung, dan Purwakarta, membuat daerah ini memiliki peran penting dalam dinamika perjuangan pada masa revolusi kemerdekaan.

Perjuangan Subang Sebelum Kemerdekaan

Sebelum membahas sejarah Subang pada masa kemerdekaan, penting untuk melihat perkembangan gerakan nasionalisme yang sudah tumbuh sejak masa penjajahan.

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Subang, gerakan nasionalisme di Subang mulai terlihat pada awal abad ke-20. Setelah Kongres Sarekat Islam di Bandung pada 1916, organisasi Sarekat Islam kemudian berdiri di sejumlah wilayah Subang, termasuk Pringkasap, Pabuaran, dan Sukamandi, Ciasem.

Pergerakan masyarakat kemudian semakin berkembang. Pada 1928 berdiri Paguyuban Pasundan di Subang. Dua tahun kemudian, Odeng Jayawisastra bersama rekan-rekannya melakukan pemogokan di percetakan P & T Lands.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bentuk perlawanan terhadap kondisi kolonial sekaligus menunjukkan berkembangnya kesadaran politik masyarakat setempat.

Perkembangan organisasi pergerakan tersebut menjadi salah satu modal penting bagi masyarakat Subang ketika memasuki periode pendudukan Jepang dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Subang pada Masa Pendudukan Jepang

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Subang pada masa kemerdekaan tidak dapat dipisahkan dari pendudukan Jepang pada 1942.

Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di kawasan Eretan Timur. Pasukan Jepang kemudian bergerak dan berhasil merebut pangkalan udara Kalijati.

Penguasaan pangkalan tersebut menjadi peristiwa penting karena tidak lama kemudian terjadi penyerahan kekuasaan dari pemerintah Hindia Belanda kepada Jepang.

Peristiwa penyerahan tersebut berlangsung di Kalijati dan menjadi salah satu catatan sejarah penting bagi wilayah Subang. Pemerintah Kabupaten Subang juga mencatat keberadaan Rumah Sejarah di Kalijati sebagai tempat yang berkaitan dengan peristiwa penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang.

Selama pendudukan Jepang, perjuangan masyarakat tidak berhenti. Sejumlah tokoh dan pejuang melakukan gerakan bawah tanah. Namun, perjuangan tersebut menghadapi risiko besar. Pemerintah Kabupaten Subang mencatat bahwa Sukandi, R. Kartawiguna, dan Sasmita ditangkap serta dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 membawa perubahan besar di berbagai daerah, termasuk Subang.

Setelah berita kemerdekaan menyebar, masyarakat Subang mulai membentuk berbagai organisasi dan badan perjuangan. Di antaranya adalah Badan Keamanan Rakyat (BKR), Angkatan Pemuda Indonesia (API), Pesindo, dan Lasykar Uruh.

Sejumlah anggota badan-badan perjuangan tersebut kemudian bergabung menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan masyarakat Subang tidak berhenti setelah proklamasi, tetapi berlanjut dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya kekuatan kolonial.

Subang Menjadi Wilayah Strategis dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Pada masa revolusi kemerdekaan, posisi geografis Subang memiliki arti strategis. Ketika tentara KNIL kembali menduduki Bandung, para pejuang dari wilayah Subang menghadapi situasi tersebut melalui dua front, yakni front selatan di Lembang dan front barat di wilayah Gunung Putri serta Bekasi.

Perjuangan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Subang turut terlibat dalam mempertahankan wilayah Republik Indonesia dari tekanan pasukan Belanda dan sekutunya.

Peran strategis Subang semakin terlihat pada 1946 ketika Karesidenan Jakarta berkedudukan di Subang. Pemilihan Subang sebagai lokasi pemerintahan keresidenan didasarkan pada pertimbangan strategis dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Sewaka tercatat sebagai residen pertama yang berkedudukan di Subang. Ia kemudian menjadi Gubernur Jawa Barat. Setelah itu, jabatan residen dipegang oleh sejumlah tokoh lain, termasuk Kusnaeni dan Kosasih Purwanegara.

Perjuangan Gerilya di Wilayah Subang

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan semakin berat ketika Indonesia menghadapi Agresi Militer Belanda.

Pada masa gerilya, pemerintahan Republik Indonesia tetap berusaha menjalankan roda pemerintahan dari wilayah yang relatif aman. Dalam kondisi tersebut, para pejabat pemerintahan bersama pejuang bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Pemerintah Kabupaten Subang mencatat bahwa selama masa gerilya Agresi Militer Belanda I, residen tetap berada di sekitar wilayah Subang dan bersama para pejuang bermukim di daerah seperti Songgom, Surian, dan Cimenteng.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan di Subang bukan hanya berupa pertempuran bersenjata, tetapi juga mempertahankan keberlangsungan pemerintahan Republik Indonesia di tengah tekanan militer Belanda.

Peristiwa 5 April 1948 dan Lahirnya Kabupaten Subang

Salah satu bagian paling penting dalam sejarah Subang pada masa kemerdekaan adalah peristiwa yang berlangsung pada 5 April 1948.

Sebelumnya, terjadi kekosongan komunikasi dan perubahan situasi pemerintahan akibat kondisi perjuangan. Dalam keadaan tersebut, digelar rapat pada 5 April 1948 di Cimanggu, Desa Cimenteng.

Rapat tersebut menghasilkan sejumlah keputusan penting. Salah satunya adalah penunjukan Wakil Residen Mukmin menjadi residen yang berkedudukan di daerah gerilya Purwakarta.

Selain itu, wilayah Karawang Timur ditetapkan menjadi Kabupaten Karawang Timur dengan Danta Gandawikarma sebagai bupati pertama, sedangkan wilayah Karawang Barat menjadi Kabupaten Karawang Barat dengan Syafei sebagai bupati pertama.

Wilayah Kabupaten Karawang Timur pada masa tersebut mencakup wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta. Dalam perkembangan berikutnya, momentum 5 April 1948 kemudian digunakan sebagai dasar sejarah lahirnya Kabupaten Subang.

Penetapan 5 April 1948 sebagai momentum kelahiran Kabupaten Subang kemudian ditetapkan melalui Keputusan DPRD Nomor 01/SK/DPRD/1977.

Subang dan Warisan Perjuangan Kemerdekaan

Sejarah perjuangan di Subang meninggalkan berbagai warisan sejarah yang hingga kini masih dapat dikenang oleh masyarakat. Salah satunya adalah Rumah Sejarah Kalijati, yang berkaitan erat dengan peristiwa penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang pada 1942.

Tempat tersebut menjadi salah satu lokasi yang mengingatkan generasi sekarang terhadap rangkaian peristiwa yang terjadi menjelang masa kemerdekaan Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Subang juga pernah menampilkan sejarah perjuangan di Rumah Sejarah Lanud R. Suryadi Suryadarma Kalijati dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Subang juga terus mengangkat sejarah perjuangan tokoh-tokoh daerah. Dalam salah satu kegiatan seminar sejarah, pemerintah daerah menyinggung jasa tokoh seperti KH Muhyidin dan Raden Ama Puradireja dalam perjuangan melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan.

Berita Terbaru

Perbedaan PPPK Paruh Waktu dan Penuh Waktu Terbaru

Perbedaan PPPK Paruh Waktu dan Penuh Waktu Terbaru

Nasional14 menit lalu
Kenali Gejala Super Flu H3N2 Subclade K, Apa Bedanya dengan Influenza Biasa?

Kenali Gejala Super Flu H3N2 Subclade K, Apa Bedanya dengan Influenza Biasa?

Lifestyle18 menit lalu
World Pharmacists Day 2026, IAI Subang Perang Melawan Peredaran Gelap Tramadol hingga Alprazolam

World Pharmacists Day 2026, IAI Subang Perang Melawan Peredaran Gelap Tramadol hingga Alprazolam

Subang18 menit lalu
World Pharmacists Day 2026, IAI Subang Perang Melawan Peredaran Gelap Tramadol hingga Alprazolam

World Pharmacists Day 2026, IAI Subang Perang Melawan Peredaran Gelap Tramadol hingga Alprazolam

Headline36 menit lalu
ADVERTISEMENT
Divonis 1 Tahun 6 Bulan, Kades Banggalamulya Masih Pertimbangkan Upaya Hukum

Divonis 1 Tahun 6 Bulan, Kades Banggalamulya Masih Pertimbangkan Upaya Hukum

Headline1 jam lalu
Ini Dia Peluang Kerja Fresh Graduate di Kawasan Industri Subang

Ini Dia Peluang Kerja Fresh Graduate di Kawasan Industri Subang

Lifestyle1 jam lalu
Hasil Undian Badminton AG 2026 Perorangan: Rachel/Febi Langsung Jumpa Tan/Thinaah

Hasil Undian Badminton AG 2026 Perorangan: Rachel/Febi Langsung Jumpa Tan/Thinaah

Olahraga1 jam lalu
SMP Negeri 3 Purwakarta Bentuk Karakter Siswa, Ditempa di Mako Brimob

SMP Negeri 3 Purwakarta Bentuk Karakter Siswa, Ditempa di Mako Brimob

Purwakarta1 jam lalu
Camat Purwakarta Perkuat Koordinasi dan Optimalisasi Pelayanan Masyarakat

Camat Purwakarta Perkuat Koordinasi dan Optimalisasi Pelayanan Masyarakat

Purwakarta1 jam lalu
Kelola Sampah Rumah Tangga, DLH dan HWB Purwakarta Teken Kerjasama

Kelola Sampah Rumah Tangga, DLH dan HWB Purwakarta Teken Kerjasama

Purwakarta1 jam lalu