Miris! Warga Cilacap Rela Jalan 3 Km demi Air Bersih, Antre sampai Malam

PASUNDANEKSPRES.ID – Kemarau panjang membuat warga Cilacap Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, kesulitan mendapatkan air bersih. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga bahkan harus berjalan hingga tiga kilometer untuk mencari sumber air.
Krisis air bersih yang berlangsung selama berbulan-bulan ini membuat aktivitas rumah tangga warga terganggu. Kebutuhan air untuk mandi, memasak, mencuci pakaian, hingga keperluan lainnya menjadi persoalan yang harus dihadapi setiap hari.
Salah seorang warga Desa Bojong, Yanti, mengaku harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju Sumur Kutat untuk mendapatkan air bersih.
“Untuk mencari air bersih, biasanya kita mencari air bersih hingga jarak cukup jauh, sekitar 2-3 kilometer di sumur yang biasanya kita menyebutnya Sumur Kutat,” ujar Yanti di Cilacap, Minggu, 18 Oktober 2026.
Kondisi serupa dialami warga Dusun Bugelsampang, Desa Bojong. Ngadimin, salah seorang warga setempat, mengatakan sebagian masyarakat harus berjalan sekitar satu kilometer untuk memperoleh air bersih.
Sebagian warga masih mengandalkan air hujan yang ditampung sebelumnya. Namun, persediaan tersebut semakin terbatas seiring panjangnya periode tanpa hujan.
Bantuan air bersih dari pemerintah kabupaten pun menjadi salah satu penopang kebutuhan masyarakat di tengah kondisi sulit tersebut.
“Selama ini warga mengandalkan pasokan air bersih dari pemkab, yang sangat bermanfaat bagi kami,” kata Ngadimin.
Sudah Dua Bulan Warga Kesulitan Air
Kepala Dusun Bugelsampang, Desa Bojong, Slamet Pujiono, membenarkan bahwa warga di wilayahnya telah mengalami kekurangan air bersih selama sekitar dua bulan.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mendatangi sumur yang berada di dekat saluran irigasi dan berjarak cukup jauh dari permukiman.
Masalah semakin rumit karena sumur tersebut menjadi sumber air bagi masyarakat dari tiga dusun. Banyaknya warga yang datang membuat antrean panjang tidak terhindarkan.
Bahkan, sebagian warga harus menunggu hingga malam hari agar bisa mendapatkan air untuk dibawa pulang.
“Di situ harus antre karena dari tiga dusun yang warganya berburu air ke sana. Dan kadang warga kami mengantre hingga malam,” ungkap Slamet.
Kondisi ini membuat distribusi bantuan air bersih menjadi sangat penting untuk meringankan beban masyarakat, terutama bagi warga yang kesulitan menjangkau sumber air secara mandiri.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Taryo, mengatakan pihaknya terus mengerahkan armada tangki untuk memasok air bersih ke wilayah yang mengalami krisis.
“Tiada hari tanpa menyuplai kebutuhan air bersih,” jelasnya.
BMKG Catat Kekeringan Ekstrem di Jawa Tengah
Krisis air bersih di Cilacap terjadi di tengah kondisi kemarau yang melanda berbagai wilayah Jawa Tengah. Berdasarkan pemutakhiran data hari tanpa hujan per 10 Oktober 2026, sebagian besar wilayah provinsi tersebut mengalami hari tanpa hujan dengan kategori menengah hingga kekeringan ekstrem.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah sekaligus Koordinator BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan sejumlah daerah masih menghadapi periode kering yang cukup panjang.
“Berdasarkan pemutakhiran data hari tanpa hujan per 10 Oktober 2026, sebagian besar wilayah Jawa Tengah mengalami hari tanpa hujan dengan kategori menengah hingga kekeringan ekstrem. Kondisi ini menunjukkan bahwa sejumlah wilayah masih menghadapi periode kering yang cukup panjang,” tutur Goeroeh.
BMKG mengategorikan hari tanpa hujan menengah sebagai periode tanpa hujan selama 11–20 hari. Sementara itu, kekeringan ekstrem terjadi ketika suatu wilayah tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari.
Data BMKG mencatat periode tanpa hujan terpanjang terjadi di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, selama 162 hari. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, dengan 160 hari tanpa hujan.
Adapun Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, dan Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, masing-masing tercatat mengalami 147 hari tanpa hujan.
Panjangnya periode kering tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan air bersih.
Di Desa Bojong, warga kini masih bergantung pada sumber air yang lokasinya jauh dari permukiman serta bantuan pasokan pemerintah. Selama hujan belum kembali turun secara memadai, pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi persoalan mendesak bagi masyarakat yang terdampak.
