Pojokan 322: Sosiologi Minyak Telon

Bau minyak telon menyeruak dari tubuh anak lanang ku yang baru berumur 4,5 tahun. Lendotan tubuhnya ketika di pangku atau nangkring di pundak ku menjadi kebahagiaan yang tak terkira. Bau minyak telonnya ibarat parfum politik: lembutkhas, dan bikin orang tua merasa jadi caleg -calon legislatif tunggal di dapil -daerah pemilihan, rumah tangga.
Celotehnya tentang apa pun ketika kami berjalan bersama ke sawah adalah bisikan yang indah. Ocehan berbalut imajinasi liar khas anak-anak yang kirana -bagus, tentang kumbang, burung pipit, kali dan sawah yang mengering menjadi bahan pembicaraan antara kami -ayah dan anak. Pertanyaan kenapa sawah kering, penjelasan padi adalah mula dari beras, dimasak menjadi nasi yang dikonsumsi, petani yang menggarap sawah, pendapatan mereka yang tak seberapa dan kesederhanaan hidup serta menghargai kehidupan, menjadi bagian dari obrolan kami. wicara yang meloncat ke sana ke mari, dan justru itu yang membuat keindahan dari percakapan polos ala anak lanangku. Sesekali kami sapa Mang Ono - satu-satunya pemilik terakhir kerbau di kampung kami.
Terkadang memang ada masanya dia merajuk meminta atau memaksa sesuatu. Saat itulah kami belajar dari dia bagaimana berkompromi dengan lembut namun tetap ada batas yang disepakati. Dia belajar bagaimana menyelesaikan pertengkaran khas anak-anak dengan temannya di raudhatul atfal (taman-kanak-kanak-TK). Semua adalah “rapat paripurna” kecil yang mengajarkan kompromi, berbagi, dan kadang voting ala rebutan mainan. Dunia anak adalah keceriaan.
Kadang ku ajak dia mengeksplorasi lingkungan sekitar, melihat anak-anak kecil seusianya yang terpaksa bertarung di jalanan untuk hidup. Menggendong karung atau membawa bekas bungkus chiki, memulung atau mengamen. Ku tanamkan nilai dengan bahasa sederhana dan dipahaminya, bahwa kebersyukuran mu harus kuat dan itu ditorehkan dengan kerja keras, belajar dan membantu sesama - kelak.
Sebelum tidur pun, tingkahnya membuat kami senang dan kadang bikin kesel-sayang. Selepas pelbagai tutur cerita, dia berimprovisasi menumpuk bantal ditutupi selimut, menjadi kemah. Memaksaku terlibat dalam imajinasi berkemah dan permainan bayangan -menggunakan sinar hand phone (HP), tentang buaya, kancil, kelinci, atau dinosaurus. Padahal mata ini sudah sangat ngantuk.
Dunia anak memang penuh fantasi: ia melatih kreativitas, problem solving dan kemampuan sosial. Kalau orang tua ikut nimbrung, itu bukan sekadar family time, tapi investasi psikologis: anak belajar bahwa imajinasinya dihargai, bukan ditertawakan.
Obrolan tentang sawah kering, petani yang hidup sederhana, sampai anak-anak seusianya yang harus memulung, adalah pendidikan kelas lapangan. Anak belajar bahwa dunia tidak hanya berisi mainan di TK, tapi juga ketidakadilan sosial. Di sinilah orang tua jadi “kurikulum berjalan”: menanamkan nilai syukur, kerja keras, dan solidaritas. Kalau di kampus ada mata kuliah Sosiologi Pedesaan, maka di pundak ayah ada mata kuliah “Sosiologi Telon”—lengkap dengan bau khas minyaknya.
Ah! pokoknya, waktu bersama anak lanang ku adalah waktu terindah dan yang paling ku tunggu.Sebab beberapa tahun mendatang, dia akan menjadi pribadi yang lain yang bisa jadi sulit untuk ku sentuh. Dia akan memiliki kehidupannya sendiri. Kehidupan yang aku takutkan, kehidupan di dunia maya dan peer groupnya. Yang bisa jadi memiliki garis demarkasi sendiri yang tak bisa kami lewati. Orang tua hanya dianggap ATM berjalan, sementara identitas mereka dibentuk oleh like, share, dan followers. Secara psikologis, masa remaja memang ditandai dengan pencarian identitas dan kebutuhan akan pengakuan peer group. Kalau orang tua tak siap, bandara bisa ditinggalkan, rajawali sibuk transit di cloud. Itu yang kami hawatirkan!
Maka kami maksimalkan masa-masa emas usianya untuk dekat dengan kami. Ku tanamkan nilai kesederhanaan, kebaikan dan keadaban serta rasa welas asih kepada sesama. Kami syukuri itu. Sebab bisa jadi, banyak orang tua lainnya yang menginginkan hal yang sama -kebersamaan dengan keluarga, namun tak bisa. Karena harus berjuang memerdekakan dirinya dari himpitan hidup. Sehingga celoteh indah anak-anaknya tergantikan dengan peluh, karung dan bekas bungkus chiki di tangan.
Dan bukan berarti dompet kami sudah merdeka! Kami pun masih berjuang membebaskan “Patimura” dari dompet kami. Kami masih mengejar “Soekarno Hatta” agar rela berhimpitan dan berlama-lama di dompet kami. Patimura selalu setia nongkrong, sementara Soekarno-Hatta sering kabur entah ke mana. Kalau ada lomba ketahanan, Patimura pasti juara bertahan.
Biarkan kami saja yang tahu getirnya perjuangan ini. Bersama anak lanang kecilku, kami merasa merdeka: merdeka dari kesepian, merdeka dari rutinitas, merdeka dari politik uang. Dan kalau dompet orang tua penuh Patimura, itu bukan tanda miskin, tapi tanda perjuangan.
Ya sudahlah, biarkan kami saja yang tahu getirnya perjuangan ini nak! Bersamamu adalah kemerdekaan kami, kebahagaiaan kami. Perjuangan kami adalah mewujudkan masa depanmu yang lebih mapan; akhlak, ilmu, wawasan dan ekonomi! Dan tentu tawamu nak! Itu kemerdekaan sejati kami - para orang tua.
