Kemarau Panjang Sebabkan Harga Pangan di Subang Melonjak hingga 80 Persen

SUBANG – Kemarau panjang mulai mengerek harga pangan di Subang, Jawa Barat. Minimnya pasokan air membuat aktivitas pertanian terganggu hingga berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar tradisional.
Kenaikan harga bahkan mencapai 80 persen pada beberapa komoditas. Meski demikian, stok kebutuhan pokok di pasaran hingga kini masih terpantau aman dan belum terjadi kelangkaan.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Subang, Hj. Yeni Nuraeni, mengatakan kenaikan harga tersebut terpantau di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Subang.
“Memasuki musim kemarau ini sejumlah harga kebutuhan pokok di pasar tradisional mengalami kenaikan. Hal tersebut berdasarkan pantauan kami di Pasar Tradisional Subang,” ujar Yeni Nuraeni, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas yang terdampak kondisi pertanian, seperti kacang tanah, jagung dan timun. Kenaikan harga ketiganya berada di kisaran 50 hingga 80 persen.
Harga kacang tanah, misalnya, naik dari sekitar Rp30.000 menjadi Rp45.000. Sementara harga timun dan jagung masing-masing naik dari Rp8.000 menjadi Rp15.000.
“Kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan 50 sampai 80 persen di antaranya kacang tanah dari harga Rp30.000 menjadi Rp45.000. Kemudian timun dan jagung dari Rp8.000 menjadi Rp15.000,” jelasnya.
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah komoditas lainnya. Harga cabai merah naik dari Rp40.000 menjadi Rp50.000, sedangkan daging ayam dari Rp30.000 menjadi Rp40.000.
Sementara itu, harga beras mengalami kenaikan sekitar Rp1.000 per liter. Untuk daging sapi, Yeni menyebut harganya masih dalam kondisi normal.
Selain komoditas tersebut, sejumlah jenis sayuran juga mengalami kenaikan sekitar 10 persen. Namun, tidak seluruh kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Harga telur justru turun dari sebelumnya sekitar Rp30.000 menjadi Rp26.000 hingga Rp28.000.
Yeni menjelaskan, kenaikan harga sejumlah komoditas tidak terlepas dari kondisi kemarau yang membuat petani kesulitan mendapatkan pasokan air untuk bercocok tanam.
“Kenaikan harga ini dipicu oleh petani yang tidak bisa menanam akibat minimnya pasokan air. Sementara stok kebutuhan pokok di pasaran masih aman,” ungkapnya.
Meski harga sejumlah pangan meningkat, DKUPP memastikan belum terjadi kelangkaan kebutuhan pokok di Kabupaten Subang. Namun, kondisi tersebut mulai memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga, DKUPP Kabupaten Subang akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait, termasuk Dinas Ketahanan Pangan dan Pemerintah Kabupaten Subang.
Salah satu langkah yang tengah dipertimbangkan yakni pelaksanaan operasi pasar murah untuk membantu masyarakat sekaligus menekan kenaikan harga di pasaran.
“Kita akan koordinasikan dulu dengan pihak terkait, termasuk Pak Bupati. Mudah-mudahan bisa segera dilaksanakan operasi pasar murah tersebut guna meningkatkan daya beli masyarakat dan menekan kenaikan harga di pasaran,” pungkasnya.(znl/ysp)
