Pojokan 317: Gotongroyong, Bank Sosial Tanpa ATM

Kalau ada bank paling tua di negeri ini, jangan buru-buru sebut BRI atau Mandiri. Itu mah masih bayi dibandingkan dengan Bank Gotongroyong. Modalnya bukan duit, tapi keringat. Bunganya bukan persen, tapi rasa. Dan saldo tabungannya bisa dipakai seumur hidup—asal jangan pelit setor tenaga.
Gotongroyong itu jejak purba, warisan nenek moyang yang lebih tua dari fosil di Sangiran. Emile Durkheim sampai geleng-geleng kepala, menyebutnya mechanical solidarity. Macam garam di sayur asem: tak kelihatan, tapi kalau hilang, langsung hambar. Di kampung, gotongroyong bukan cuma urusan nyapu got atau ngecat pos ronda. Itu sebenarnya investasi sosial. Robert Putnam bilang, itu social capital. Bourdieu menimpali, itu symbolic capital. Kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi: siapa rajin ikut kerja bakti, otomatis naik gengsi. Yang absen, siap-siap dicap “warga ghosting”—ada nama di KTP, tapi tak pernah nongol di lapangan.
Homans dan Blau menyebutnya reciprocity. Bahasa kampungnya: hutang budi. Hari ini bantu angkat genteng rumah tetangga, besok kalau genteng rumah kita bocor, tetangga datang tanpa dipanggil. Gotongroyong itu semacam asuransi sosial tanpa polis, tanpa agen, tanpa iklan di televisi. Hebatnya, gotongroyong juga jadi senjata kaum lemah. Ia menolak logika kapitalisme yang serba “gue duluan”. Gotongroyong bilang: “Kalau cuma mikirin diri sendiri, silakan jadi patung di museum. Hidup di kampung butuh kesalingan.”
Di era digital, gotongroyong pun ikut upgrade. Dari kerja bakti fisik jadi kerja bakti daring: crowdfunding, galang dana online, patungan kuota buat zoom rapat RT. Bedanya, kalau dulu orang bawa cangkul, sekarang bawa link. Tapi intinya sama: solidaritas. Sayangnya, jejak purba ini mulai tergerus. Orang lebih rajin gotongroyong di group WhatsApp ketimbang di gang rumah. Lebih cepat share link ketimbang nyapu selokan. Kalau begini terus, jangan-jangan nanti gotongroyong tinggal jadi nama jalan di komplek perumahan.
Padahal, gotongroyong itu bukan cuma soal bersih-bersih. Ia adalah ritual sosial. Ada yang datang bawa cangkul, ada yang bawa sapu, ada yang bawa cerita gosip terbaru. Di situlah kepercayaan komunal dibangun. Orang jadi tahu siapa tetangganya, siapa yang suka ngeles, siapa yang rajin, siapa yang cuma datang buat foto lalu kabur. Semua itu melahirkan prestise sosial. Yang rajin kerja bakti, namanya harum. Yang malas, namanya tenggelam.
Gotongroyong Lebih Hebat dari Seminar Motivasi
Kalau dipikir-pikir, gotongroyong itu lebih hebat dari seminar motivasi. Ia mengajarkan bahwa hidup bukan soal “aku”, tapi soal “kita”. Ia menanamkan logika sederhana: kalau jalan gang bersih, semua enak lewat. Kalau got mampet, semua kebanjiran. Jadi, gotongroyong itu bukan sekadar kerja bakti, tapi perlawanan terhadap egoisme.
Sayangnya, di kota besar, gotongroyong sering kalah oleh logika kapitalisme. Orang lebih suka bayar tukang kebersihan ketimbang turun tangan sendiri. Lebih suka bayar satpam ketimbang jaga ronda. Akhirnya, gotongroyong jadi barang antik, dipajang di museum budaya. Padahal, gotongroyong itu jantung solidaritas sosial bangsa.
Hebatnya, gotongroyong juga jadi senjata kaum lemah. Ia menolak logika kapitalisme yang serba “gue duluan”. Gotongroyong bilang: “Kalau cuma mikirin diri sendiri, silakan jadi patung di museum. Hidup di kampung butuh kesalingan.”
Gotong royong adalah kearifan lokal altruistik yang seharusnya harus terus kita jaga, rawat, wariskan dan abadikan. Jantung solidaritas sosial masyarakat Indonesia.
Sebab dalam gotong royong sebenarnya ada perlawanan terhadap logika kapitalisme dan individualistik. Ia menjaga ruang komunal dari penetrasi pasar, sekaligus menjadi “senjata kaum lemah” untuk bertahan menghadapi ketimpangan. (#Kang Marbawi, 100826)
