AIDIA Dorong Digitalisasi Posbindu Melati Mekar untuk Deteksi Dini Risiko Diabetes

BANDUNG - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Padjadjaran (Unpad) menerapkan AIDIA (Artificial Intelligence for Diabetes Awareness) di Posbindu Melati Mekar, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, pada Rabu (12/8/2026).
Inovasi tersebut dihadirkan untuk mendukung pencatatan pemeriksaan, skrining risiko diabetes melitus, serta edukasi kesehatan bagi masyarakat.
AIDIA merupakan sistem kesehatan digital yang membantu kader Posbindu mencatat dan mengelola hasil pemeriksaan warga secara lebih terstruktur. Sistem ini juga dapat membantu melakukan skrining terhadap faktor risiko diabetes serta memberikan informasi yang dapat menjadi dasar edukasi dan arahan tindak lanjut.
Program bertajuk “Pemberdayaan Posbindu Melati Mekar melalui Inovasi Pemeriksaan Kesehatan Digital Berbasis Artificial Intelligence sebagai Upaya Deteksi Dini Diabetes Melitus” tersebut dipimpin Nita Cahyani, S.Si., M.Stat. dari Universitas Padjadjaran, bersama Sri Hendrawati, S.Kep., Ners., M.Kep. dari Universitas Padjadjaran dan Rahmat Irsyada, M.Pd. dari Politeknik Negeri Subang.
Kegiatan ini didanai pada tahun 2026 melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Program tersebut berangkat dari kebutuhan Posbindu Melati Mekar untuk meningkatkan kualitas pencatatan sekaligus pemanfaatan hasil pemeriksaan kesehatan warga. Sebelumnya, pencatatan masih dilakukan secara manual sehingga data kesehatan belum terdokumentasi secara terintegrasi dan belum optimal dimanfaatkan untuk mendukung skrining risiko diabetes, pemantauan kesehatan, maupun pemberian edukasi.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim menghadirkan AIDIA sebagai alat bantu digital yang memudahkan kader dalam mencatat hasil pemeriksaan, mengidentifikasi faktor risiko, serta melihat hasil skrining secara lebih terstruktur. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk memberikan edukasi dan arahan tindak lanjut kepada warga.
Meski menggunakan teknologi berbasis kecerdasan buatan, AIDIA tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan maupun diagnosis yang dilakukan tenaga kesehatan. Warga yang berdasarkan hasil skrining membutuhkan pemeriksaan lanjutan tetap diarahkan untuk mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.
Sebelum diterapkan kepada masyarakat, tim terlebih dahulu memberikan pelatihan dan pemberdayaan kepada 14 kader Posbindu Melati Mekar. Materi yang diberikan meliputi faktor risiko diabetes melitus, penggunaan aplikasi AIDIA, penginputan data pemeriksaan, pembacaan hasil skrining, hingga penyampaian edukasi dan arahan tindak lanjut.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya perkembangan positif dalam pemahaman kader setelah mengikuti pelatihan. Para kader juga diberikan kesempatan menggunakan data simulasi sehingga mereka dapat berlatih mengoperasikan sistem sekaligus memahami hasil yang ditampilkan AIDIA.
Setelah pelatihan, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan dan skrining risiko diabetes melitus yang diikuti 100 warga. Pemeriksaan meliputi gula darah dan tekanan darah, pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, pengkajian faktor risiko, serta edukasi kesehatan. Dalam kegiatan tersebut, kader terlibat langsung dalam pencatatan data menggunakan AIDIA, pengisian faktor risiko, pembacaan hasil skrining, hingga penyampaian arahan tindak lanjut sesuai kewenangan Posbindu.
AIDIA Mudahkan Kader Posyandu
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Padjadjaran, Nita Cahyani, mengatakan AIDIA dikembangkan sebagai alat bantu untuk memudahkan kader dalam menjalankan pelayanan Posbindu, khususnya dalam pencatatan dan skrining risiko diabetes melitus.
“AIDIA kami kembangkan sebagai alat bantu agar kader lebih mudah melakukan pencatatan, memahami hasil skrining risiko, serta memberikan edukasi kepada masyarakat. Harapannya, teknologi ini tidak berhenti sebagai aplikasi, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan kader dalam kegiatan Posbindu secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan kader menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program. Keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari tersedianya aplikasi, tetapi juga dari kemampuan mitra dalam menggunakan teknologi tersebut secara mandiri untuk mendukung pelayanan kesehatan sehari-hari.
“Melalui kolaborasi antara tim pelaksana dan Posbindu Melati Mekar, program ini diharapkan mendorong transformasi pencatatan kesehatan dari sistem manual menuju pengelolaan data yang lebih terstruktur, cepat, dan mudah dipantau,” ungkapnya.
Berdasarkan evaluasi kegiatan, masyarakat memberikan tanggapan positif terhadap penerapan program tersebut. Warga menilai kegiatan bermanfaat dan mudah dipahami, sekaligus menambah pengetahuan mengenai faktor risiko diabetes melitus serta pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan secara berkala.
"Penerapan AIDIA di Posbindu Melati Mekar diharapkan dapat memperkuat peran layanan kesehatan berbasis masyarakat dalam melakukan deteksi dini penyakit tidak menular. Selain membantu kader dalam pengelolaan data, inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran warga terhadap risiko diabetes dan mendorong perilaku hidup sehat melalui pemeriksaan kesehatan secara rutin," pungkasnya.(znl/ysp)
