Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 314: Prekariat - Kelas Gabang-Tubang

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|09:27 WIB
Bagikan:
Pojokan 314: Prekariat - Kelas Gabang-Tubang
Kang Marbawi.

Pojokan 314: Prekariat - Kelas Gabang-Tubang

Pagi itu,  saya bertemu dengan kawan lama. Dia kawan sekolah zaman ingusan, zaman di mana pikiran kita masih bersih dari dosa-dosa kalkulasi ekonomi. Setelah basa-basi ala kadarnya—yang sebenarnya lebih banyak "basanya" daripada "basinya"—saya iseng bertanya, "Gimana dagangannya?"

Mukanya datar, sedatar jalanan aspal yang berlubang, seperti lubang-lubang kehidupannya.  Dia mengaku sudah lama gantung jaket, bukan karena pensiun dini, tapi karena jualannya selalu nombok. Kawan saya ini, Anda tahu, adalah spesialis pedagang keliling. Kadang cilok, kadang mainan yang mulai tak dilirik anak-anak SD, karena lebih asik main game, kadang barang lain asal bisa diputar buat makan.

Sekolah dasar adalah medan tempurnya. Tapi di medan itu pula dia kalah perang. Modal habis, sementara perut anak-istri tak kenal istilah "krisis moneter". Anak gadisnya butuh obat rutin, anaknya yang lain sekolah, belum lagi cucu dan ibunya yang ikut numpang hidup. Beban hidupnya, kalau ditimbang, mungkin lebih berat daripada dosa para koruptor yang masih bisa senyum di depan kamera televisi. 

Dia bercerita, dan ceritanya sungguh membuat saya ingin memaki keadaan. Teman-teman seperjuangannya sesama penjual keliling kini lebih sering berurusan dengan "Bank Keliling" dan "Pinjol"—pinjaman online. Kalau dilihat dari bunganya, sepertinya bunga Pinjol dan Bank Keliling, sedang mencoba menyamai kecepatan cahaya. 

Mereka ini adalah kelas "Gabang-Tubang": Gali Lobang Tutup Lobang. Begitu terus, tanpa titik, tanpa koma. Mirip siklus napas orang yang sedang lari marathon di atas treadmill yang tak pernah berhenti. Mereka hidup dari hari ke hari, di bawah ancaman rentenir yang mencekik lebih erat daripada pelukan kasih sayang kekasih yang baru jadian.

Teman saya itu hanya punya satu doa sederhana: semoga anaknya bisa masuk KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan KIS (Kartu Indonesia Sehat). Permohonan yang diajukan tiga tahun lalu itu baru diijabah tahun ini. Bayangkan, butuh tiga tahun hanya untuk mendapatkan hak dasar. Betapa birokrasi kita kadang memang seperti siput yang sedang sakit encok.

Melihat kawan saya dan kawa-kawannya ini, mereka pantas masuk dalam liga kelompok prekariatnya Guy Standing dalam bukunya The Precariat; The New Dangerous Clas (2011). Dalam bukunya, dia merumuskan masyarakat yang hidup dalam ketidakamanan eksistensial yang permanen. Mereka tidak punya masa depan, sebab masa depan bagi mereka adalah barang mewah yang harganya tak terjangkau. Menabung? Itu konsep sosiologi yang hanya ada di buku teks sekolah, bukan di dompet mereka. Pendapatan harian mereka? Habis seratus persen untuk makan. Besok? Urusan nanti. Jika sakit datang, maka dunia kiamat.

Pusaran kehidupan ekonomi mereka masuk dalam katagori sintasan; hidup dalam siklus “hari ke hari”, tak ada jaminan sosial apalagi asuransi, buruh informal yang tak terikat secara administratif. 

Pojokan 314: Prekariat - Kelas Gabang-Tubang

Menurut Standing, kelas ini memang "berbahaya". Bukan karena mereka membawa bom, tapi karena mereka hidup dalam ketidakpastian yang bisa meledak kapan saja. Mereka tak punya identitas kerja, tak ada jaminan sosial. Masuk kelompok ini bukan cuma kawan saya yang jualan cilok, tapi juga para gig worker—anak muda yang bangga kerja di perusahaan digital tapi nasibnya lebih rapuh daripada kerupuk yang terjemur hujan. Tanpa tunjangan, tanpa perlindungan, hanya bermodalkan jempol dan aplikasi. Guru Honorer di senatero bumi Pertiwi pun masuk di dalam Gig Worker.

Ah, pilu sekali. Konon, jumlah masyarakat macam teman saya ini mencapai 150 juta jiwa. Data BPS tahun 2026 mencatat pekerja sektor informal kita masih mendominasi di angka 58-60 persen. Mereka adalah massa yang tak jelas kehidupan ekonominya, dibuat sibuk dengan urusan bertahan hidup agar tidak sempat bertanya, "Kenapa negeri ini makin kaya, tapi saya makin miskin?"
Mereka ini sama dengan "Kaum Prol" dalam novel 1984-nya George Orwell.

Massa yang dibuat bodoh, dicekoki propaganda, ketakutan, lalu dibiarkan sibuk dengan hiruk-pikuk harian. Seperti kata Winston, tokoh Orwell itu: "Sebelum mereka sadar, mereka tak akan pernah memberontak, dan sebelum mereka melakukan pemberontakan, mereka tak akan sadar."

Kita semua sedang menunggu, apakah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang digadang-gadang itu benar-benar bisa jadi pahlawan, atau sekadar proyek papan nama yang akan jadi prasasti bisu bagi kelas Gabang-Tubang. Semoga saja, Koperasi ini bukan cuma menambah barisan koperasi yang cuma aktif di atas kertas, sementara rakyatnya tetap setia menjadi nasabah "Bank Keliling" yang bunganya minta ampun.

Karena pada akhirnya, kaum prol pun butuh kepastikan. Kepastian punya jaminan bahwa besok pagi, anak kita bisa makan dan sekolah tanpa harus gali lobang di tempat lain. (#Kang Marbawi, 180726)

Berita Terbaru

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Headline9 jam lalu
Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Lifestyle10 jam lalu
Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Subang11 jam lalu
Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Nasional12 jam lalu
ADVERTISEMENT
Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Nasional13 jam lalu
Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Lifestyle14 jam lalu
Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Nasional15 jam lalu
Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Headline15 jam lalu
Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Headline17 jam lalu
3 Tempat Wisata Akhir Pekan untuk Pekerja di Subang, Cocok Buat Healing Setelah Sibuk Kerja

3 Tempat Wisata Akhir Pekan untuk Pekerja di Subang, Cocok Buat Healing Setelah Sibuk Kerja

Lifestyle18 jam lalu