Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Warga Sulap Olahan Limbah Daun Nanas di Subang Jadi Serat Tekstil Bernilai Ekonomi

R
Rian AlfianEditor: Rian Alfian
|11:00 WIB
Bagikan:
Warga Sulap Olahan Limbah Daun Nanas di Subang Jadi Serat Tekstil Bernilai Ekonomi
Serat limbah daun nanas sedang dijemur di Desa Cikadu, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Foto:kumparan

SUBANG – Daun nanas yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah setelah panen kini mulai memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat Desa Cikadu, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Di tangan warga yang tergabung dalam kelompok Pinlefi (Pineapple Leaf Fiber), daun nanas diolah menjadi serat alam yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku tekstil, fesyen ramah lingkungan hingga berbagai produk kerajinan.

Inovasi tersebut dikembangkan Alan Sahroni bersama kelompok Pinlefi melalui program Pesona Subang (Pemanfaatan Serat Olahan Daun Nanas Subang). Program ini tidak hanya berupaya mengurangi persoalan limbah pertanian, tetapi juga membuka peluang penghasilan tambahan bagi masyarakat.

Hingga kini, program tersebut telah melibatkan 44 warga, mulai dari petani, pemuda hingga kelompok perempuan. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 160 kilogram serat kering setiap bulan.

Alan mengatakan, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak semata-mata diukur dari jumlah produk yang mampu dihasilkan. Lebih dari itu, keberhasilan terlihat dari masyarakat yang mampu kembali produktif dan memperoleh manfaat ekonomi dari potensi yang ada di lingkungan mereka.

“Keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya produk yang dihasilkan semata, tetapi dari berapa banyak masyarakat yang kembali berdaya, mandiri, dan tersenyum karena potensi lokalnya dihargai,” ujar Alan dalam rilisnya, Rabu (2/9/2026).

Berawal dari Persoalan Limbah Daun Nanas

Kabupaten Subang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil nanas di Jawa Barat. Namun, tingginya produksi nanas juga menghasilkan limbah daun dalam jumlah besar.

Setiap satu hektare kebun nanas disebut dapat menghasilkan hingga 14 ton limbah daun. Sebelum dimanfaatkan, sebagian daun sisa panen tersebut dibuang atau dibakar oleh petani.

Pembakaran daun nanas bukan hanya membuat limbah tidak memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menghasilkan asap yang dapat mengganggu kualitas udara di sekitar permukiman.

Persoalan tersebut kemudian mendorong Alan mencari cara agar daun nanas tidak berakhir sebagai limbah. Bersama Pertamina EP (PEP) Subang Field, pengembangan kelompok Pinlefi dilakukan melalui program Pesona Subang.

Daun yang sebelumnya dibuang atau dibakar mulai dikumpulkan untuk kemudian diproses menjadi serat alam. Langkah tersebut membuat limbah pertanian berubah menjadi bahan baku yang memiliki nilai tambah.

Bagi petani, pemanfaatan daun nanas membuka peluang pendapatan tambahan. Sementara proses pengolahannya menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi warga yang bekerja sebagai operator mesin hingga penenun.

Mesin Dimodifikasi untuk Mengolah Serat

Pengembangan inovasi tersebut kemudian dilanjutkan melalui program Serat Cinta (Sinergi Ekonomi Rakyat Berbasis Alam Terbarukan melalui Cipta Inovasi dan Nilai Tambah) pada 2024.

Salah satu inovasi yang dikembangkan Alan adalah memodifikasi mesin dekortikator agar dapat digunakan untuk mengekstraksi serat dari tanaman.

Menariknya, mesin tersebut tidak hanya dapat digunakan untuk mengolah daun nanas. Batang atau gedebog pisang yang biasanya menjadi limbah setelah panen juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan serat.

Serat yang dihasilkan selanjutnya dapat diproses menjadi benang dan kain. Bahan tersebut kemudian berpotensi digunakan untuk membuat produk eco-fashion maupun berbagai kerajinan.

Dengan proses tersebut, limbah pertanian yang sebelumnya tidak bernilai dapat berubah menjadi bahan baku bernilai ekonomi sekaligus menciptakan sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

Libatkan 44 Warga

Program pengolahan serat alam di Desa Cikadu kini telah memberdayakan 44 warga dari berbagai kelompok.

Petani memperoleh manfaat dari daun nanas yang sebelumnya hanya menjadi limbah. Warga lainnya mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam proses produksi, mulai dari pengoperasian mesin hingga menenun serat menjadi produk bernilai tambah.

Bagi Alan, pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dari inovasi yang dikembangkan. Ia ingin potensi lokal tidak hanya berhenti sebagai bahan mentah, tetapi mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

Upaya tersebut turut mengantarkan Alan meraih penghargaan Gold kategori Best Local Hero dalam ajang Community Involvement and Development (CID) Upstream Award 2026 yang diselenggarakan PT Pertamina Hulu Energi pada pertengahan Agustus 2026 di Jakarta.

Senior Manager Pertamina EP Subang Field Despredi Akbar mengatakan, pengembangan inovasi berbasis potensi lokal diharapkan mampu terus mendorong kemandirian masyarakat.

“Kami percaya pemberdayaan sejati lahir dari kemandirian masyarakat,” ujar Despredi.

Menurutnya, perusahaan akan terus melanjutkan pendampingan terhadap masyarakat yang terlibat dalam program tersebut.

Pemanfaatan daun nanas dan batang pisang menjadi serat diharapkan tidak hanya menjadi solusi untuk mengurangi limbah pertanian di Subang, tetapi juga berkembang menjadi ekosistem ekonomi baru yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Dari kebun nanas, sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini memiliki peluang menjadi benang, kain, produk fesyen hingga kerajinan bernilai jual. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa limbah pertanian pun bisa menjadi sumber penghasilan apabila diolah dengan kreativitas dan teknologi yang tepat.

Berita Terbaru

Acara HUT TNI 2026 Dipindah ke Cilangkap, Ini Jadwalnya

Acara HUT TNI 2026 Dipindah ke Cilangkap, Ini Jadwalnya

Nasional3 jam lalu
POLSUB dan Pengda FORBASI Jabar Resmi Gelar Kejurda 2026

POLSUB dan Pengda FORBASI Jabar Resmi Gelar Kejurda 2026

Subang3 jam lalu
Motor Warga Hilang, Keamanan Parkir di Pasar Malam Lapangan Bintang Subang jadi Sorotan

Motor Warga Hilang, Keamanan Parkir di Pasar Malam Lapangan Bintang Subang jadi Sorotan

Subang4 jam lalu
Polres Subang Sasar Miras hingga Knalpot Brong Dalam Patroli KRYD

Polres Subang Sasar Miras hingga Knalpot Brong Dalam Patroli KRYD

Subang4 jam lalu
ADVERTISEMENT
Prediksi Cuaca Kabupaten Subang 5 Oktober 2026: Berawan, Suhu hingga 35 Derajat Celsius

Prediksi Cuaca Kabupaten Subang 5 Oktober 2026: Berawan, Suhu hingga 35 Derajat Celsius

Subang4 jam lalu
Proyek PSEL di Bandung Barat Mulai Dibangun, Apa Dampaknya bagi Lingkungan?

Proyek PSEL di Bandung Barat Mulai Dibangun, Apa Dampaknya bagi Lingkungan?

Bandung Barat8 jam lalu
Segini Gaji Karyawan Pabrik Mobil Listrik di Subang, Operator Bisa Bawa Pulang Rp5 Jutaan

Segini Gaji Karyawan Pabrik Mobil Listrik di Subang, Operator Bisa Bawa Pulang Rp5 Jutaan

Jawa Barat11 jam lalu
Mitra Samira Travel Resmi Hadir di Subang, Permudah Warga Wujudkan Impian ke Tanah Suci

Mitra Samira Travel Resmi Hadir di Subang, Permudah Warga Wujudkan Impian ke Tanah Suci

Headline12 jam lalu
Jadi Finalis FIFA ASEAN Cup 2026, Segini Posisi Timnas Indonesia di Ranking FIFA

Jadi Finalis FIFA ASEAN Cup 2026, Segini Posisi Timnas Indonesia di Ranking FIFA

Olahraga12 jam lalu
Polres Subang Sasar Miras hingga Knalpot Brong, 64 Botol dan 9 Motor Diamankan

Polres Subang Sasar Miras hingga Knalpot Brong, 64 Botol dan 9 Motor Diamankan

Headline13 jam lalu