Pojokan 315: Pak Tono, Sang Marhaen Kiwari

Di tengah kota Bekasi yang makin mirip “Jakarta cabang dua”—mall beranak-pinak, jalan macet, dan barber shop Asgar (Asli Garut) menjamur macam cafe-cafe kopi —masih ada satu manusia yang teguh pada prinsip hidupnya: Pak Tono, tukang cukur keliling.
Perawakannya kecil, kurus, topi laken lusuh, tas lusuh, bangku lipat lusuh. Kalau ada lomba “barang paling lusuh se-Bekasi Utara”, mungkin Pak Tono juara umum. Tapi jangan salah, dari kelusuhan itu lahir kerapihan rambut warga. Ironi yang indah: alat lusuh, hasil klimis.
Setiap hari ia berjalan kaki 10 km lebih, menyusuri gang-gang Marga Mulya, Teluk Pucung, sampai Harapan Baru di Kecamatan Bekasi Utara. Kalau dihitung, jarak tempuhnya mungkin sudah bisa bikin jalur MRT (Mass Rapid Tranportation) baru. Bedanya, MRT butuh miliaran rupiah, sementara Pak Tono cukup modal sandal jepit dan niat hidup.
Di masa keemasannya, Pak Tono ditunggu pelanggan macam saya: orang tua yang percaya bahwa bonus ganteng itu hanya bisa lahir dari tangan tukang cukur keliling, Kini, generasi muda lebih suka kursi empuk, musik, dan cermin Instagrammable di barber shop Asgar. Tapi Pak Tono tetap teguh: ia memilih silaturahmi dari rumah ke rumah, bukan mangkal di ruko dengan sistem bagi hasil ala kapitalis.
Pak Tono ini unik. Ia saksi hidup metamorfosis Bekasi dari kota kecil jadi metropolitan penyangga Jakarta. Tapi Pak Tono tetap sama: tak punya Android, tak punya boss, tak punya target KPI (Key Perform Indicators). Kalau ditanya kenapa tidak buka barber shop, jawabnya sederhana: “Saya senang begini, sekalian nyari sehat dan silaturahmi.” Lihatlah, di zaman orang sibuk cari cuan, ada manusia yang masih percaya sehat itu lebih penting daripada omzet.
Pak Tono mungkin tidak kaya. Tahun 1987 penghasilannya hanya Rp 1.000–2.500 per hari, sekarang Rp 100–150 ribu. Hasil itu digunakan untuk keperluan dirinya di perantauan dan sebagian ditabung untuk dikirim ke keluarganya di Cilacap, Jawa Tengah. Tidak ada lonjakan yang bikin Forbes tertarik bikin daftar “50 Tukang Cukur Terkaya di Asia Tenggara”. Tapi ia punya sesuatu yang lebih mahal dari saldo rekening: kedaulatan. Ia bekerja untuk dirinya sendiri, ia tidak punya boss, tidak punya investor, tidak punya target bulanan.
Bandingkan dengan pekerja prekariat- gig worker zaman aplikasi. Katanya fleksibel, dan bebas! Padahal hidupnya ditentukan oleh rating bintang lima dan algoritma yang lebih kejam daripada mandor perkebunan zaman kolonial. Kalau dulu mandor cuma teriak “cepat kerja!”, sekarang aplikasi bisa bilang: “Anda tidak aktif 5 menit, akun Anda kami bekukan.” Merdeka macam apa itu?
Pojokan 315: Pak Tono, Sang Marhaen Kiwari
Pak Tono ini bukan sekadar tukang cukur. Ia adalah Marhaen kiwari. Pak Tono mungkin tidak punya saldo miliaran, tapi ia punya sesuatu yang lebih mahal dari semua itu: martabat. Ia tidak jadi budak sistem, tidak jadi jongos algoritma, tidak jadi korban kapitalisme gaya baru. Ia tetap tukang cukur keliling, tetap manusia merdeka.
Ia tidak punya tuan, tidak punya boss, tidak punya investor. Ia bekerja untuk dirinya sendiri, dengan alat sederhana, dengan prinsip sederhana. Ia tidak tunduk pada algoritma aplikasi macam ojol atau kurir makanan. Tidak ada rating bintang lima, tidak ada notifikasi order, tidak ada promo “potong rambut Rp 15.000 dengan kode BEKASIHEMAT”.
Kalau kapitalisme melihatnya, mungkin langsung bilang: “Wah, ini orang stagnan, tidak berkembang, tidak naik kelas.” Ya, memang. Dari dulu sampai sekarang, kekayaannya tidak berubah. Tapi coba lihat dari kacamata Marhaenisme: profesinya sebagai tukang cukur keliling justru punya dimensi etis.
Kenapa? Karena Pak Tono tidak kehilangan relasi sosialnya. Ia tidak terpasung oleh kedaulatan kerja yang palsu ala pekerja gig masa kini. Ia bebas, merdeka, berdaulat—meski penghasilannya terbatas. Dalam keterbatasan itu, ia tetap punya kuasa atas diri dan pekerjaannya.
Kalau Bung Karno masih hidup, mungkin beliau akan berkata: “Inilah contoh rakyat kecil yang tidak kehilangan martabatnya.” Dan saya pun berguman: “Dan rambut saya pun tetap rapi, walau isi dompet Pak Tono tidak pernah rapi.”
Bekasi boleh tumbuh jadi kota metropolitan, tapi di gang-gang kecil masih ada Pak Tono yang mengingatkan kita: merdeka itu bukan soal punya gedung tinggi, melainkan soal punya kuasa atas diri sendiri. Manusia yang berdaulat atas dirinya sendiri -- juga pikirannya, adalah manusia merdeka! Sayangnya kedaulatan bangsa digerogoti oleh korupsi dan oligarkhi-otoritarian yang semakin akut ! (#Kang Marbawi, 260726)
