Pojokan 318 : Merdeka Itu, Didengarkan!

Merdeka itu bukan sekadar bisa teriak “Merdeka!” di podium, lalu pulang dengan kuping ditutup rapat macam pintu kamar kos yang nunggak bayar listrik. Merdeka itu—maaf ya— bisa jadi cukup punya kuping yang berfungsi. Karena punya kuping belum tentu bisa mendengar. Banyak dari kita termasuk elit, kupingnya sehat, tapi fungsinya sudah disewakan ke kepentingan pribadi. Kupingnya jadi kos-kosan, dihuni suara-suara sponsor, investor, dan bisikan kursi kekuasaan.
Pancaindra itu kan demokratis: mata buat melihat, telinga buat mendengar, mulut buat bicara. Kalau mulut jadi diktator, telinga pensiun dini, rusaklah republik tubuh ini. Demokrasi jadi cacat, macam kursi goyang yang kakinya patah satu: masih bisa dipakai, tapi siap-siap jatuh kalau dipaksa duduk lama.
Suara rakyat kecil itu jangan dijadikan barang antik di museum sejarah. Ia harus dijadikan barang sehari-hari di dapur - dipakai, dirawat, dan dijaga. Kalau tidak, dia akan memicu api dari sekam yang tersimpan di kompor gas/tungku.
Contohnya di Banda Aceh, Sabtu 15 Agustus 2026 kemarin. Doa bersama yang mestinya khidmat, berubah jadi kericuhan. Zikirnya masih ada, tapi suaranya kalah oleh teriakan protes.
Massa protes bukan karena kurang doa, tapi karena trauma bencana hidrometeorologi November 2025 lalu yang tak ditangani tuntas, ekonomi yang timpang, dan elit (lokal-pusat) yang sibuk menghitung kursi dan fee daripada mendengar kursi-kursi reyot di rumah rakyat. Akhirnya simbol negara dirusak, bendera lain dikibarkan. Rusuh pun jadi semacam doa alternatif: doa yang lebih jujur, meski kasar. Kalau doa biasanya pakai bahasa langit, kali ini doa pakai bahasa jalanan.
Aceh itu bagian dari Indonesia Raya, bukan museum konflik. Perdamaian bukan tanda tangan di Helsinki, tapi kerja harian: mewujudkan keadilan ekonomi, pengakuan budaya, komunikasi sehat. Rakyat kecil itu bukan patung lilin di Madame Tussauds, yang bisa dipajang tanpa bicara. Mereka manusia, punya suara, meski kadang lirih. Kadang harus didengar dengan alat rasa empati nurani.
Pojokan 318 : Merdeka Itu, Didengarkan!
Merdeka itu didengarkan, bukan dipamerkan. Elit harus belajar jadi pendengar, bukan sekadar orator. Gus Dur dulu bilang, “Dialog itu lebih kuat daripada kekerasan.” Gandhi, Mandela, Dalai Lama, semua sepakat: peluru kalah oleh kata-kata. Tapi elit kita masih percaya bahwa kata-kata itu hanya berguna kalau keluar dari mulut mereka sendiri. Padahal kata-kata rakyat kecil, meski sederhana, bisa lebih tajam daripada pisau dapur.
Jadi, wahai para elit (pun kita), jangan biarkan kekerasan (verbal) merampas ruang akal sehat. Belajarlah mendengar sebelum rakyat belajar berteriak. Karena kalau rakyat sudah berteriak, kuping Anda bisa jebol, dan demokrasi bisa ikut tuli. Jangan sampai republik ini berubah jadi konser heavy metal: suaranya keras, tapi pesannya kosong.
“Pemimpin itu harus bisa mendengarkan suara rakyat, mendengarkan keluh kesah rakyat, sebab suara mereka itu jujur,” kata Megawati Soekarno Putri.
Merdeka itu bukan sekadar teriak, tapi mendengar lirih suara rakyat. Kalau tidak, merdeka hanya jadi slogan di baliho, bukan kenyataan di dapur. Dan rakyat kecil akan berkata: “Belum Merdeka” seperti kata tukang cukur di Bogor - walau kemudian dia minta maaf.
Selamat HUT ke-81 RI. Merdeka itu bukan sekadar teriak, tapi mendengar. MERDEKA!!! (#Kang Marbawi, 170826)
