Pojokan 324: Ah, Surya!

Pojokan 324: Ah, Surya!
Jabatan itu, kalau kata orang kampung, mirip kursi plastik di warung kopi: siapa cepat dia dapat. Tapi jangan salah, kursi jabatan tidak ada hubungannya dengan wajah ganteng atau profesi mentereng. Tengok saja Evo Morales dari Bolivia. Anak keluarga miskin, penggembala domba, yang kemudian bisa mengalahkan Gonzalo Sanchez de Lozada, Jorge “Tuto” Quiroga, dan Samuel Doria Medina.
Tahun 2005 ia duduk di kursi presiden, bukan kursi plastik warung kopi, tapi kursi yang bisa bikin oligarki keringat dingin. Sementara di negeri lain, kursi presiden bersanding dan disokong oligarkhi.
Lalu ada Joyce Banda dari Malawi. Perempuan sederhana yang jadi presiden pertama di negaranya. Begitu duduk di kursi, ia bukannya menambah koleksi mobil mewah, malah menjual jet presiden dan 60 mobil dinas. Uangnya dipakai beli pangan untuk rakyat miskin. Bayangkan, di negeri lain jet presiden dipakai buat gaya-gayaan, di Malawi jet presiden berubah jadi beras. Ini bukan satire kehidupan politik.
Indonesia pun punya stok tokoh sederhana. Agus Salim, diplomat yang tetap miskin meski sudah keliling dunia. Katanya, kalau makan di hotel mewah, ia tetap bawa nasi bungkus sendiri. Sutami, menteri termiskin didunia yang pernah kita punya, justru menghasilkan proyek nasional yang masih berdiri tegak sampai sekarang. Bayangkan, menteri miskin bikin jembatan kokoh, sementara menteri kaya sering bikin proyek yang roboh sebelum diresmikan.
Nah, cerita paling segar datang dari Desa Mekarwangi, Cikarang Barat. Surya bin Samid (46), pemilah sampah, tiba-tiba jadi kepala desa. Ia mengalahkan petahana Subur Rustadi dengan selisih tipis 92 suara. Surya dapat 4.107 suara, Subur 4.015. Tipis sekali, tapi cukup untuk bikin oligarki desa tersedak kopi sachet.
Surya ini wajahnya biasa-biasa saja, profesinya pemilah sampah, finansialnya pas-pasan. Tapi justru di situlah letak keajaiban politik. Teori incumbency effect yang biasanya membuat petahana menang telak, di Mekarwangi malah ambruk. Petahana yang punya dana, jaringan birokrasi, dan patronase elit, kalah oleh tukang sampah yang hanya punya kejujuran dan kedekatan sosial.
Sudah lumrah di negeri ini, dari pemilihan RT sampai presiden, suara rakyat sering dianggap bisa dibeli dengan uang, sembako, atau janji proyek. Tapi warga Mekarwangi membalik logika itu. Mereka memilih Surya bukan karena amplop, tapi karena integritas. Surya dianggap jujur, sederhana, dan dekat dengan warga. Pilihan ini adalah koreksi politik: jabatan bukan jaminan kualitas kepemimpinan.
Kemenangan Surya adalah pesan keras: anti-oligarki bisa lahir dari desa. Surya bukan bagian dari elite lokal, ia justru antitesisnya. Warga Mekarwangi membuktikan bahwa mereka tidak tunduk pada dominasi modal. Mereka berani memilih figur yang merepresentasikan mereka, bukan yang sekadar punya baliho besar. Pilihan warga kepada Surya, bisa jadi representasi ketidakpercayaan kepada pemimpinnya.
Surya bin Samid adalah anomali politik. Tukang sampah yang diremehkan, dihina, tapi berani melawan status quo. Ia adalah simbol keberanian dan perlawanan terhadap patronase serta oligarki. Ia membangun desa bukan dengan kekuatan finansial, tapi dengan solidaritas sosial. Kapital sosial, kesederhanaan, kejujuran, pun integritas mengalahkan kapital finansial.
Di Mekarwangi, gajah yang berduit tersandung oleh semut yang berdaulat. Petahana kalah bukan karena kurang baliho, tapi karena warga sudah bosan jadi penonton sirkus oligarki. Surya, si tukang sampah, justru jadi pembersih sampah politik desa. Ia menyapu bersih patronase, menyingkirkan oligarki, dan membuktikan bahwa kursi kepala desa bisa ditempati oleh orang yang lebih tahu harga beras ketimbang harga baliho.
Namun, jangan terlalu cepat bersorak. Fenomena Surya bisa jadi hanya kilatan sesaat. Tahun 2029, otoritarianisme dan incumbency effect mungkin kembali berjaya. Oligarki tak akan rela dikangkangi kesederhanaan, kejujuran, dan solidaritas sosial. Bagi mereka, kekuasaan adalah tujuan utama, persetan nurani, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi rakyat.
Ah, Surya! Engkau adalah satire hidup: tukang sampah yang justru membersihkan desa dari sampah politik. Tapi apakah semut akan terus menang melawan gajah? Atau jangan-jangan, gajah sudah menyiapkan kursi plastik baru di warung kopi politik, siap patah lagi di bawah bobot oligarki?
(Kang Marbawi, 270926)
