Warga Sulap Olahan Limbah Daun Nanas di Subang Jadi Serat Tekstil Bernilai Ekonomi

SUBANG – Daun nanas yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah setelah panen kini mulai memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat Desa Cikadu, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Di tangan warga yang tergabung dalam kelompok Pinlefi (Pineapple Leaf Fiber), daun nanas diolah menjadi serat alam yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku tekstil, fesyen ramah lingkungan hingga berbagai produk kerajinan.
Inovasi tersebut dikembangkan Alan Sahroni bersama kelompok Pinlefi melalui program Pesona Subang (Pemanfaatan Serat Olahan Daun Nanas Subang). Program ini tidak hanya berupaya mengurangi persoalan limbah pertanian, tetapi juga membuka peluang penghasilan tambahan bagi masyarakat.
Hingga kini, program tersebut telah melibatkan 44 warga, mulai dari petani, pemuda hingga kelompok perempuan. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 160 kilogram serat kering setiap bulan.
Alan mengatakan, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak semata-mata diukur dari jumlah produk yang mampu dihasilkan. Lebih dari itu, keberhasilan terlihat dari masyarakat yang mampu kembali produktif dan memperoleh manfaat ekonomi dari potensi yang ada di lingkungan mereka.
“Keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya produk yang dihasilkan semata, tetapi dari berapa banyak masyarakat yang kembali berdaya, mandiri, dan tersenyum karena potensi lokalnya dihargai,” ujar Alan dalam rilisnya, Rabu (2/9/2026).
Berawal dari Persoalan Limbah Daun Nanas
Kabupaten Subang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil nanas di Jawa Barat. Namun, tingginya produksi nanas juga menghasilkan limbah daun dalam jumlah besar.
Setiap satu hektare kebun nanas disebut dapat menghasilkan hingga 14 ton limbah daun. Sebelum dimanfaatkan, sebagian daun sisa panen tersebut dibuang atau dibakar oleh petani.
Pembakaran daun nanas bukan hanya membuat limbah tidak memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menghasilkan asap yang dapat mengganggu kualitas udara di sekitar permukiman.
Persoalan tersebut kemudian mendorong Alan mencari cara agar daun nanas tidak berakhir sebagai limbah. Bersama Pertamina EP (PEP) Subang Field, pengembangan kelompok Pinlefi dilakukan melalui program Pesona Subang.
Daun yang sebelumnya dibuang atau dibakar mulai dikumpulkan untuk kemudian diproses menjadi serat alam. Langkah tersebut membuat limbah pertanian berubah menjadi bahan baku yang memiliki nilai tambah.
Bagi petani, pemanfaatan daun nanas membuka peluang pendapatan tambahan. Sementara proses pengolahannya menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi warga yang bekerja sebagai operator mesin hingga penenun.
Mesin Dimodifikasi untuk Mengolah Serat
Pengembangan inovasi tersebut kemudian dilanjutkan melalui program Serat Cinta (Sinergi Ekonomi Rakyat Berbasis Alam Terbarukan melalui Cipta Inovasi dan Nilai Tambah) pada 2024.
Salah satu inovasi yang dikembangkan Alan adalah memodifikasi mesin dekortikator agar dapat digunakan untuk mengekstraksi serat dari tanaman.
Menariknya, mesin tersebut tidak hanya dapat digunakan untuk mengolah daun nanas. Batang atau gedebog pisang yang biasanya menjadi limbah setelah panen juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan serat.
Serat yang dihasilkan selanjutnya dapat diproses menjadi benang dan kain. Bahan tersebut kemudian berpotensi digunakan untuk membuat produk eco-fashion maupun berbagai kerajinan.
Dengan proses tersebut, limbah pertanian yang sebelumnya tidak bernilai dapat berubah menjadi bahan baku bernilai ekonomi sekaligus menciptakan sumber penghasilan baru bagi masyarakat.
Libatkan 44 Warga
Program pengolahan serat alam di Desa Cikadu kini telah memberdayakan 44 warga dari berbagai kelompok.
Petani memperoleh manfaat dari daun nanas yang sebelumnya hanya menjadi limbah. Warga lainnya mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam proses produksi, mulai dari pengoperasian mesin hingga menenun serat menjadi produk bernilai tambah.
Bagi Alan, pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dari inovasi yang dikembangkan. Ia ingin potensi lokal tidak hanya berhenti sebagai bahan mentah, tetapi mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Upaya tersebut turut mengantarkan Alan meraih penghargaan Gold kategori Best Local Hero dalam ajang Community Involvement and Development (CID) Upstream Award 2026 yang diselenggarakan PT Pertamina Hulu Energi pada pertengahan Agustus 2026 di Jakarta.
Senior Manager Pertamina EP Subang Field Despredi Akbar mengatakan, pengembangan inovasi berbasis potensi lokal diharapkan mampu terus mendorong kemandirian masyarakat.
“Kami percaya pemberdayaan sejati lahir dari kemandirian masyarakat,” ujar Despredi.
Menurutnya, perusahaan akan terus melanjutkan pendampingan terhadap masyarakat yang terlibat dalam program tersebut.
Pemanfaatan daun nanas dan batang pisang menjadi serat diharapkan tidak hanya menjadi solusi untuk mengurangi limbah pertanian di Subang, tetapi juga berkembang menjadi ekosistem ekonomi baru yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dari kebun nanas, sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini memiliki peluang menjadi benang, kain, produk fesyen hingga kerajinan bernilai jual. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa limbah pertanian pun bisa menjadi sumber penghasilan apabila diolah dengan kreativitas dan teknologi yang tepat.
