Kasus ISPA akibat Karhutla di Indonesia Tembus 300 Ribu, Hampir 70 Ribu Menimpa Balita

PASUNDANEKSPRES.ID - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia masih menjadi perhatian. Hingga pertengahan Oktober 2026, jumlah kumulatif kasus ISPA telah melampaui 300 ribu kasus.
Kondisi ini menjadi pengingat akan pentingnya mewaspadai dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan masyarakat, terutama akibat paparan asap.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per 18 Oktober 2026 pukul 10.00, total kasus ISPA tercatat mencapai 306.309 kasus. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan data pada Rabu (14/10), yang sebelumnya mencatat 277.075 kasus.
Dengan demikian, terdapat penambahan sebanyak 29.234 kasus dalam rentang waktu tersebut. Tingginya angka kumulatif ini menunjukkan bahwa gangguan kesehatan saluran pernapasan masih menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian di wilayah terdampak karhutla.
Dari keseluruhan kasus yang tercatat, kelompok balita berusia 0–5 tahun menyumbang 69.015 kasus. Angka ini menunjukkan bahwa puluhan ribu anak usia dini turut terdampak ISPA di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan.
Selain balita, kelompok anak-anak berusia 6–9 tahun juga mencatat jumlah kasus yang cukup tinggi, yakni sebanyak 77.022 kasus. Sementara itu, kasus ISPA pada kelompok lanjut usia (lansia) tercatat mencapai 49.680 kasus.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kasus ISPA ditemukan pada berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.
Kelompok-kelompok tersebut perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan dan penanganan gangguan pernapasan, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran.
Penambahan Kasus Harian Mulai Menurun
Jika dilihat dari perkembangan kasus harian, penambahan kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla menunjukkan sedikit penurunan. Pada 17 Oktober 2026, jumlah kasus baru yang tercatat mencapai 2.778 kasus.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penambahan kasus pada 16 Oktober 2026, yang mencapai 2.808 kasus. Dengan demikian, terdapat selisih sebanyak 30 kasus antara penambahan harian pada kedua tanggal tersebut.
Meski penurunan tersebut belum terlalu besar, perkembangan ini menjadi salah satu indikator yang dipantau dalam melihat situasi ISPA di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Namun, penurunan jumlah kasus baru dalam satu hari belum cukup untuk memastikan bahwa risiko kesehatan akibat karhutla telah sepenuhnya terkendali.
Di sisi lain, jumlah kumulatif kasus yang telah melampaui 300 ribu tetap menjadi perhatian. Penanganan dan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat masih diperlukan, seiring dengan upaya pengendalian kebakaran serta pengurangan paparan asap di daerah terdampak.
Sejumlah Wilayah Catat Tren Penurunan
Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa tren penambahan kasus ISPA mulai memperlihatkan penurunan di sejumlah wilayah. Daerah yang menunjukkan perkembangan tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sumatera Selatan.
Perkembangan ini menunjukkan adanya perbedaan tren kasus antardaerah. Meski beberapa wilayah mulai mencatat penurunan penambahan kasus, kondisi tersebut tetap perlu dipantau secara berkala untuk mengetahui apakah tren serupa dapat bertahan dalam beberapa waktu ke depan.
Situasi di setiap daerah dapat berbeda, bergantung pada perkembangan kebakaran, kondisi lingkungan, paparan asap, serta faktor kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, data kasus perlu terus diperbarui agar perkembangan situasi dapat diketahui secara lebih menyeluruh.
Sementara itu, Riau menunjukkan kondisi yang berbeda dibandingkan sejumlah wilayah tersebut. Kemenkes melaporkan bahwa penambahan kasus ISPA di provinsi itu masih mengalami peningkatan.
Perbedaan tren ini menjadi perhatian tersendiri, mengingat penanganan dampak kesehatan akibat karhutla membutuhkan pemantauan sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Peningkatan kasus di Riau juga menunjukkan bahwa penurunan yang terjadi di beberapa daerah tidak serta-merta mencerminkan kondisi yang sama di seluruh wilayah terdampak.
Paparan Asap Karhutla Perlu Diwaspadai
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat melalui paparan asap.
Partikel dan zat pencemar yang terkandung dalam asap dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk kondisi kesehatan, khususnya pada orang yang memiliki kerentanan tertentu.
ISPA merupakan salah satu gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai ketika masyarakat terpapar asap dalam kondisi kualitas udara yang buruk.
Risiko tersebut menjadi perhatian terutama bagi balita, anak-anak, lansia, serta orang yang telah memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Pada kelompok rentan, paparan asap dapat meningkatkan risiko munculnya keluhan pernapasan atau memperburuk gejala yang sudah ada.
Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak karhutla perlu memperhatikan kondisi udara dan membatasi paparan asap sebisa mungkin.
Upaya perlindungan dapat dilakukan dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, serta menjaga agar udara di dalam rumah tetap bersih.
Masyarakat juga perlu memperhatikan gejala seperti batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, atau keluhan pernapasan lain yang muncul selama periode paparan asap.
Apabila mengalami sesak napas atau gejala yang memburuk, masyarakat disarankan segera mencari pertolongan medis. Orang tua juga perlu memperhatikan kondisi anak, terutama balita, apabila muncul gangguan pernapasan selama karhutla berlangsung.
Dengan jumlah kumulatif kasus ISPA yang telah mencapai 306.309 kasus, pemantauan kesehatan masyarakat dan kewaspadaan terhadap paparan asap masih menjadi hal penting.
Meski penambahan kasus mulai menurun di sejumlah wilayah, peningkatan yang masih terjadi di Riau menunjukkan bahwa perkembangan ISPA di daerah terdampak karhutla belum sepenuhnya seragam.
