Update Karhutla Papua: Ratusan Hektare Lahan Masih Terbakar, Asap Meluas ke Sejumlah Wilayah

PASUNDANEKSPRES.ID - Update Karhutla Papua menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius, terutama di wilayah Papua Selatan.
Ketika kebakaran di Sumatera dan Kalimantan belum sepenuhnya tertangani, Papua kini menghadapi bencana serupa dengan cakupan yang cukup luas.
Sejak pertama kali dilaporkan pada 18 Juli di sejumlah wilayah Kabupaten Nabire, titik api terus menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa cuaca panas, angin kencang, serta banyaknya semak belukar dan ilalang kering menjadi faktor yang mempercepat penyebaran api. Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di Papua membutuhkan upaya yang lebih intensif.
Update Karhutla Papua: Luas Kebakaran dan Jumlah Titik Api
Papua Selatan menjadi salah satu wilayah dengan dampak karhutla paling besar. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas pembukaan lahan untuk mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN) di kawasan tersebut.
Berdasarkan laporan BNPB, kebakaran di Papua Selatan telah mencakup area seluas 695 hektare dengan 379 titik panas. Meski demikian, angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan laporan sebelumnya.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa hingga 1 November 2026 pukul 17.00 WIB masih terdapat 171 titik api. Sementara itu, sekitar 253 hektare lahan masih dalam kondisi terbakar.
Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan kondisi pada 31 Oktober 2026. Saat itu, BNPB mencatat sebanyak 943 titik panas, 263 titik api, dan total luas kebakaran mencapai 1.742 hektare. Adapun lahan yang belum berhasil dipadamkan masih mencapai 577 hektare.
Berton menilai penurunan jumlah titik api dan luas kebakaran sebagai perkembangan positif. Namun, kondisi tersebut belum menunjukkan bahwa karhutla telah sepenuhnya terkendali.
Data luas wilayah terdampak masih membutuhkan verifikasi melalui pemantauan dan pemeriksaan langsung di lapangan. Pasalnya, informasi geospasial dapat berubah mengikuti pembaruan hasil pemetaan.
Upaya Pemadaman Karhutla Papua Terus Ditingkatkan
Dalam perkembangan terbaru penanganan karhutla, BNPB masih memprioritaskan pemadaman di wilayah Papua Selatan.
Berbagai langkah dilakukan untuk menekan penyebaran api, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Hingga 31 Oktober 2026, sebanyak 13 penerbangan penyemaian awan telah dilaksanakan di wilayah terdampak. Dalam operasi tersebut, sekitar 13.000 kilogram natrium klorida (NaCl) digunakan sebagai bahan semai untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Meski demikian, BNPB menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca hanya menjadi upaya pendukung dalam penanganan kebakaran.
Pemantauan titik api tetap dilakukan menggunakan teknologi satelit dan drone. Petugas juga terus dikerahkan untuk melakukan pemadaman secara langsung di lokasi kebakaran.
Kombinasi berbagai metode tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan karhutla Papua. Dengan pemantauan secara berkala dan tindakan pemadaman di lapangan, titik api yang masih tersisa dapat segera ditemukan dan dikendalikan sebelum meluas ke wilayah lain.
Dampak Karhutla Papua terhadap Kesehatan Masyarakat
Kebakaran hutan dan lahan yang belum sepenuhnya padam telah menyebabkan kabut asap menyelimuti sejumlah kawasan selama berminggu-minggu.
Kondisi ini mengganggu aktivitas masyarakat sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.
Sejumlah warga dilaporkan mulai mengalami keluhan batuk akibat paparan asap. Selain itu, masyarakat juga menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebaran asap karhutla bahkan telah meluas hingga Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat, Papua Barat Daya, serta sebagian wilayah Jayapura. Dampaknya juga terdeteksi sampai ke Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.
Pergerakan asap tersebut dipengaruhi oleh arah angin yang bertiup dari timur menuju barat laut hingga utara. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla Papua tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga berpotensi mengganggu wilayah yang lebih luas.
Karhutla Ancam Hutan dan Habitat Satwa Endemik Papua
Selain berdampak terhadap kesehatan masyarakat, karhutla Papua juga mengancam kelestarian ekosistem dan habitat berbagai satwa endemik. Salah satu kawasan yang terdampak adalah Taman Nasional Wasur di Papua Selatan.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kebakaran dilaporkan telah menghanguskan sekitar 8.707 hektare kawasan Taman Nasional Wasur. Padahal, kawasan konservasi ini merupakan habitat penting bagi berbagai satwa khas Papua.
Beberapa satwa yang hidup di kawasan tersebut antara lain walabi, kanguru pohon, kasuari gelambir tunggal, dan burung cenderawasih. Kebakaran hutan yang meluas berpotensi merusak habitat alami sekaligus mengancam kelangsungan hidup satwa-satwa tersebut.
Kerusakan ekosistem akibat karhutla juga dapat mengganggu keseimbangan lingkungan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perlindungan kawasan hutan dan konservasi perlu menjadi bagian penting dalam upaya penanggulangan kebakaran di Papua.
Pengawasan Pembukaan Lahan Perlu Diperketat
Besarnya dampak yang ditimbulkan membuat pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, terutama praktik pembakaran hutan yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.
Pengawasan juga perlu diarahkan pada aktivitas perusahaan dan proyek pembangunan yang melakukan pembukaan kawasan hutan. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa kegiatan pembangunan tidak mengabaikan aspek perlindungan lingkungan.
Melansir BBC, temuan sejumlah organisasi lingkungan dan lembaga hukum di lapangan mengindikasikan bahwa titik api karhutla Papua berkaitan dengan kawasan yang sebelumnya telah digusur oleh perusahaan dan aktivitas Proyek Strategis Nasional (PSN).
Temuan tersebut menjadi perhatian penting dalam evaluasi tata kelola pembukaan lahan di Papua. Pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan berjalan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, perlindungan kawasan hutan, serta keberlangsungan habitat satwa.
Dengan demikian, Update Karhutla Papua bukan hanya berkaitan dengan perkembangan jumlah titik api dan luas lahan yang terbakar. Penanganan bencana ini juga membutuhkan pengawasan yang lebih ketat, langkah pencegahan berkelanjutan, serta komitmen untuk melindungi ekosistem Papua dari kerusakan yang lebih luas.
