Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Tiga Bulan Krisis Air Bersih di Desa Batutumpang Purwakarta, Warga Mandi dan Mencuci di Kubangan

A
Adam SumartoEditor: Yusup Suparman
|08:21 WIB
Bagikan:
Tiga Bulan Krisis Air Bersih di Desa Batutumpang Purwakarta, Warga Mandi dan Mencuci di Kubangan
MANFAATKAN KUBANGAN: Warga Desa Batu Tumpang, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, memanfaatkan kubangan bekas galian tanah yang dipenuhi air keruh untuk mencuci pakaian dan mandi. Adam Sumarto/Pasundan Ekspres

PURWAKARTA - Krisis air bersih di Desa Batutumpang, tepatnya di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta akibat kemarau panjang menjadi kesulitan warga untuk beraktivitas.

Sejak tiga bulan terakhir hingga saat ini, sejumlah warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Warga pun terpaksa memanfaatkan dua kubangan bekas galian tanah yang masih menyisakan genangan air sebagai tempat mandi dan mencuci pakaian. 

Meski kondisi air tampak keruh kecokelatan, bercampur lumpur, sampah plastik, hingga lumut di tepi kubangan, warga mengaku tidak memiliki pilihan lain.

Pantauan di lokasi, Rabu (22/7/2026), kubangan tersebut didatangi warga yang membawa ember, pakaian kotor, hingga jeriken. Ibu-ibu mencuci pakaian di tepi kubangan, sementara anak-anak mandi menggunakan air yang diambil dari genangan tersebut.

Nina (31), salah seorang warga, mengatakan, keluarganya sudah tiga bulan kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur di rumah mengering. Karenanya, mau tak mau ia mandi dan mencuci pakaian di kubangan itu.

"Air dari kubangan hanya digunakan untuk mandi dan mencuci. Sementara untuk kebutuhan memasak dan minum, keluarganya harus membeli air isi ulang seharga Rp5 ribu per galon atau air mineral sekitar Rp20 ribu per galon," kata Nina. 

Sesekali, kata dia, warga juga mendapat bantuan air bersih dari pemerintah desa melalui mobil tangki.

Nina menyadari kondisi air yang digunakan sangat kotor, ia mengaku tidak memiliki pilihan lain.

"Takut sih, tapi enggak ada lagi air. Alhamdulillah sampai sekarang belum ada yang sakit. Harapan kami pemerintah bisa kirim air bersih seminggu dua kali," ujarnya.

Kondisi serupa juga dialami Solihah (45). Setiap musim kemarau, ia harus berjalan sekitar setengah jam dari rumah menuju kubangan untuk mencuci pakaian.

"Kalau kemarau sudah biasa begini. Enggak ada air di rumah. Nyuci di sini, mandi juga kadang di sini," ucap Solihah.

Ia mengaku tetap harus mengeluarkan biaya untuk membeli air bersih yang digunakan memasak, mencuci peralatan makan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Menurutnya, satu toren air bersih harus ditebus sekitar Rp60 ribu.

"Harapannya pemerintah bisa bikin sumur atau jet pump supaya kami punya air bersih seperti kampung-kampung lain," katanya.

Sementara itu, Wawan (48) mengaku setiap hari harus bolak-balik mengangkut air dari kubangan menuju rumahnya karena sumur sudah mengering sejak sekitar dua bulan lalu.

"Sudah dua bulan kosong, sumur kering sejak engga hujan. Ini sudah tiga kali bolak-balik bawa air buat mandi sama nyuci piring," ujarnya.

Untuk kebutuhan minum, ia mengaku keluarganya harus membeli air galon isi ulang. Namun, untuk mandi dan mencuci mereka masih mengandalkan air dari kubangan.

Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi krisis air bersih yang setiap tahun terjadi saat musim kemarau. 

Warga juga berharap distribusi bantuan air bersih dapat dilakukan secara rutin, sekaligus pembangunan sumber air bersih permanen seperti sumur bor atau sistem penyediaan air bersih agar tidak terus bergantung pada genangan air bekas galian tanah yang kondisinya jauh dari layak.(add/ysp)

Berita Terbaru

Prabowo Bakal Luncurkan Perlinsos Digital 10 November, Bansos Ditransfer Cash

Prabowo Bakal Luncurkan Perlinsos Digital 10 November, Bansos Ditransfer Cash

Nasional15 menit lalu
Ramai Jasa Polisi Anak di Sosial Media, Apa Saja Pengaruhnya?

Ramai Jasa Polisi Anak di Sosial Media, Apa Saja Pengaruhnya?

Lifestyle19 menit lalu
Prediksi Saham HSC BEI hingga Akhir Pekan 21–23 Oktober 2026, Ini Faktor yang Perlu Dicermati

Prediksi Saham HSC BEI hingga Akhir Pekan 21–23 Oktober 2026, Ini Faktor yang Perlu Dicermati

Lifestyle40 menit lalu
Deretan Kasus Korupsi Terbesar yang Menghebohkan Era Prabowo-Gibran, Ini Perkembangannya

Deretan Kasus Korupsi Terbesar yang Menghebohkan Era Prabowo-Gibran, Ini Perkembangannya

Nasional56 menit lalu
ADVERTISEMENT
Hari Kedua Babak Pertama French Open 2026: Duel Sesama Indonesia Masih Berlanjut

Hari Kedua Babak Pertama French Open 2026: Duel Sesama Indonesia Masih Berlanjut

Olahraga1 jam lalu
Bukan Lewat Kopdes, Menkeu Suahasil Pastikan Gaji PNS Tetap Lewat Bank

Bukan Lewat Kopdes, Menkeu Suahasil Pastikan Gaji PNS Tetap Lewat Bank

Nasional1 jam lalu
Fenomena Bangun Pabrik Dulu, Baru Urus Izin Belakangan di Subang Disorot, Begini Perkembangan PT CMM

Fenomena Bangun Pabrik Dulu, Baru Urus Izin Belakangan di Subang Disorot, Begini Perkembangan PT CMM

Subang1 jam lalu
Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 Tingkat Kabupaten Subang, Bupati Amanatkan Makin Solid dan Kreatif Wujudkan Kelauarga Sejahtera

Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 Tingkat Kabupaten Subang, Bupati Amanatkan Makin Solid dan Kreatif Wujudkan Kelauarga Sejahtera

Subang1 jam lalu
Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Subang Dibuka, Ini 5 Formasi dan Jadwalnya

Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Subang Dibuka, Ini 5 Formasi dan Jadwalnya

Subang1 jam lalu
Ironis! Pegawai SPPG Cirebon Keracunan MBG, DPRD Periksa Dapur

Ironis! Pegawai SPPG Cirebon Keracunan MBG, DPRD Periksa Dapur

Jawa Barat1 jam lalu