Daripada Menganggur, Rizal Memilih Jadi Tukang Parkir Demi Bertahan Hidup

PASUNDANEKSPRES.ID - Senja perlahan turun di kawasan Taman Kodim Subang pada Rabu (4/11/2026). Satu per satu kendaraan roda dua berdatangan, mengisi ruang parkir di sekitar warung tempat warga berkumpul untuk menikmati waktu sore. Di antara suara mesin motor dan obrolan pengunjung, Rizal, 32 tahun, sibuk mengatur kendaraan yang keluar masuk.
Bagi sebagian orang, pekerjaan menjaga parkir mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Rizal, aktivitas itu menjadi jalan untuk tetap mendapatkan penghasilan di tengah sulitnya memperoleh pekerjaan tetap. Sudah sekitar dua bulan terakhir, ia menghabiskan waktu sore hingga malam untuk menjaga parkir di kawasan tersebut.
Sebelum bekerja sebagai tukang parkir, Rizal mengaku sempat mengamen. Ia juga terbiasa bekerja sebagai kuli, terutama ketika ada pekerjaan proyek atau pembangunan yang membutuhkan tenaga tambahan. Akan tetapi, pekerjaan semacam itu tidak selalu tersedia setiap hari.
Rizal Memilih Tidak Berdiam Diri
Ketika kesempatan bekerja sebagai kuli sedang sepi, Rizal memilih tidak berdiam diri. Ia kemudian mencoba mencari penghasilan dengan membantu menjaga parkir di Taman Kodim.
“Daripada tidak bekerja berhari-hari, sementara anak-anak membutuhkan biaya, lebih baik saya parkir dulu sambil mencari pekerjaan lain,” ungkapnya saat diwawancara Pasundan Ekspres pada Rabu (4/11/2026).
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Di balik pekerjaannya yang dijalani setiap sore hingga malam, Rizal menyimpan tanggung jawab keluarga yang tidak ringan. Ia memiliki tiga anak, dengan anak tertuanya berusia tujuh tahun dan anak bungsunya berusia empat tahun.
Saat ini, Rizal sudah berpisah dengan pasangannya. Ketiga anaknya tinggal bersama nenek mereka, sementara ia menjalani kehidupan sendiri dengan menyewa tempat tinggal.
Kondisi itu membuat Rizal harus memutar otak agar tetap bisa memperoleh penghasilan. Meski tidak selalu besar, uang dari menjaga parkir menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Penghasilannya pun tidak menentu. Menurut Rizal, jumlah uang yang diperoleh bergantung pada kondisi pengunjung dan banyaknya kendaraan yang datang. Dalam sehari, ia memperkirakan bisa membawa pulang sekitar Rp80 ribu, meskipun jumlah tersebut tidak selalu didapatkan.
Penghasilan itu juga belum sepenuhnya menjadi uang bersih yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan lain. Ia masih harus memperhitungkan biaya makan dan pengeluaran pribadi selama bekerja.
“Sehari tidak tentu. Paling minimal sekitar Rp80 ribu, itu pun masih harus dipotong untuk makan sendiri,” tuturnya.
Bagi Rizal, nominal tersebut mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun, dalam kondisi pekerjaan yang tidak pasti, penghasilan harian itu tetap berarti. Setidaknya, ia masih memiliki kegiatan yang bisa dilakukan sambil menunggu kesempatan kerja lain datang.
Rutinitas Rizal dimulai pada sore hari. Ia mendapat giliran menjaga parkir hingga malam, mengikuti jadwal pergantian dengan rekannya. Aktivitasnya biasanya berlangsung sampai warung-warung di sekitar lokasi tutup, sekitar pukul 22.00 hingga 23.00 WIB.
Selama bertugas, ia membantu memastikan kendaraan pengunjung terparkir dengan baik. Ketika pengunjung mulai pulang dan kawasan perlahan sepi, ia kembali memperhatikan kondisi kendaraan yang tersisa.
Setelah tidak ada lagi kendaraan yang perlu dijaga, Rizal biasanya membereskan area parkir sebelum pulang. Rutinitas itu terus dijalaninya dari hari ke hari.
Pekerjaan tersebut menjadi pilihan sementara sembari mencari peluang lain. Rizal masih berharap bisa kembali bekerja sebagai kuli, terutama apabila ada proyek pembangunan atau pekerjaan di pabrik yang membutuhkan tenaga tambahan.
Sebelumnya, ia terbiasa mengambil pekerjaan yang berkaitan dengan konstruksi, termasuk pekerjaan baja. Namun, kesempatan itu tidak selalu tersedia. Ketika tidak ada proyek, penghasilan pun ikut terhenti.
Situasi tersebut membuatnya memilih memanfaatkan waktu yang ada daripada kehilangan kesempatan memperoleh uang sama sekali.
Bagi Rizal, menjaga parkir bukan berarti ia berhenti mencari pekerjaan yang lebih baik. Sebaliknya, pekerjaan itu menjadi batu loncatan agar tetap memiliki pemasukan ketika pekerjaan utama belum tersedia.
Ia menyadari bahwa kebutuhan hidup terus berjalan, terlepas dari ada atau tidaknya pekerjaan. Terlebih, anak-anaknya masih kecil dan membutuhkan perhatian serta biaya untuk tumbuh kembang mereka.
Meski saat ini ketiga anaknya tinggal bersama nenek, tanggung jawab sebagai seorang ayah tetap menjadi bagian dari kehidupan yang harus ia hadapi. Keadaan itu pula yang mendorongnya untuk terus berusaha mencari penghasilan, meskipun melalui pekerjaan yang tidak selalu menjanjikan kepastian.
Di kawasan Taman Kodim, pekerjaannya mungkin hanya terlihat ketika kendaraan datang dan pergi. Namun, di balik aktivitas tersebut, ada perjuangan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan harapan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih stabil.
Rizal belum mengetahui kapan kesempatan bekerja sebagai kuli atau mendapatkan proyek akan kembali terbuka. Untuk sementara, ia tetap menjalani pekerjaannya sebagai tukang parkir, mengandalkan penghasilan yang diperoleh setiap hari.
Bagi dirinya, yang terpenting saat ini adalah tetap berusaha. Sebab, ketika kebutuhan hidup tidak bisa menunggu, pekerjaan apa pun yang halal dan tersedia menjadi kesempatan untuk bertahan.
Di antara kendaraan yang datang dan pergi di Taman Kodim, Rizal terus menjalani hari-harinya. Ia mungkin belum memiliki kepastian tentang pekerjaan esok hari, tetapi satu hal yang masih ia pegang adalah keinginan untuk tetap bekerja dan mencari jalan agar kehidupan bisa terus berjalan.(hdi/ysp)
