Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 325: “Nu Salawase, PBNU Sacukupe”

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|15:58 WIB
Bagikan:
Pojokan 325: “Nu Salawase, PBNU Sacukupe”
Kang Marbawi.

Pojokan 325: “Nu Salawase, PBNU Sacukupe”

Pas betul judul lagu dangdut Vety Vera “Sedang-Sedang Saja” era 90-a dengan ungkapan “NU Salawase, PBNU Sacukupe” (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Macam kunci ketemu gembok, bunyi klek nya itu loh yang pas banget. Pesan moralnya: jangan kebanyakan micin, nanti darah tinggi. Begitu pula NU, jangan kebanyakan PBNU, nanti jamaahnya bisa hipertensi sosial. Sebab yang serba terlalu akan bikin sakit kepala, kata Vety.

Narasi “NU Salawase, PBNU Sacukupe” menjadi titik balik membaca ulang relasi jam’iyyah (organisasi) dengan jama’ah nya. Narasi ini datang dari pengajian jamaah musolah kampung. Ia muncul bagai sandal jepit hilang yang tiba-tiba nongol di selasar mushola, bikin heran tapi tetap dipakai. Slogan ini hadir tak lepas dari dinamika pasca penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, akhir Agustus 2026 lalu.

Tak ada yang mendeklarasikan secara formal sebagai manifesto resmi macam pernyataan kritis para pendemo mengutuk bencana ekologi dan kebakaran hutan yang tak kunjung tertangani dengan baik. Narasi ini lahir secara organik sebagai bentuk slang kultural yang menjadi ciri khas di NU. Kritik satir ini, merespon dinamika jamiyyah yang dianggap tak independen dan selalu terdistorsi kepentingan elit (internal-eksternal). Sifatnya adalah produk kolektif dari kesadaran kritis kultural, yang disuarakan nahdliyin.

Pesan dari tuturan ini, menandakan ada jarak antara nahdliyin dan elit PBNU. Antara NU sebagai civil society yang berakar pada pesantren, jamaah dan tradisi lokal dengan sentralisasi kekuasaan pada PBNU. NU yang plural-kultural seolah-olah direduksi hanya menjadi elit pusat di PBNU. 

Menjambret pikirannya Habermas, nahdliyin itu ruang publik diskursif (kritis, aspiratif dan dinamis), sementara PBNU cendrung terjebak logika polirik praktis. Melahirkan jarak antara “NU sebagai jam’iyyah” dan “NU sebagai institusi elit”. “NU itu tidak bisa direkduksi menjadi PBNU”, katanya. 

Pas betul omongannya sosiolog Jerman ini. Memang mahkul yang namanya sosiolog itu macam tukang parkir. Rela berpanas-panas, tak ikut belanja, tapi sibuk mencatat siapa masuk, siapa keluar, siapa rebutan lahan parkir, siapa pedagang-pembeli yang cerewet. Selain itu, mereka juga rela mengerutkan kening hanya untuk memlototi tingkang polah sosial manusia.

Setali tiga uang macam sandal jepit kiri dan kanan. Pikiran Habermas ini dengan Vilfredo Pareto- orang Itali, kalau ini terjadi, dia akan menyebut PBNU hanya sirkulasi elit yang terus berganti namun struktur dominasi tetap sama.

Peran civil society-nya NU tergadai oleh politik akomodatif dan pragmatismenya -elit PBNU, terhadap kekuasaan-penguasa. Hingga akhirnya melemahlah kekuatan penyeimbang, warisan kritisnya Gus Dur, kalah dengan pragmatisme penerusnya. Semakin jauh saja, NU yang berdaulat, kritis sekaligus mitra strategis negara. Sejatinya NU itu pemain utama penguatan masyarakat sipil.

Jika pragmatisme elit NU terjadi, jangan salahkan jika jama’ah yang berjuta-juta hanya menjadi penonton yang sorak-sorai di pinggir lapangan. Padahal mereka membayar karcis untuk melihat pemain tunggal elit PBNU di lapangan. Jangan sampai NU bisa berubah jadi ‘Persatuan Bola Nahdlatul Ulama’: yang main elit, yang sorak sorai jamaah. Padahal NU itu salawase, bukan sacukupe.” Gus Dur dulu jadi wasit moral, sekarang wasitnya pragmatis, asal pertandingan jalan.

Pesan yang ditangkap dari narasi ini jangan terjadi fenomena sentralisasi organisasi yang berpotensi mengabaikan dinamika sosial (aspirasi, kritik dan kebutuhan) di akar rumput jamaah. Akhirnya NU kehilangan fungsi deliberatifnya sebagai civil society. Narasi ini mengingatkan bahwa NU tidak boleh berhenti pada “sacukupe PBNU”, melainkan harus menegaskan kembali peran jamaah sebagai sumber legitimasi.

Tuturan ini juga menyoroti dilema: apakah NU akan tetap kritis terhadap negara atau lebih pragmatis sebagai mitra. Dipucuk lidah Antonie Gramsci menyebutnya NU penting menjaga hegemoni moral-kultural bukan hegemoni elit. Yang terakhir ini hanya hegemoni yang sekadar legitimasi politik praktis, bukan kekuatan moral yang membela rakyat kecil.

Maka menjadi klop lagunya Vety Vera, selama elit NU di struktural jamiyyah menunjukkan pragmatismenya, khidmah jama’ah pun akan “Sa’cukupe” saja. Tapi khidmah kultural-moral ke NU di akar rumput itu “Sa’lawase”

“Yah.. kita mah kembali ngurus jamaah saja, ngurusin kifayah jenazah saja, dan ngurusin mushola. Terserah PBNU mau ke mana,” kata Jabehero, salah satu nahdliyin dari Banjar, Kalimantan Selatan. Seloroh nyata dari “NU Salawase, PBNU Sacukupe” 

Dan ada baiknya NU “cek toko sebelah” yang punya cabang dan aset di berbagai belahan dunia, tapi tak ribut siapa yang jaga kasir.

Tokonya NU itu sebenarnya sudah kayak warung kopi-caffe pinggir jalan yang laris manis. Pembelinya antre, kursinya penuh, bahkan tukang parkirnya sampai bingung ngatur motor jamaah. Di warung NU ini yang diributi bukan soal rasa kopi, tapi soal siapa yang jaga kasir. Padahal kopinya sudah enak, gorengannya sudah laku, tinggal kasirnya saja yang kadang sibuk selfie sambil lupa ngitung kembalian. (Kang Marbawi, 031026)  

Berita Terbaru

3 Curug Tersembunyi Subang yang Mudah Diakses dan Trek Tak Terlalu Panjang

3 Curug Tersembunyi Subang yang Mudah Diakses dan Trek Tak Terlalu Panjang

Lifestyle1 jam lalu
Pojokan 325: “Nu Salawase, PBNU Sacukupe”

Pojokan 325: “Nu Salawase, PBNU Sacukupe”

Opini1 jam lalu
Andrew Mandala Apresiasi Becak Listrik Bantuan Presiden, Dorong Pengayuh Becak Semakin Produktif

Andrew Mandala Apresiasi Becak Listrik Bantuan Presiden, Dorong Pengayuh Becak Semakin Produktif

Subang1 jam lalu
Tegar Jasa Priatna: 200 Becak Listrik Jadi Bukti Perhatian Presiden kepada Pejuang Nafkah di Subang

Tegar Jasa Priatna: 200 Becak Listrik Jadi Bukti Perhatian Presiden kepada Pejuang Nafkah di Subang

Subang1 jam lalu
ADVERTISEMENT
200 Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Dibagikan Gratis untuk Pengayuh Becak di Subang

200 Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Dibagikan Gratis untuk Pengayuh Becak di Subang

Headline1 jam lalu
Andhika Apresiasi Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo, Dorong Pengayuh Becak Tingkatkan Ekonomi Keluarga

Andhika Apresiasi Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo, Dorong Pengayuh Becak Tingkatkan Ekonomi Keluarga

Headline1 jam lalu
Persib dan Borneo FC Jadi Wakil Indonesia di ACC 2026/2027, Misi Besar di Level ASEAN!

Persib dan Borneo FC Jadi Wakil Indonesia di ACC 2026/2027, Misi Besar di Level ASEAN!

Olahraga5 jam lalu
Jalan Kabupaten Penghubung Tanjung Tiga-Batangsari Subang Sepanjang 272 Meter Selesai Diperbaiki

Jalan Kabupaten Penghubung Tanjung Tiga-Batangsari Subang Sepanjang 272 Meter Selesai Diperbaiki

Headline5 jam lalu
Dedi Mulyadi Buka Suara soal Polemik Pusat Data AI Jatiluhur

Dedi Mulyadi Buka Suara soal Polemik Pusat Data AI Jatiluhur

Jawa Barat6 jam lalu
Gaji PT SUAI Subang 2026, Operator Produksi Bisa Bawa Pulang Berapa Juta?

Gaji PT SUAI Subang 2026, Operator Produksi Bisa Bawa Pulang Berapa Juta?

Subang6 jam lalu