Musim Kemarau Diprediksi hingga Oktober, Bantuan Air Terus Disalurkan BPBD Subang

PASUNDANEKSPRES.ID – Musim kemarau di Kabupaten Subang diprediksi masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Kondisi tersebut mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah yang mengalami penurunan ketersediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang terus memperkuat penanganan dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak. Distribusi dilakukan berdasarkan laporan dan permintaan masyarakat melalui pemerintah desa.
Sejumlah wilayah telah mendapatkan suplai air bersih, di antaranya Desa Neglasari, Kecamatan Pagaden, sekitar 20.000 liter; Desa Legon Kulon sekitar 25.000 liter; Desa Jati, Kecamatan Cipunagara, sekitar 20.000 liter; wilayah Pusakajaya sekitar 15.000 liter; Desa Palasari, Kecamatan Ciater, sekitar 20.000 liter; serta Desa Munjul, Kecamatan Pagaden Barat, sekitar 20.000 liter.
Bantuan Air Bersih Berpotensi Meningkat Apabila Musim Kemarau Terus Berlangsung
Sekretaris Badan BPBD Kabupaten Subang A Sudrajat mengatakan kebutuhan bantuan air bersih berpotensi meningkat apabila musim kemarau terus berlangsung. Karena itu, pihaknya terus melakukan pemantauan kondisi lapangan dan berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa serta instansi terkait.
“Prediksi kemarau ini akan sampai dengan bulan Oktober. Tentunya kami akan terus mengantisipasi lonjakan permintaan air bersih masyarakat terhadap BPBD,” ujar Sudrajat saat diwawancarai Pasundan Ekspres, Kamis (20/8/2026).
Penanganan juga dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. Di Desa Gambarsari, Kecamatan Pagaden, sebanyak 25.000 liter air bersih disalurkan kepada masyarakat terdampak kekeringan. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi warga yang tersebar di wilayah terdampak dengan total penerima mencapai 613 kepala keluarga.
Kondisi serupa terjadi di Kampung Cinungku, Desa Palasari. Perumda Air Minum Tirta Rangga Subang bersama Anggota DPR RI Komisi I, Hj. Elita Budiarti, turun meninjau kondisi masyarakat setelah menerima laporan mengenai kesulitan mendapatkan air bersih.
Dalam penanganan tersebut, Perumda TRS mengerahkan dua unit mobil tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga. Direktur Utama Perumda TRS Lukman Nurhakim mengatakan pihaknya siap membantu wilayah mana pun di Kabupaten Subang yang mengalami kesulitan air bersih berdasarkan permintaan resmi.
“Daerah manapun yang kekeringan kita akan bantu, berdasarkan permintaan resmi pemerintah desa, kepolisian, TNI atau permintaan warga. Tapi alhamdulillah unit pengolahan air kita tidak ada kekurangan debit air,” ujar Lukman.
Menurut Elita, persoalan air bersih membutuhkan penanganan yang tidak hanya bersifat sementara. Distribusi melalui mobil tangki diperlukan untuk memenuhi kebutuhan warga dalam kondisi darurat, namun akses terhadap sumber air yang lebih berkelanjutan tetap menjadi kebutuhan.
Kekeringan juga mulai menekan sektor pertanian. Di sejumlah wilayah, berkurangnya pasokan air membuat persawahan membutuhkan bantuan pompanisasi. BPBD bersama instansi terkait melakukan pompanisasi di Kecamatan Pusakanagara, Compreng dan Cipunagara.
Di Pusakanagara, sumber air untuk pompanisasi diambil dari Kali Kuara. Sementara di Jatimulya, Kecamatan Compreng, air diambil dari resapan Sungai Cigadung. Sedangkan di Cipunagara, sumber air berasal dari Sungai Cilamatan.
Namun, pompanisasi tidak dapat dilakukan pada seluruh areal persawahan yang mengalami kekeringan. Syaratnya harus tersedia sumber air yang masih memungkinkan untuk disedot.
“Bagi area persawahan yang membutuhkan air untuk pompanisasi tetapi tidak ada sumber airnya, kita tidak bisa membantu. Jadi memang harus ada sumber air yang bisa disedot,” jelas Sudrajat.
BPBD mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama kemarau berlangsung. Warga yang mengalami kesulitan air bersih dapat menyampaikan laporan melalui pemerintah desa. Selanjutnya, kepala desa dapat mengajukan surat permohonan kepada BPBD untuk mendapatkan suplai air.
“Jadi masyarakat bisa menghubungi pemerintah desa di mana mereka berada. Kepala desa nanti bersurat kepada BPBD, kemudian BPBD akan menyuplai kebutuhan air bersihnya,” ungkap Sudrajat.
Dengan kemarau yang diprediksi masih berlangsung hingga Oktober, kebutuhan air bersih diperkirakan masih menjadi perhatian. Pemerintah daerah bersama instansi terkait pun terus melakukan pemantauan dan penyaluran bantuan sesuai kondisi di lapangan. (hdi/ysp)
