Atasi Kekeringan Jangka Panjang, Albert Dorong Pembangunan Embung di Pantura Subang

SUBANG – Persoalan kekeringan yang berulang setiap musim kemarau menunjukkan bahwa penanganan kebutuhan air di kawasan Pantura Kabupaten Subang tidak bisa hanya mengandalkan langkah darurat. Pembangunan embung di Pantura Subang dinilai perlu dipercepat sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air sekaligus melindungi produktivitas pertanian.
Saat ini, sekitar 1.800 hektare lahan sawah di Subang tercatat mengalami kekurangan suplai air. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena wilayah Pantura merupakan salah satu sentra pertanian yang berperan penting dalam menjaga produksi pangan.
Anggota DPRD Kabupaten Subang, Albert Anggara Putra, mengatakan persoalan kekeringan membutuhkan penanganan yang tidak hanya bersifat sementara. Menurutnya, pembangunan embung dapat menjadi salah satu strategi untuk menyediakan cadangan air bagi kawasan pertanian ketika musim kemarau berlangsung.
“Kalau di wilayah Pantura ada embung, tentu akan sangat membantu ketika musim kemarau. Air bisa ditampung saat musim hujan dan dimanfaatkan ketika petani membutuhkan air untuk mengairi sawah,” terangnya kepada Pasundan Ekspres pada Selasa (19/8/2026).
Menurut Albert, embung memungkinkan air yang tersedia pada musim penghujan ditampung dan dimanfaatkan kembali ketika pasokan mulai terbatas. Keberadaan infrastruktur tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap sumber air yang semakin terbatas saat musim kemarau.
“Dengan begini, kebutuhan air untuk lahan pertanian bisa lebih terjaga dan ketergantungan terhadap sumber air yang semakin terbatas dapat dikurangi,” kata Albert.
Ia mendorong Pemkab Subang mulai melakukan pemetaan terhadap lokasi yang potensial dibangun embung, khususnya kawasan pertanian yang berulang kali mengalami kekurangan air. Kajian tersebut, kata dia, harus mempertimbangkan kebutuhan air, kondisi lahan, jaringan irigasi, luas sawah serta jumlah petani dan masyarakat yang akan mendapatkan manfaat.
“Upayanya harus dimulai dari sekarang. Pemerintah perlu memetakan titik-titik yang memang membutuhkan embung, kemudian dikaji secara teknis agar pembangunannya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Albert menilai bantuan pompa air maupun distribusi air tetap diperlukan sebagai langkah cepat ketika kekeringan terjadi. Namun, langkah tersebut tidak seharusnya menjadi pola penanganan utama setiap musim kemarau.
Menurut dia, pembangunan infrastruktur sumber daya air harus menjadi bagian dari perencanaan jangka panjang pemerintah daerah. Dengan adanya embung yang dikelola secara baik, cadangan air dapat disiapkan sebelum musim kemarau tiba sehingga petani tidak selalu berada dalam kondisi darurat ketika pasokan air menurun.
“Persoalan kekeringan jangan hanya ditangani ketika sudah terjadi. Harus ada langkah antisipasi. Kalau embung dibangun dan dikelola dengan baik, petani akan lebih tenang karena memiliki cadangan air saat musim kemarau,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Subang Reynaldy Putra menyebut pemerintah daerah telah mengambil langkah cepat untuk mengatasi kekurangan suplai air di sejumlah kawasan pertanian. Salah satunya dengan mengerahkan mesin pompa air ke wilayah terdampak.
“Ada sekitar 1.800-an hektare yang kekurangan suplai air, makanya kita bantu mesin pompa ini,” ujar Reynaldy.
Selain bantuan pompa, Pemkab Subang juga menyalurkan bantuan dari Kementerian Pertanian untuk pemeliharaan jaringan irigasi tersier kepada sejumlah kelompok tani. Pemerintah daerah juga tengah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian terkait rencana pembangunan embung di kawasan pertanian wilayah utara.
“Salah satunya ini, kita memberikan bantuan pompa, dan kita dalam waktu dekat, insyaallah akan ada bantuan juga dari Kementerian untuk pembuatan embung,” kata Reynaldy.
Dalam materi pemerintah daerah, pembangunan tiga embung disebut tengah disiapkan untuk memperkuat ketersediaan air bagi lahan pertanian. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga produksi padi Kabupaten Subang tetap berjalan sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan pangan nasional.
“Untuk kebutuhan padi di Kabupaten Subang tetap terjaga, untuk menyuplai kebutuhan nasional,” ungkapnya. (cdp/ysp)
