Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Ternyata Begini Asal Usul Tahun Baru Masehi Menurut Pandangan Islam, Banyak yang Belum Tahu!

K
Khoirul AnsoriEditor: Dobi Maulana
|19:00 WIB
Bagikan:
Ternyata Begini Asal Usul Tahun Baru Masehi Menurut Pandangan Islam, Banyak yang Belum Tahu!
Ternyata Begini Asal Usul Tahun Baru Masehi Menurut Pandangan Islam, Banyak yang Belum Tahu! (Edited via canva)

PASUNDANEKSPRES.ID - Peristiwa pergantian tahun yang diperingati tiap 31 Desember ke 1 Januari sekarang menjadi salah satu momen yang banyak diperhatikan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia.

Namun ketika kita mengulas sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam, muncul berbagai pertanyaan penting yang layak dicermati mengapa penanggalan Masehi (Miladiyah) terbentuk seperti sekarang, bagaimana kaitannya dengan tradisi umat Islam, dan apa yang sebenarnya diajarkan oleh ulama terkait peringatan tersebut.

Sebab, bagi umat Islam yang merenungkan ajaran dan tradisi agama serta budaya, memahami sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam berarti tidak hanya meneruskan kebiasaan secara otomatis, tetapi juga menelaah latar belakang, nilai, serta implikasi sosial-agama dari perayaan tersebut.

Dalam perspektif ini, pembahasan akan meliputi asal usul kalender Masehi, bagaimana umat Islam melihat dan memberi respons terhadap pergantian tahun tersebut, serta bagaimana sebaiknya sikap yang diambil ketika menyongsong pergantian tahun, berdasarkan sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam.

Dengan demikian, kamu tidak hanya memperoleh fakta sejarah, melainkan juga pemahaman bahwa sebuah tradisi pergantian tahun bisa dikaji dalam bingkai keagamaan dan sosial budaya umat Islam.

Asal Usul Kalender Masehi dan Tradisi Pergantian Tahun

Ketika kita berbicara mengenai sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam, penting untuk menelisik bagaimana kalender Masehi itu muncul.

Penanggalan yang kini umum digunakan banyak negara, yaitu sistem kalender Gregorian, bermula dari kalender Romawi dan kemudian diperbaiki oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582.

Sistem ini menggantikan Kalender Julian yang sudah dipakai sebelumnya. Pergantian tahun yang kita kenal sekarang, yakni 1 Januari sebagai awal tahun, secara resmi ditetapkan dalam tradisi Romawi pada tahun 46 SM di bawah pemerintahan Julius Caesar.

Dari sudut pandang Islam, ketika melihat sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam, hal ini menunjukkan bahwa perayaan 1 Januari bukan berasal dari tradisi Islam melainkan dari warisan budaya dan penanggalan masyarakat non-Muslim.

Beberapa peneliti menyoroti bahwa perayaan malam tahun baru khas Masehi identik dengan tradisi hiburan yang berkembang di masyarakat umum, bukan ritual syariat dari Islam.

Dengan demikian, ketika umat Islam menyikapi pergantian tahun Masehi, mereka dihadapkan pada pilihan bagaimana menanggapi tradisi tersebut agar sesuai dengan akidah dan ajaran Islam.

Pandangan Ulama dan Hukum Merayakan Tahun Baru

Melalui kajian mengenai sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam, terlihat bahwa terdapat dua kelompok besar dalam pandangan ulama terkait perayaan tahun baru Masehi.

Kelompok pertama yang berpendapat bahwa perayaan tersebut tidak diperbolehkan (haram) karena dianggap menyerupai tradisi kaum non-Muslim, meniru ritual tanpa landasan syariat, dan sering diiringi dengan kemaksiatan.

Kelompok kedua berpendapat bahwa jika kegiatan pergantian tahun digelar dalam koridor yang tidak mengandung maksiat, tidak merusak ajaran Islam, maka hukumnya mubah (boleh). Fatwa yang disebutkan, bahwa sebagian besar ulama menilai bahwa ikut pergantian tahun boleh dengan syarat tidak ada unsur kemaksiatan.

Menariknya, dalam konteks sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam, beberapa pihak menyatakan bahwa merayakan malam tahun baru Masehi termasuk dalam kategori adat atau tradisi, bukan ibadah yang disyariatkan.

Sebagaimana dikutip dari NUOnline.com “peringatan-pergantian seperti ini merupakan bagian daripada tradisi yang tidak terdapat korelasinya dengan agama.”

Oleh karena itu, pandangan bahwa perayaan tersebut boleh atau tidak sering bergantung pada bagaimana bentuknya disikapi dalam lingkungan umat Islam.

Sikap yang Disarankan Bagi Umat Muslim

Melalui pemahaman terhadap sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam, umat Muslim dianjurkan untuk menyikapi pergantian tahun dengan langkah-yang bijaksana, bukan sekadar ikut arus. Beberapa poin yang bisa dijadikan panduan antara lain:

  1. Memahami bahwa kalender Masehi (Miladiyah) bukan kalender khusus untuk ibadah Islam, melainkan sistem penanggalan umum yang dipakai dunia.
  2. Jika ikut menyambut pergantian tahun Masehi, usahakan agar bentuk perayaan tidak melanggar syariat, tidak bergadang tanpa manfaat, tidak boros, tidak ikut dalam kemaksiatan.
  3. Jadikan pergantian tahun sebagai momentum muhasabah diri mengevaluasi tahun yang lalu, menetapkan resolusi kebaikan, memperkuat ibadah dan akhlak.
  4. Menghindari sikap tasyabbuh (meniru secara komplit tradisi kaum lain) yang bisa membawa implikasi negatif dalam perspektif Islam.

Dengan pendekatan demikian, maka proses pergantian tahun bisa dikaitkan dengan pemaknaan spiritual dan sosial yang positif, sambil tetap menghormati pandangan-ulama mengenai sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam.

Mengurai sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam membawa kita pada kesadaran bahwa tradisi pergantian tahun yang kita saksikan bukanlah sesuatu yang berasal dari akar ajaran Islam, melainkan fenomena budaya global yang kemudian dihadapi oleh umat Islam dengan berbagai pandangan.

Pilihan sikap yang dibuat oleh individu atau komunitas Muslim dalam menyikapi pergantian tahun Masehi sangat bergantung pada niat, pelaksanaan, dan konteks nilai yang berlaku.

Jika dilakukan dengan kesadaran dan tidak melanggar ajaran agama, pergantian tahun Masehi bisa dijadikan momen berharga untuk introspeksi, memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Dengan demikian, pemahaman terhadap sejarah tahun baru Masehi menurut pandangan Islam bukan sekadar soal debat aturan, tetapi juga soal bagaimana mengintegrasikan tradisi dengan keimanan dan kebijaksanaan.

Berita Terbaru

Jumat Bersih di Komplek CHR, Camat Ciater Dorong Kepedulian Lingkungan

Jumat Bersih di Komplek CHR, Camat Ciater Dorong Kepedulian Lingkungan

Subang4 jam lalu
Pojokan 326: “Ini Duniaku”

Pojokan 326: “Ini Duniaku”

Opini4 jam lalu
Polisi Razia Saritem Bandung, 21 Orang Terindikasi Positif Metamfetamin

Polisi Razia Saritem Bandung, 21 Orang Terindikasi Positif Metamfetamin

Jawa Barat6 jam lalu
Bupati Reynaldy Resmikan Jalan Rancasari–Mariuk, Panjang 740 Meter

Bupati Reynaldy Resmikan Jalan Rancasari–Mariuk, Panjang 740 Meter

Headline6 jam lalu
ADVERTISEMENT
Kanwil KemenHAM Jabar Sebut Prosedur Pendirian Gereja di Purwakarta Telah Sesuai Aturan

Kanwil KemenHAM Jabar Sebut Prosedur Pendirian Gereja di Purwakarta Telah Sesuai Aturan

Headline7 jam lalu
Anggota Watimpres Rocky Gerung Sarankan Gibran Mundur dari Jabatan Wapres, Ini Alasannya

Anggota Watimpres Rocky Gerung Sarankan Gibran Mundur dari Jabatan Wapres, Ini Alasannya

Nasional8 jam lalu
6 Fakta Kasus Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

6 Fakta Kasus Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Headline9 jam lalu
Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Olahraga9 jam lalu
Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Headline10 jam lalu
Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Headline10 jam lalu