Kementerian Kebudayaan Umumkan 20 Pemenang Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan 2026

JAKARTA – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mengumumkan 20 pemenang Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan 2026. Program tersebut menjadi langkah afirmatif pemerintah untuk memperkuat genre film kepahlawanan sekaligus menghadirkan kembali kisah perjuangan bangsa Indonesia melalui medium sinema.
Pengumuman pemenang Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan digelar di Graha Utama, Kompleks Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Sebanyak tujuh karya terpilih dalam kategori Film Panjang dan 13 karya lainnya dalam kategori Film Pendek.
Program ini diselenggarakan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan sebagai bagian dari upaya memajukan ekosistem perfilman nasional.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengatakan Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan 2026 merupakan langkah strategis untuk memperkuat perkembangan film bertema kepahlawanan di Indonesia.
Menurutnya, film memiliki peran penting dalam menghadirkan kembali berbagai peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Genre film kepahlawanan membutuhkan afirmasi agar semakin berkembang dalam ekosistem perfilman Indonesia. Melalui film, peristiwa-peristiwa penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada 1945 hingga 1950 dapat dihadirkan secara lebih dekat dan menarik kepada masyarakat, sekaligus memperkuat nilai kepahlawanan, patriotisme, nasionalisme, dan keteladanan,” ujar Fadli Zon.
Sebanyak 143 Proposal Masuk Seleksi
Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan 2026 menerima antusiasme cukup besar dari para sineas. Selama masa pendaftaran yang berlangsung pada 10 Juli hingga 10 Agustus 2026, Kementerian Kebudayaan menerima total 143 proposal.
Jumlah tersebut terdiri atas 54 proposal untuk kategori Film Panjang dan 89 proposal untuk kategori Film Pendek.
Beragam proposal yang masuk mengangkat gagasan dan perspektif mengenai perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk dinamika sosial dan kemanusiaan yang berlangsung pada periode 1945 hingga 1950.
Seluruh proposal kemudian menjalani proses seleksi secara bertahap sesuai ketentuan dan kriteria yang tercantum dalam pedoman program.
Tahapan seleksi meliputi pemeriksaan administrasi, penilaian proposal dan naskah, presentasi atau pitching, hingga rapat pleno dewan juri.
Beberapa aspek utama yang menjadi pertimbangan dalam penilaian antara lain kekuatan gagasan, kualitas dan relevansi cerita, kesiapan produksi, pendekatan sinematik, serta kesesuaian narasi dengan konteks perjuangan bangsa Indonesia pada periode 1945–1950.
Untuk memastikan proses penilaian berlangsung secara komprehensif, Kementerian Kebudayaan melibatkan sineas dan sejarawan sebagai anggota dewan juri.
Keterlibatan kedua unsur tersebut diharapkan mampu memberikan pertimbangan yang seimbang terhadap aspek artistik dan sinematik, kualitas penceritaan, kesiapan produksi, serta ketepatan dalam menggambarkan peristiwa dan konteks sejarah.
Pada kategori Film Pendek, dewan juri terdiri atas sineas Putrama Pradjawasita, Perlita Desiani, dan Angkasa Ramadhan, serta sejarawan Hasril Chaniago dan Mahpudi.
Sementara itu, dewan juri kategori Film Panjang dari unsur sineas terdiri atas Tesadesrada Ryza, Salman Aristo, Tumpal Christian Pratama, Happy Salma, Nurman Hakim, Asaf Antariksa Riyanto, dan R.A.J. Siti N. Kusumastuti.
Adapun unsur sejarawan diwakili oleh M. Yuanda Zara dan G. Ambar Wulan.
Perwakilan dewan juri, Tesadesrada Ryza, mengatakan seluruh proposal yang masuk telah melalui pembahasan mendalam dengan mempertimbangkan berbagai aspek sesuai pedoman program.
“Proposal-proposal yang kami terima menunjukkan keragaman sudut pandang dan pendekatan kreatif dalam memaknai perjuangan bangsa. Pemilihan calon pemenang dilakukan melalui pembahasan yang menyeluruh dengan mempertimbangkan kekuatan cerita, pendekatan sinematik, kesiapan produksi, serta potensi setiap gagasan untuk dikembangkan menjadi karya film yang utuh, menarik, dan bertanggung jawab,” ujar Tesadesrada Ryza.
Dorong Film Kepahlawanan Berbasis Riset Sejarah
Fadli Zon menilai karya-karya yang terpilih memiliki potensi untuk memperkaya khazanah perfilman Indonesia sekaligus membuka ruang kolaborasi antara sineas dengan berbagai bidang keahlian yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan.
Menurutnya, film kepahlawanan tidak hanya dituntut memiliki kualitas artistik dan sinematik, tetapi juga harus dibangun berdasarkan riset serta memiliki ketepatan historis.
“Kita ingin film-film ini selain kuat secara artistik dan sinematik, tetapi juga berbasis riset dan akurat secara historis. Lebih dari itu, film-film tersebut harus mampu menghidupkan kembali literasi kepahlawanan dan membuat generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, semakin dekat dengan sejarah serta nilai-nilai perjuangan bangsa,” kata Fadli Zon.
Berikut daftar pemenang Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan 2026.
Daftar Pemenang Kategori Film Panjang
1. Barisan Penghibur
-
Produser: Nia Zulkarnaen
-
Sutradara: Ari Sihasale
-
Penulis Skenario: Sugeng Wahyudi
2. Hoegeng: Yang Ada Tinggal Nama
-
Produser: Giovanni Rahmadeva, Axel Hadiningrat, dan Krisnadi Ramajaya Hoegeng
-
Sutradara: Loeloe Hendra Komara
-
Penulis Skenario: Krisnadi Ramajaya Hoegeng dan Loeloe Hendra Komara
3. Rengasdengklok
-
Produser: Taufan Adryan
-
Sutradara: Farishad I. Latjuba
-
Penulis Skenario: Ifan Ismail
4. Kapal Selam Kalibayam
-
Produser: Dani Rachman Fauzi
-
Sutradara: Kuntz Agus
-
Penulis Skenario: Tito Imanda
5. Sakura di Telawang
-
Produser: Hamonangan
-
Sutradara: Lola Amaria
-
Penulis Skenario: Ni Ketut Yuni Suastini
6. Rai
-
Produser: Parama Adi Wirasmo
-
Sutradara: Rako Prijanto
-
Penulis Skenario: Tamawal Frans M.
7. Pintu Tertutup
-
Produser: Wiendy Widasari
-
Sutradara: Hanny R. Saputra
-
Penulis Skenario: Abdurrohman Syakbani Nasution
Daftar Pemenang Kategori Film Pendek
1. Arang Kobar Juang
-
Produser: Dhiwangkara Seta
-
Sutradara: Noel Pendawa
-
Penulis Skenario: Noel Pendawa
2. Belantara Raya
-
Produser: Rifqi Mardhani
-
Sutradara: Ilham Prajatama
-
Penulis Skenario: Dafriansyah Putra
3. Buleun Purnama, di Nanggroe
-
Produser: Asmara Abigail dan Dani Huda
-
Sutradara: Dani Huda
-
Penulis Skenario: Dani Huda, Chandra Cahyana, dan Raisa Kamila
4. Darah Djoeang
-
Produser: Fanny Chotimah
-
Sutradara: Reni Apriliana
-
Penulis Skenario: Ardhika Surya Adhi
5. Desing Peluru Tak Bertuan
-
Produser: Iqbal Mohammad Hamdan
-
Sutradara: Sandi Akbar Paputungan
-
Penulis Skenario: Sandi Akbar Paputungan
6. Ibu Raih
-
Produser: Theo Maulana
-
Sutradara: Janice Angelica
-
Penulis Skenario: Janice Angelica
7. Jam 7 Pagi (Makassar, 1947)
-
Produser: Ayu Kartika
-
Sutradara: Zhaddam A. Nurdin
-
Penulis Skenario: Zhaddam A. Nurdin
8. Menara Terakhir
-
Produser: Gerald A.
-
Sutradara: Sarah Adilah
-
Penulis Skenario: Mohammad Iqbal
9. Operasi Malino: Lembar yang Hilang
-
Produser: Muhammad Ilham Mustain Murda
-
Sutradara: Wahyu Mika
-
Penulis Skenario: Wahyu Mika dan Muhammad Ilham Mustain Murda
10. Seriboe Soedirman
-
Produser: Nisa F.
-
Sutradara: Edy Wibowo
-
Penulis Skenario: Tri Wahyudi dan Suharmono
11. Suara Republik
-
Produser: Muhammad Kholiq
-
Sutradara: BW Purbanegara
-
Penulis Skenario: Luhki Herwanayogi
12. Timur 1950
-
Produser: Andi Arfan Sabran
-
Sutradara: Muh. Ishak Iskandar
-
Penulis Skenario: Andi Arfan Sabran
13. Yang Tenggelam Saat Fajar
-
Produser: Ronantikarunia
-
Sutradara: May Ramadhan
-
Penulis Skenario: May Ramadhan dan Zydan Nabil
