Pojokan 326: “Ini Duniaku”

Pojokan 326: “Ini Duniaku”
Di mata anakku yang baru lima tahun, 74,01 kilogram emas hasil sitaan eks Jampidsus hanyalah logam dingin yang tak bisa diajak bercakap. Ia lebih memilih puzzle lego yang berserakan di lantai sebagai harta karun sejati. Balok-balok kecil itu adalah republik imajinasinya, dengan konstitusi sederhana: jangan disentuh kecuali oleh teman-temannya. Konstitusi itu adalah garis demarkasi dunianya.
“Ini duniaku, itu dunia abi-umi,” katanya dengan wajah penuh kemenangan, seolah sedang mendeklarasikan kemerdekaan dari segala intervensi orang dewasa. Lego itu bukan sekadar mainan, melainkan simbol dunia yang masih murni, ceria, penuh imajinasi. Di mata anak-anak, lego adalah blueprint masa depan: jika balok yang diberikan penuh warna, mereka bisa membangun istana; jika baloknya retak, bangunan mudah runtuh.
Sampai John Dewey tersenyum getir dari balik buku Democracy and Education. Ia menegaskan, pendidikan adalah proses rekonstruksi pengalaman. Lego adalah metafora paling sederhana dari rekonstruksi itu: anak merakit masa depan dari kepingan pengalaman sehari-hari. Paulo Freire menambahkan, pendidikan mestinya praksis pembebasan, bukan reproduksi kekerasan. Namun, apa yang terjadi di Pemalang justru sebaliknya.
Seorang siswa kelas II SD Kebondalem merakit dunianya dengan balok ejekan dan pukulan. Bangunan kecil itu runtuh sebelum sempat jadi rumah. Korban bullying yang tewas adalah bukti bahwa lego sosial kita cacat: sekolah yang mestinya jadi arena bermain aman malah kadang jadi bengkel kekerasan.
Dorothy Law Nolte sudah lama mengingatkan: “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar menyalahkan. Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar menyayangi.” Sajak itu adalah manual lego kehidupan. Apa yang kita titipkan pada anak, itulah bentuk bangunan yang mereka rakit. Tetapi di Pemalang, manual itu dirobek-robek. Anak yang mestinya merakit jembatan persahabatan justru dipaksa membangun menara dendam.
Sekolah sebagai benteng mestinya kokoh, tapi ternyata ada celah di gerbang belakang. Jam istirahat yang mestinya penuh tawa malah jadi jeda rapuh. Kamar kecil sebagai lorong sunyi berubah jadi arena kekerasan, seperti sudut gelap dalam kota lego yang tak pernah diberi lampu. Pengawasan sekolah adalah lampu jalan: jika lampu padam, jalanan jadi rawan. Begitu pula pengawasan yang lemah: anak-anak berjalan dalam gelap, dan satu di antaranya tersandung hingga tak bangun lagi.
Pojokan 326: “Ini Duniaku”
Bangunan sekolah tampak megah dari luar, tetapi di sudut sepi depan kamar kecil, ada balok yang retak dan runtuh, merenggut nyawa seorang anak. Pelaku dan korban sama-sama balok rapuh yang membutuhkan rakitan kasih sayang dan bimbingan. Ruang kelas-sekolah, harus dikembalikan fungsinya sebagai rahim kebudayaan yang melahirkan generasi bangsa yang beriman kuat, humanis, inklusif, kritis, ramah, empati dan bertanggungjawab. Sebab di luar kelas, adalah ring kehidupan yang mengajarkan sebaliknya. Namun, sistem pendidikan kita lebih sibuk menghitung angka ujian ketimbang menghitung luka di hati anak-anak.
Bangsa ini rajin merakit lego demokrasi di gedung parlemen, tapi lupa menaruh lampu di kamar kecil sekolah. Para pejabat sibuk menimbun emas, sementara anak-anak kehilangan kesempatan merakit dunianya. Kalau begini, jangan salahkan kalau bangsa ini kelak hanya punya bangunan besar bernama Museum Keserakahan, dengan koleksi utama: lego retak dan anak-anak yang tak sempat dewasa.
Pemalang adalah realitas pahit. Kita sedang membangun masyarakat dengan balok-balok yang retak. Jika tidak segera diganti dengan balok kasih, empati, dan pengawasan, maka bangunan bangsa ini akan terus roboh di atas tubuh anak-anak yang menjadi korban.
Masa depan bukan ditentukan oleh batangan emas di brankas, melainkan oleh balok lego yang dirakit dengan kasih sayang. Dan anakku sudah memberi pelajaran sederhana: “Ini duniaku.” Kalimat itu adalah manifesto kecil, lebih berharga daripada 74 kilogram emas. Ia mengingatkan kita bahwa dunia anak-anak bukan sekadar mainan, melainkan fondasi bangsa. Jika kita lalai menjaga lego mereka, maka yang runtuh bukan hanya bangunan kecil di Pemalang, melainkan seluruh rumah besar bernama Indonesia. (Kang Marbawi)
