Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Ternyata Begini Sejarah Sagalaherang Subang, Ada Jejak Wangsa Goparana Sejak Abad ke-16

K
Khoirul AnsoriEditor: Dobi Maulana
|14:28 WIB
Bagikan:
Ternyata Begini Sejarah Sagalaherang Subang, Ada Jejak Wangsa Goparana Sejak Abad ke-16
Ternyata Begini Sejarah Sagalaherang Subang, Ada Jejak Wangsa Goparana Sejak Abad ke-16

PASUNDAN EKSPRES.ID – Sejarah Sagalaherang Subang memiliki perjalanan panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan masyarakat, penyebaran Islam, pemerintahan lokal, hingga perkebunan pada masa kolonial.

Wilayah yang kini menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Subang ini juga menyimpan sejumlah catatan penting yang membuatnya berbeda dari sekadar kawasan administratif.

Berdasarkan catatan resmi Pemerintah Kabupaten Subang, jejak kehidupan masyarakat masa prasejarah ditemukan di Dayeuhkolot, Sagalaherang.

Selain itu, situs Kampung Engkel di Sagalaherang juga disebut sebagai salah satu temuan yang berkaitan dengan perkembangan kebudayaan perunggu di wilayah Subang. 

Sejarah Sagalaherang Subang

Sejarah Sagalaherang Subang dan jejak kehidupan prasejarah

Pembahasan mengenai sejarah Sagalaherang Subang dapat ditarik hingga masa sebelum berkembangnya kerajaan-kerajaan besar di wilayah Jawa Barat.

Pemerintah Kabupaten Subang mencatat adanya temuan kapak batu di sejumlah wilayah, salah satunya Dayeuhkolot, Sagalaherang.

Benda-benda bercorak neolitikum tersebut menjadi bukti adanya kelompok masyarakat yang telah tinggal di wilayah Subang pada masa prasejarah dan menjalankan kehidupan pertanian dengan pola sederhana.

Tidak hanya itu, situs Kampung Engkel di Sagalaherang juga disebut dalam sejarah Kabupaten Subang sebagai lokasi temuan yang berkaitan dengan kebudayaan perunggu.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa kawasan Sagalaherang mempunyai jejak kehidupan masyarakat yang cukup panjang sebelum memasuki periode kerajaan dan pemerintahan modern.

Wangsa Goparana dan perkembangan Islam

Salah satu bagian yang paling dikenal dalam sejarah Sagalaherang Subang adalah kisah Raden Aria Wangsa Goparana. 

Menurut Pemerintah Kabupaten Subang, sekitar tahun 1530, Wangsa Goparana yang berasal dari Talaga, Majalengka, membuka permukiman baru di Sagalaherang sekaligus menyebarkan agama Islam ke berbagai wilayah Subang. Ia kemudian menetap di kawasan Sagalaherang. 

Pemerintah Kabupaten Subang juga mencatat bahwa wilayah penyebaran Islam Wangsa Goparana tidak hanya berada di Subang.

Dalam catatan tersebut disebutkan wilayah yang berkaitan dengan aktivitas penyebarannya antara lain Purwakarta, Cianjur, Sukabumi dan Limbangan. 

Makam Raden Aria Wangsa Goparana sampai sekarang menjadi salah satu lokasi yang berkaitan erat dengan sejarah Sagalaherang.

Pemerintah Kabupaten Subang mencatat makam tersebut berada di Blok Nangka Beurit, Desa Sagalaherang Kaler, Kecamatan Sagalaherang. 

Sagalaherang pada masa pemerintahan kolonial

Memasuki periode kolonial, wilayah Subang mengalami perubahan besar dalam sistem pemerintahan dan penguasaan lahan.

Penelitian mengenai perkembangan perkebunan swasta P&T Lands menyebut bahwa pada masa pemerintahan Raffles, wilayah Subang dibagi ke dalam dua distrik, yakni Distrik Ciasem dan Distrik Pamanukan.

Dalam pembagian tersebut, wilayah seperti Pagaden, Sagalaherang dan Batu Sirap termasuk dalam cakupan pemerintahan distrik.

Perkembangan perkebunan kemudian semakin memengaruhi struktur pemerintahan lokal. Pamanoekan en Tjiasemlanden atau P&T Lands berkembang menjadi perusahaan perkebunan dengan wilayah penguasaan lahan yang sangat luas.

Dalam catatan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta, kawasan P&T Lands kemudian dibagi menjadi delapan kademangan. Salah satunya adalah Kademangan Sagalaherang yang berkedudukan di Sagalaherang. 

Delapan kademangan tersebut terdiri atas Batusirap, Sagalaherang, Ciherang, Pagaden, Pamanukan, Ciasem, Malang dan Kalijati.

Pembagian itu menunjukkan bahwa Sagalaherang pernah mempunyai posisi penting dalam sistem administrasi wilayah perkebunan P&T Lands.

Perkebunan kopi dan Sagalaherang

Sejarah ekonomi Sagalaherang juga tidak dapat dipisahkan dari aktivitas perkebunan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sejarah dan Budaya mencatat bahwa perkembangan P&T Lands membawa pembukaan wilayah-wilayah perkebunan, termasuk kawasan Sagalaherang.

Salah satu catatan sejarah yang ditampilkan dalam penelitian tersebut adalah keberadaan kantor sekaligus pabrik kopi di Tenggeragung, Sagalaherang, yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-19 hingga awal abad ke-20. 

Komoditas perkebunan pada masa tersebut tidak hanya kopi. Penelitian sejarah P&T Lands mencatat adanya pengembangan komoditas seperti teh, lada dan tanaman perkebunan lainnya.

Perluasan perkebunan turut mendorong pembangunan jalan, jembatan, kantor dan fasilitas produksi di berbagai wilayah.

Hal tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Sagalaherang karena kawasan ini berada di wilayah pegunungan Subang yang secara geografis berbeda dengan kawasan Pantura.

Kondisi Sagalaherang pada 2026

Saat ini, Kecamatan Sagalaherang merupakan bagian dari Kabupaten Subang. Data Pemerintah Kabupaten Subang mencatat luas Kecamatan Sagalaherang sekitar 50,45 kilometer persegi dan terdiri atas 7 desa. 

Desa-desa tersebut adalah Curugagung, Leles, Sagalaherang Kaler, Sagalaherang Kidul, Dayeuhkolot, Sukamandi dan Cicadas. 

Dari sisi geografis, Sagalaherang termasuk kawasan pegunungan Subang.

Pemerintah Kabupaten Subang mencatat wilayah pegunungan dengan ketinggian 500 sampai 1.500 meter di atas permukaan laut mencakup Kecamatan Sagalaherang dan sejumlah kecamatan lain di bagian selatan Kabupaten Subang. 

Kondisi tersebut membuat karakter wilayah Sagalaherang berbeda dengan daerah Subang bagian utara yang lebih banyak berupa dataran rendah.

Daftar lokasi penting di Sejarah Sagalaherang Subang

Bagi kamu yang ingin mengenal kawasan yang berkaitan dengan sejarah Sagalaherang Subang, berikut sejumlah lokasi penting yang dapat menjadi titik orientasi:

  • Makam Raden Aria Wangsa Goparana — Blok Nangka Beurit, Desa Sagalaherang Kaler, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41282. Lokasi ini tercatat secara resmi oleh Pemkab Subang sebagai tempat dimakamkannya Wangsa Goparana. 
  • Kantor Kecamatan Sagalaherang — Jl. Alun-alun Selatan No. 98, Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41282.
  • Alun - alun Sagalaherang — kawasan pusat Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41282.
  • Masjid Besar Al-Ikhlash — Jl. Sagala Herang Subang No. 32, Sagalaherang, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41282.
  • Masjid Al-Jihad — Jl. Kampung Babakanrandu, Dayeuhkolot, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41282.
  • Masjid Jamie Al barokah sagalaherang subang — Jl. Sagala Herang Subang No. 34, Sagalaherang Kaler, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41282.

Untuk situs prasejarah seperti temuan di Dayeuhkolot dan Kampung Engkel, sumber resmi Pemkab Subang menyebut keberadaan temuan tersebut dalam sejarah Kabupaten Subang, tetapi tidak memberikan alamat kunjungan wisata atau tarif masuk.

Karena itu, lokasi tersebut tidak dapat dianggap sebagai objek wisata berbayar tanpa informasi resmi tambahan. 

Sagalaherang dalam catatan sejarah Subang

Dari temuan prasejarah, perkembangan Islam pada sekitar abad ke-16, hingga kedudukannya sebagai Kademangan Sagalaherang pada masa P&T Lands, wilayah ini mempunyai beberapa lapisan sejarah yang saling berkaitan.

Pada 2026, Sagalaherang telah berkembang menjadi kecamatan dengan tujuh desa dan tetap menjadi salah satu wilayah pegunungan di Kabupaten Subang.

Catatan pemerintah mengenai Wangsa Goparana, peninggalan prasejarah, serta sejarah P&T Lands menjadi rujukan penting untuk melihat bagaimana kawasan ini berkembang dari masa ke masa. 

Bagi kamu yang ingin menelusuri sejarah Sagalaherang Subang lebih jauh, makam Wangsa Goparana, kawasan Dayeuhkolot, serta arsip mengenai Kademangan Sagalaherang menjadi beberapa titik dan sumber yang dapat digunakan untuk memahami perjalanan wilayah sejarah Sagalaherang Subang ini.

Berita Terbaru

PLN UID Jabar Raih Rekor MURI, Pemeliharaan Listrik Tanpa Padam Jaga Aktivitas Masyarakat Tetap Jalan

PLN UID Jabar Raih Rekor MURI, Pemeliharaan Listrik Tanpa Padam Jaga Aktivitas Masyarakat Tetap Jalan

Bandung Barat5 jam lalu
Perpani Bakal Gelar Latihan Gabungan Panahan di Subang

Perpani Bakal Gelar Latihan Gabungan Panahan di Subang

Subang5 jam lalu
Talenta Muda, Taofik Kaka Tembus Persib U-18

Talenta Muda, Taofik Kaka Tembus Persib U-18

Subang6 jam lalu
Bukan Hanya Seorang Kades, Dunengsih Jadi Sosok Sebagai Ibu

Bukan Hanya Seorang Kades, Dunengsih Jadi Sosok Sebagai Ibu

Subang6 jam lalu
ADVERTISEMENT
Merasa Lupa Password? Ini Cara Login Instagram dengan Metode Lain

Merasa Lupa Password? Ini Cara Login Instagram dengan Metode Lain

Lifestyle7 jam lalu
Dahan Pohon Patah di Jalan Soklat Subang, Pengendara Ojol Jadi Korban

Dahan Pohon Patah di Jalan Soklat Subang, Pengendara Ojol Jadi Korban

Subang7 jam lalu
Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Kemenkes Beberkan Cara Cegah Anak Tertular

Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Kemenkes Beberkan Cara Cegah Anak Tertular

Lifestyle7 jam lalu
Skill yang Wajib Dimiliki Fresh Graduate untuk Kerja

Skill yang Wajib Dimiliki Fresh Graduate untuk Kerja

Lifestyle8 jam lalu
Daftar Drama Korea Tayang Oktober 2026, Ada Doctor X

Daftar Drama Korea Tayang Oktober 2026, Ada Doctor X

Lifestyle9 jam lalu
Gelar Aksi Peduli Sesama, Kementerian ATR/BPN Selenggarakan HANTARU Peduli Lewat Donor Darah

Gelar Aksi Peduli Sesama, Kementerian ATR/BPN Selenggarakan HANTARU Peduli Lewat Donor Darah

Nasional10 jam lalu