Pojokan 293: Trump Trap

Tuhan, tak semua orang -(termasuk Aku), mengerti tentang Mu. Pun Engkau tak beri mengerti semua orang. Tentang apapun, apalagi tentang Mu. Hatta ketika dia terpuruk, sedikit orang yang mengambil “hikmah” atas apa yang terjadi. Keterpurukan yang terjadi akibat lakulampah sendiri. Berbuah penyesalan tak terperi.
Tuhan, walau pun begitu, Engkau tetap beri semua orang “rahmat” dan “nikmat”. Rahmat Mu yang tak memandang status sosial, ekonomi, politik, budaya,warna kulit atau apapun pemetaan sosialogis manusia. Engkau beri mereka semua, dan tak semua paham pemberian Engkau. Semua minta diberi dan tak balik memberi. Bukan kepada Mu memberi, tapi kepada sesama. Itu pun tak dilakui.
Gusti, apa yang ada di bumi ini, Engkau beri untuk Kami, sebagai amanah, bukan untuk dijarah atau dijual murah. Memurah-marehkan bumi seisinya untuk membeli onggrongan-pujian palsu, hedoni dan membayar ketakutan atas dominasi. Walau Kau tak cawe-cawe, Kami membuat aturan sendiri untuk menjaga titipan Mu. Aturan yang menjadi undang-undang dasar tertinggi di negeri ini pun kadang tak dihiraukan. Diabaikan oleh penguasa dan oligarkh demi untuk memenuhi kepentingan pun keserakahannya.
Hyang Widi Wasa, kata bijak bestari, Engkau adalah tempat berkeluh kesah yang paling aman dan nyaman. Engkau tak birokratis kepada siapapun. Engkau bisa ditemui kapanpun, dimanapun dan sedang apapun. Enytime semua orang bisa menemui Mu. Engkau ada, bagi orang yang mau Engkau ada, walau mereka tak memahai Engkau sepenuhnya.
Dalam soal ini, aku ingin berkeluh kesah kepada Mu. Ah tapi, masa urusan pribadi menjadi urusan Mu. Bukannya Engkau telah beri aku-kami, akal. Untuk menyelesaikan segala persoalan dan mengelola amanah Mu. Tapi akal ini kadang disetir nafsu serakah, bukan nurani.
Ya sudahlah Gusti, aku cuma mau cerita dengan Mu. Karena akalku terbatas. Untung tidak sampai mendapat predikat IQ jongkok. Dan aku pun tak punya kuasa apa-apa. Hingga tak mampu menyelesaikan berbagai kegundahan hati ini. Jadi aku hanya cerita kepada Mu. Semoga Kau tidak menyebarkannya kepada yang lain, sebagai mana Kau selalu tutupi aibku. Bisa hancur reputasiku, jika Kau buka aibku. Terimakasih Gusti.
Tidak banyak yang aku mau ceritakan kepadaMu, Gusti. Gelisah pertamaku, soal Ramadhan ini. Bulan penuh berkah dan ampunan serta segala kebaikan yang dikhotbahkan para pengkhutbah agama. Nilai agama yang ramai dikhutbahkan bukan dilakukan. Tapi terus terang Gusti, aku sendiri tipikal hamba yang biasa-biasa saja. Ibadah iya tapi ya… masih suka menuruti syahwat. Jadi mohon Engkau menerima aku apa adanya.
Gundahku yang lain soal segala keinginan yang menggunung. Mulai dari soal anak, istri, hujan, panas, makanan, teman, jerat hutang bank, pimpinan, harta hingga jabatan, selalu menjadi tuntutanku kepada Mu. Seolah memaksa Mu untuk memenuhinya. Tapi wajarlah aku meminta kepada Mu, karena Engkau Maha Kaya. Dan Kau sendiri menyuruh kami untuk meminta/berdoa kepada Mu. Jadi ku minta saja kepada Mu. Soal dikabulkan atau tidak, itu bukan urusanku. Urusanku adalah bekerja maksimal dan sebaik-baiknya saja. Urusan Mu adalah meridhoi aku, karena aku adalah hamba Mu yang sedang menjalankan perintah Mu, yaitu selalu meminta kepada Mu.
Sebenarnya resahku banyak. Tak pantas juga aku mintakan semua kepada Mu untuk menyelesaikannya. Tapi satu lagi saja Tuhan, aku mau ceritakan kepada Mu, risauku. Tuhan kenapa semua tunduk kepada Trump? Apakah juga pemimpin kami? Semoga tidak! Karena mereka adalah simbol kedaulatan bangsa dan negara ini.
Konon menurut orang-orang, kedaulatan itu tersandera Trump Trap. Padahal kami ingin kedaulatan itu dijaga mati-matian oleh pemimpin kami. Saya tak mengerti Gusti. Mungkin hanya Kau dan rumput yang bergoyang yang tahu jawabannya. (Kang Marbawi, 220226)
