Air, Listrik dan Kebisingan Jadi Isu, AMDAL Data Center AI CGK4 di Jatiluhur Dipertanyakan

PASUNDANEKSPRES.ID – Proyek pusat data berbasis kecerdasan buatan atau AI Campus 2 (CGK4) milik BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, mulai menjadi perhatian dari sisi lingkungan.
Di balik nilai investasi yang mencapai sekitar Rp3,5 triliun, pembangunan data center berskala besar tersebut menghadirkan sejumlah pertanyaan mengenai dampak lingkungan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang hingga kini masih dalam tahap penyusunan dan perbaikan.
Persoalan air menjadi salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian. Rancangan kebutuhan air untuk proyek tersebut disebut berada pada kisaran 18.000 hingga 36.000 meter kubik per hari.
Besarnya kebutuhan tersebut memunculkan kekhawatiran masyarakat, terutama karena Jatiluhur memiliki sumber daya air yang juga berkaitan dengan kebutuhan irigasi pertanian dan air baku.
Karena itu, kajian AMDAL dinilai perlu menjelaskan secara rinci dari mana sumber air diperoleh, berapa kebutuhan air pada setiap tahapan pengembangan, bagaimana sistem pengolahan dan penggunaan kembali air, serta bagaimana proyek memastikan kebutuhan masyarakat tidak terganggu.
Sorotan berikutnya datang dari aspek kebisingan.
Data center beroperasi selama 24 jam dan membutuhkan berbagai perangkat pendukung, mulai dari server, sistem pendingin, hingga peralatan kelistrikan. Aktivitas perangkat tersebut berpotensi menghasilkan suara secara terus-menerus sehingga tingkat kebisingan dan dampaknya terhadap permukiman maupun lingkungan sekitar menjadi bagian penting yang perlu dikaji.
Selain air dan kebisingan, kebutuhan energi listrik juga menjadi perhatian mengingat skala CGK4 yang sangat besar.
Kawasan tersebut dirancang untuk dikembangkan secara bertahap hingga mencapai kapasitas total 640 megawatt (MW) melalui enam bangunan data center. Pada tahap awal, bangunan pertama ditargetkan memiliki kapasitas 120 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, CGK4 disebut telah memperoleh komitmen kapasitas jaringan listrik sebesar 845 megavolt-ampere (MVA) dari PT PLN (Persero).
Besarnya konsumsi energi tersebut menunjukkan bahwa proyek CGK4 bukan sekadar pembangunan gedung server. Infrastruktur kelistrikan, sistem pendinginan, penggunaan air, hingga pengelolaan limbah menjadi satu kesatuan yang harus diperhitungkan dalam kajian lingkungan.
KDM Dorong AMDAL Dibuka Terbuka
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) turut menyoroti proses AMDAL proyek tersebut. Ia meminta kajian lingkungan tidak sekadar menjadi dokumen administratif yang dibahas dalam forum formal, tetapi dapat diketahui dan dipahami masyarakat.
KDM juga mendorong agar pihak yang terlibat dalam penyusunan AMDAL, termasuk konsultan dan pakar pembanding, dapat diumumkan secara terbuka.
Menurutnya, berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat, terutama menyangkut kebutuhan air dan potensi kebisingan, perlu dijawab berdasarkan data dan kajian ilmiah.
Keterbukaan dinilai penting agar masyarakat dapat mengetahui secara jelas potensi dampak proyek sekaligus langkah mitigasi yang disiapkan pengembang.
Teknologi Pendingin Juga Jadi Perhatian
CGK4 dirancang khusus untuk menopang kebutuhan komputasi AI dengan kepadatan daya tinggi. Pada bangunan pertama, BDx akan menggunakan teknologi direct-to-chip liquid cooling, yakni sistem pendinginan yang mengalirkan cairan langsung ke komponen pemrosesan untuk mengendalikan panas yang dihasilkan perangkat berperforma tinggi.
Teknologi tersebut dirancang mampu mendukung kepadatan daya hingga 500 kilowatt per rak.
Dengan karakteristik tersebut, kajian lingkungan menjadi semakin penting karena pusat data AI membutuhkan kombinasi listrik dan sistem pendinginan dalam skala besar.
Pembangunan CGK4 sendiri telah ditandai dengan groundbreaking pada 22 September 2026 yang dihadiri Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, serta jajaran manajemen BDx dan BDx Indonesia.
Kini, perhatian publik tidak hanya tertuju pada besarnya investasi dan kapasitas komputasi yang akan dibangun. Pertanyaan yang juga mengemuka adalah bagaimana proyek tersebut memastikan kebutuhan air, energi, pengendalian kebisingan, dan aspek lingkungan lainnya dapat dikelola secara berkelanjutan.
Proses penyusunan dan perbaikan AMDAL menjadi momentum penting untuk menjawab seluruh pertanyaan tersebut secara terbuka, berbasis data, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sekitar
